“Jadi, itu benar rupanya.” Jeanna menghela napasnya.
“Kau tak perlu khawatir seperti itu, putraku itu kuat ia akan baik-baik saja, percayalah.”
Rupanya Queen Azura ingin membicarakan hal tersebut dengan Alaric tadi, namun niatnya ia urungkan saat dirinya malah bertemu dengan Jeanna.
“Apa harus dengan cara berperang? Apa tidak bisa jika dibicarakan baik-baik?”
“Tentu saja itu sudah kelewatan sayang, apa kau tahu yang mereka perbuat?” Jeanna menggeleng tak tahu.
“Mereka telah menghabisi nyawa yang tak berdosa, mereka licik, penuh tipu daya, bahkan mereka menentang peraturan yang dibuat untuk kami para makhluk immortal.”
“Peraturan? Apa ada peraturan juga? Kukira hanya di duniaku.” Jeanna tertawa kecil.
“Tentu saja ada, kami para makhluk immortal dilarang keras untuk mencampuri urusan manusia. Mungkin beberapa dari kami akan ikut campur, tapi itu hanya berlaku untuk keadaan tertentu.”
Jeanna mengangguk, sekarang ia mengerti. Namun Jeanna kembali mengingat sesuatu, jika demikian, kenapa para vampir itu juga mulai berani melakukan aksinya di tempat kelahirannya? Jika benar begitu, berarti teman-temannya dalam bahaya.
“Apa yang kau lamunkan Je?”
“Ah bukan apa-apa.”
“Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, ini sudah malam. Istirahatlah.”
“Kalau begitu aku akan ke kamarku...”
“Tunggu sebentar!” Jeanna melihat Queen Azura tengah berjalan ke arah sebuah lemari.
Rupanya ia mengambil sebuah syal berwarna coklat pastel, Queen Azura melilitkan syal tersebut di leher Jeanna.
“Kau harus memakai ini sampai kau tiba di kamarmu!” Jeanna mengernyitkan dahinya, memangnya kenapa dengan dirinya.
“Aku tak percaya akan hal ini, tapi sepertinya putraku mulai nakal padamu.” Jeanna semakin dibuat bingung saat Queen Azura tersenyum geli.
“Kau lihat sendiri saja nanti di cermin,” ujarnya seakan memberi jawaban atas kebingungannya.
“Baiklah aku akan ke kamarku sekarang” Queen Azura mengangguk iya.
___________
Jeanna sampai di depan kamarnya, ia segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
“Kenapa juga gue disuruh ngaca, apa muka gue aneh ya barusan?”
Jeanna berjalan ke arah cermin besar di kamarnya, ia memperhatikan dirinya sendiri dengan seksama, dari atas hingga bawah. Apa yang salah dengan dirinya? Ia tak nampak aneh!
“Gak ada yang aneh kok, malahan gue cantik malem ini hehe...” Ujarnya dengan Pd, ia pun melepaskan syal yang Queen Azura berikan padanya.
Jeanna hendak berjalan ke arah tempat tidurnya, namun saat ia melirik ke arah cermin besar di hadapannya langkahnya terhenti begitu saja. Ia menyadari satu hal, ada bekas ungu kemerahan di lehernya.
“Eh, perasaan gue gak punya alergi makanan tapi kenapa ini merah me-”
Ya, Jeanna teringat akan satu hal yang membuat dirinya merinding seketika. Ia panik dan juga malu, sepertinya bekas kemerahan di lehernya ini akibat ulah Alaric sore tadi.
“Aduh bego banget gue, kenapa baru inget sii, ini pasti gara-gara itu...” Wajah Jeanna memanas saat ia kembali mengingat kejadian tadi.
“Malu banget gue, pake acara keciduk sama mama mertua lagi, mau taro di mana muka gue!”
Jeanna benar-benar malu, pantas saja sejak tadi Queen Azura melirik ke arah lehernya. Rupanya ini yang ia maksud, ia tak bisa membayangkan jika nanti dirinya kembali bertemu dengannya. Sungguh, Jeanna sangat malu!
