Bag 16. Dekapan nyaman

40.1K 2.6K 8
                                        


Tempat ini begitu luas, sejak tadi dirinya berjalan, Jeanna hanya bisa terpukau melihat seisi ruangan ini. Benar-benar seperti sebuh istana. Jeanna terus melangkahkan kakinya hingga menaiki beberapa anak tangga, tunggu! Apa pria ini akan kembali mengurungnya di kamar itu?

“Apa aku akan kembali dikurung?” tanyanya saat mereka sudah berada di ujung anak tangga, namun karena Alaric yang tak kembali merespon, Jeanna menarik tangannya, ia pun menghentikan langkahnya.

“Dengar, aku benar-benar tak tahu tempat ini. Aku juga tak tahu siapa namamu dan apa tujuanmu membawaku kemari!” ia menghela napas sejenak.

“Kau bilang, aku ini milikmu? Dan kau menyuruhku untuk tetap di sini? What the hell is that! Aku benar-benar tak mengerti akan semua ini, lalu dengan seenaknya kau mengurungku di kamar itu. I’m bored, Did you know that!”

Mendengar hal itu Alaric mengusap wajahnya kasar, apakah jika dirinya menceritakan semuanya, maka Jeanna akan percaya padanya?

“Apa kau benar-benar ingin tahu?” tanyanya menantang, ia menghela napas kasar.

“Sudah kukatakan kau adalah milikku, kau adalah takdirku, belahan jiwaku. Dan tentu saja kau tak akan bisa pergi kemana pun, karena kau harus bersamaku!” tegasnya di akhir kalimat.

“Kau pasti sudah tahu siapa aku bukan? Yah, aku adalah seorang werewolf dan kau adalah mateku, kau adalah takdir yang telah moon goddes berikan padaku!”

Jeanna mencerna semua perkataan Alaric, apakah benar dirinya adalah pasangan Alaric. Apakah semua yang Alaric katakan itu benar? Apakah pria di hadapannya ini benar-benar sosok werewolf?

Meskipun demikian, Jeanna masih tak percaya jika pria di hadapannya ini adalah sosok werewolf yang di ceritakan oleh Olivia. Entah dapat keberanian dari mana, tiba-tiba Jeanna mengatakan hal yang tak seharusnya ia katakan.

“Kalau begitu, tunjukkan padaku jika kau benar-benar seorang werewolf!” Alaric terkejut mendengar perkataan Jeanna.

“Rupanya kau benar-benar tak percaya,” ucapnya seraya tersenyum sinis. “Kuharap kau tak akan lari setelah melihatnya.”

Alaric mundur beberapa langkah menjauhi Jeanna, ia memejamkan matanya, perlahan Rolf mulai mengambil alih tubuh Alaric. Jeanna melihat semua itu, suara retakan tulang itu membuatnya linu, ia melihat sosok Alaric perlahan berubah menjadi serigala.

Ternyata benar, sosok serigala yang pernah hadir dalam mimpinya, kini berada tepat di hadapannya. Jeanna terduduk lemas, ia benar-benar syok, ternyata semua itu benar, ia tak bisa mengelak lagi, apakah semua ini adalah takdirnya?

Jeanna terdiam, ia merasakan pusing pada kepalanya, dirinya terus berpikir mencerna semua yang terjadi begitu saja pada hidupnya. Yah, semua terasa begitu mustahil baginya. Tiba-tiba pandangannya meredup, Jeanna merasa tubuhnya sangat ringan, rasanya seperti ingin di jatuhkan.

Sebelum kepalanya menyentuh lantai, Alaric lebih dulu sigap meraih tubuh Jeanna ke dalam dekapannya. Ia langsung mengambil alih tubuhnya saat melihat Jeanna akan pingsan.

________________

Perlahan mata itu terbuka, Jeanna terbangun di sebuah ruangan, rupanya ia pingsan tadi. Saat ini ia tengah terbaring di sebuah sofa, tunggu, di mana lagi dirinya saat ini?