“Ini gimana cara ngilanginnya?!” ujarnya seraya menggosok bekas kemerahan itu.
“Duuh malah makin merah lagi, emang kurang ajar tu anak, gue juga kan yang nanggung malu.” Ia tengah menyumpahi sosok Alaric saat ini.
Jeanna menyerah, mungkin bekasnya akan menghilang beberapa hari kedepan. Untung saja Queen Azura memberikan syal ini padanya, mau tak mau Jeanna harus memakai syal setiap kali keluar kamar. Jeanna berjalan ke arah sofa, ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa tersebut.
Ia kembali teringat akan teman-temannya, bagaimana kabar mereka di sana, apa mereka semua baik-baik saja? Jeanna kembali mengingat perkataan Queen Azura, Jika benar para vampir itu mulai berkeliaran di tempatnya, berarti teman-temannya dalam bahaya.
Apa yang harus ia lakukan, apakah Jeanna harus mengabari mereka semua mengenai keadaan saat ini. Pastinya Sera akan sangat panik dan ketakutan, kedua teman lelakinya juga pasti tak akan menghiraukan ucapannya, mereka mungkin tak akan mempercayai ucapan Jeanna.
“Gue harus gimana...” Lirihnya.
____________
Perlahan Alaric membuka pintu kamarnya, ia ingin memastikan apakah Jeanna sudah tertidur. Ternyata gadis itu sudah tertidur, tapi yang membuat Alaric heran kenapa ia tertidur di sofa. Ia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah sofa.
Alaric berjongkok di depan sofa tersebut, tangannya mulai terulur menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Jeanna.
“Kenapa kau tidur di sini?” lirih Alaric seraya mengusap pipi Jeanna.
Dilihatnya gadis itu tengah bergumam dalam tidurnya seakan menanggapi perkataan Alaric barusan. Ia pun terkekeh, yah setidaknya sosok Jeanna ini bisa mengubah sikap dingin dan kejam dari seorang Alaric.
Alaric mencoba memindahkan tubuh Jeanna ke tempat tidur. Karena tak ingin membangunkannya, dengan sangat hati-hati Alaric mulai mengangkat tubuh Jeanna lalu berjalan ke arah tempat tidur. Setelah membaringkan tubuh Jeanna, Alaric ikut berbaring di sebelahnya.
Ia menarik tubuh Jeanna agar tertidur di dalam pelukannya, tanpa sadar tangan Jeanna ikut memeluk Alaric dengan erat seakan dirinya adalah sebuah guling. Menyadari akan hal itu Alaric tersenyum penuh, tangannya bergerak mengusap punggung Jeanna.
“Good night, jadikan aku mimpi indahmu,” bisiknya.
____________
Kini Jeanna tengah menyantap sarapannya bersama dengan Alaric, meja makan sebesar ini tampak sepi, tentu saja saat ini hanya ada mereka berdua.
“Ada apa, apa kau tak suka dengan makanannya?” menyadari Jeanna yang hanya memainkan sendoknya sejak tadi, akhirnya Alaric membuka suara.
“Aku suka, bahkan sangat!” ujarnya dengan tegas.
“Lalu kenapa sejak tadi hanya kau pandangi?”
Sejenak ia terdiam. “Ituu... bukan apa-apa.” terdengar sedikit keraguan dari nada bicara Jeanna.
Seakan tahu ada yang disembunyikan darinya, Alaric menyudahi kegiatan makannya, ia beralih menatap Jeanna dengan lekat.
“Katakan!” tegasnya.
Jeanna terdiam sesaat, ia ingin mengatakannya tapi disatu sisi Jeanna takut Alaric akan marah. Dengan penuh yakin akhirnya Jeanna membuka suaranya, namun pandangannya tak berani menatap ke arah Alaric.
“Aku, ingin pulang ke Indonesia.” Terdengar helaan napas kasar Alaric. Benar dugaannya, pria itu pasti akan marah setelah mendengar ucapannya.
»Jangan lupa Vote & Komennya ya thx u
{ 11-08-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