Ia memperhatikan sekitar ruangan, ini seperti ruangan kerja. Apakah werewolf juga memiliki pekerjaan? Jeanna melirik kesana kemari mencari sosok pria itu.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok yang tengah ia cari-cari. Alaric berjalan mendekat ke arah Jeanna dengan sebuah kotak P3K di tangannya. Lalu ia duduk tepat di samping Jeanna.

“Kenapa, apa kau takut padaku?” ujarnya ketika melihat Jeanna yang beringsut menjauh darinya. Alaric pikir Jeanna takut padanya setelah ia melihat wujud serigalanya tadi.

“T-tidak, hanya saja kau terlalu dekat!” ujar Jeanna, mendengar akan hal itu Alaric tersenyum simpul.

Sekilas Jeanna memperhatikan raut wajah Alaric, ada apa dengannya? Tumben sekali wajahnya terlihat seperti itu, biasanya wajah pria itu hanya datar tanpa ekspresi.

Dan dengan tiba-tiba, Alaric menarik tubuh Jeanna untuk duduk di atas pangkuannya. Seakan tubuhnya begitu ringan, Alaric mengangkat tubuh Jeanna dengan sangat mudah. Jeanna yang mendapat perlakuan seperti itu langsung terbelalak kaget. Ia mencoba melepas tangan Alaric yang kini melingkar sempurna pada pinggangnya.

“Kau ini apa-apaan–”

“Diam!” ucap Alaric dengan tegas, membuat Jeanna seketika terdiam menuruti perkataannya.

Tangan Alaric mulai terangkat menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahi Jeanna. “Aku tak akan marah jika kau menurut padaku mate,” ujar Alaric sambil menatap ke arah dahinya.

Ia mulai mengoleskan obat pada dahi Jeanna yang memar. “Panggil aku Alaric,” ujarnya lagi saat ia selesai mengobati Jeanna.

Alaric mengeratkan tangannya pada pinggang Jeanna, membawa gadis itu semakin dekat padanya. Menghirup lekat aroma matenya itu. Jeanna hanya terdiam pasrah, ia membiarkan Alaric mendekapnya saat ini.

Sepertinya ia juga menikmatinya, berada di pelukan Alaric membuat Jeanna sedikit merasa tenang, mungkin.

“Apa aku benar-benar pasanganmu?” akhirnya ia membuka suaranya.

“Kenapa? Apa kau masih ragu?” tanya Alaric yang kini beralih menatap Jeanna lekat.

“Bukan begitu. Hanya saja, aku berpikir mungkin kau salah orang.” Jelasnya.

“Aku tidak mungkin salah mate,” balas Alaric yang kini kembali membawa Jeanna kedalam pelukannya.

“Kami para werewolf diberikan insting untuk menemukan pasangan mereka.” Alaric mencoba menjelaskan kepada Jeanna.

“Bahkan bukan hanya werewolf, vampir pun sama seperti itu. Contohnya dua orang yang sempat menghalangi langkahku sewaktu di hutan tadi, wanita itu adalah vampir dan pria di sampingnya adalah matenya.” Sepertinya yang di maksud Alaric itu kakaknya dan Olivia?

“Mungkin saja vampir itu lebih dulu menemukan pria itu.” Lanjutnya.

“Berhenti memanggilnya seperti itu! Mereka punya nama.” Ujar Jeanna dengan nada tak suka.

“Ya baiklah.”

“Tapi, aku tak bisa melacak keberadaanmu jika kau menghilang dari pandanganku...” Ujarnya kembali membuka suara.

Jeanna menatap wajah Alaric yang terlihat sendu, Alaric pun balas menatap wajah Jeanna. Tangannya terulur membelai pipi gadis di hadapannya.

“Maka dari itu, tetaplah bersamaku, di sisiku. Aku tak akan membiarkanmu pergi jauh dariku!”

Kedua tangan Alaric menangkup wajah Jeanna, ia menarik Jeanna untuk lebih dekat dengannya. Jeanna tersadar, wajah mereka berdua saat ini begitu dekat, bahkan sangat. Tunggu, apa yang ingin ia lakukan, apakah Alaric akan menciumnya?


















OMG 😣
Gimana kelanjutannya ya

»Jangan lupa Vote & Komennya ya thx u

{ 21-07-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang