Bag 40. Second life

20.7K 1.4K 17
                                        

Tandain kalau ada typo ya guys :)

Jeanna kembali melangkah masuk ke dalam rumahnya setelah kepergian Alaric dan Bella. Ia berpapasan dengan Ben dan Victoria yang juga keluar dari rumahnya, sepertinya mereka akan pergi juga.

“Kukira obrolannya masih berlanjut,” ujar Jeanna.

Mereka berdua tersenyum ke arahnya. “Ada hal penting yang harus kita kerjakan Je, setelah itu kita akan kembali lagi,” jawab Victoria.

Jeanna mengangguk paham, Ben mendekat kearahnya, terlihat raut penyesalan di wajah pria itu. “Kukira dengan membawamu ke tempatku akan membuatmu lebih aman, tapi nyatanya kau malah melewati banyak hal. Maafkan aku Je, aku tak bisa menjagamu sepenuhnya.”

“Hey, kenapa kau berkata seperti itu?” ujarnya merasa heran akan ucapan Ben.

Ben tampak menghela napas sesaat, ia memegang bahu Jeanna. “Apa kau siap jika harus menjadi pasangan Alaric seutuhnya? Aku tak tau bahaya apa yang akan mendatangimu nantinya.”

Seakan mengerti kekhawatiran Ben dan yang lain, Jeanna mencoba meyakinkan semua orang yang berdiri di hadapannya ini. “Aku tau Ben, bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Jika ini memang takdir hidupku, yah, aku akan menerimanya meskipun aku sendiri tak tau bagaimana kedepannya,” ia melirik ke arah Stefen.

“Tapi aku percaya pada Alaric, kau tak perlu mengkhawatirkanku lagi Kak, apalagi mencoba untuk memisahkanku lagi darinya!” 

Stefen sedikit terkejut akan ucapannya, tapi sepertinya ia memang harus merelakan adik kesayangannya itu.“Iya, Kakak gak akan ngelakuin hal itu lagi,” ia menghela napas pasrah.

“Kita harus pergi sekarang juga Je,” Jeanna mengangguk ke arah Ben dan Victoria, mereka pun berlalu meninggalkan rumahnya.

Jeanna menyipitkan matanya. “Mereka berdua sibuk banget ya, kira-kira seharian ini ngapain sih?” gumamnya setelah kepergian sepasang kekasih itu.

“Mereka hanya ingin menemui seseorang Je, apa sekarang kau mencurigainya karena masalah itu?” tanya Olivia seakan tau apa yang tengah Jeanna pikirkan saat ini.

“Tentu saja tidak, aku hanya penasaran Oliv!” Olivia masih menatap lekat ke arahnya.

“Oh ayolah, apa sekarang kau malah mencurigaiku? Ini hari kelulusanku, kau sama sekali tak memberikan ucapan selamat padaku!” Jeanna mengerucutkan bibirnya.

Kali ini Olivia terkekeh. “Baiklah, selamat atas kelulusanmu Je dan sebaiknya kau mengganti seragam sekolahmu itu!”

Jeanna berdecak. “Iya-iyaa, aku akan menggantinya sekarang!” ia pun segera berjalan masuk.

____________

“Apa itu penting? Kau mengganggu waktuku dengan Jeanna hanya untuk membahas soal ini?” Bella hanya mengatur napasnya, mencoba menetralkan emosinya.

Sebenarnya ia sendiri malas untuk memberitahu Alaric beberapa hal mengenai manusia dan dunianya, lebih tepatnya peraturan di dunia manusi. Tapi kenapa susah sekali mengajari anak satu ini!

“Jangan kau pikir kau bisa hidup seenaknya di sini!” Bella menatap sinis ke arah Alaric. “Kau memang seorang Alpha di duniamu, tapi di sini kau bukan apa-apa jika tak mempunyai harta dan jabatan tinggi!”

“Yang benar saja, aku tidak sudi jika harus menggunakan kekayaanku untuk para manusia. Aku akan melakukannya dengan caraku!” ujar Alaric dengan enteng.

“Tidak! Kau tidak bisa melakukannya dengan caramu!” tentu saja, Bella tak mau Alaric membuat kekacauan di sini. “Manusia juga hidup dengan aturan yang telah dibuat, segala sesuatunya sudah diatur dan jika mereka melanggar tentu saja akan ada hukumannya.”

Alaric menaikkan satu alisnya. “Benarkah? Rupanya kehidupan di sini tak jauh beda seperti di duniaku,” ia merebahkan tubuhnya di sebuah sofa. “Aku jadi penasaran, bagaimana cara mereka menghukum orang-orang yang melanggar aturan?”

“Ituu, aku sendiri kurang mengerti. Semua jenis pelanggaran tertera dalam undang-undang. Perihal kejahatan apa saja dan hukuman yang akan diperoleh, tertera di sebuah buku.” Bella mengedikkan bahu, karena ia sendiri tak tahu banyak mengenai hal itu. “Yang aku tahu mereka akan masuk ke dalam sel tahanan setelahnya, yah kurang lebih sama seperti di dunia kita,” jelas Bella.

Mata Alaric melihat ke arah benda persegi panjang yang cukup besar, ia menunjuk ke arah benda tersebut. Berita harian yang menayangkan aksi kriminal dan sebuah tempat, yang mana itu adalah penjara. “Apa itu yang kau maksud dengan sel tahanan? Bagaimana bisa mereka memperlakukan para tahanan dengan sangat baik!” Alaric mendecih.

“Ya aku tahu penjaramu sangat berbanding terbalik jika dibandingkan dengan yang ini,” tentu saja Bella sangat mengetahuinya, sedikit sekali yang berhasil keluar dan bertahan hidup setelah masuk penjara bawah tanah yang ada di kastilnya. Tentu itu sangat berbeda dengan penjara di sini!

“Ekhemm, bahkan ada beberapa penjara yang menyediakan tempat tidur dan juga benda seperti itu,” ia menunjuk ke arah Televisi.

Alaric tertawa sinis. “Ah manusia memang makhluk menjijikan, itu juga yang membuatnya bebas melakukan apapun di sekitar perbatasan, dasar makhluk perusak! Hukuman seperti itu tak akan membuatnya jera. Makhluk tamak dan juga licik seperti mereka lebih cocok berada di penjara bawah tanahku!”

“Tapi tak semua manusia seperti itu!” ujar Bella seakan mengoreksi ucapan Alaric. “Beberapa di antara mereka bahkan membantuku selama aku tinggal di sini. Dan juga, pastinya kau tak melupakan siapa matemu!” ia menyipitkan matanya. “Dia juga manusia.”

“Aku tau, tapi gadisku pengecualian!” tegasnya. “Kalau begitu cepatlah, apa yang harus kulakukan sekarang?”

Bella menatap kesal ke arah Alaric.

‘Kenapa baru mengatakan sekarang! Dasar menyebalkan, jika saja aku bisa menggunakan kekuatanku sudah kucakar muka datarnya itu!’

Bella menghela napasnya sebelum kembali menjelaskan. “Dengar, ini semua kulakukan demi kehidupan Jeanna setelahnya. Tentunya kau tau jika dia adalah manusia seutuhnya, mungkin kau akan membawanya ke duniamu tapi ingat Alaric, dia punya keluarga di sini dan dia pasti akan kembali ke keluarganya walau hanya untuk sementara waktu. Dan yang perlu kau lakukan adalah... second life.

Alaric mengerutkan dahinya. “Iya! Setidaknya kau harus terlihat layaknya manusia. Punya pekerjaan, uang, tempat tinggal, kendaraan dan lain-lain. Kalau kau tidak punya semua itu, kau tidak bisa hidup enak layaknya di kastil dan jangan berpikir untuk menumpang hidup pada seseorang, terutama aku!”

Alaric memicingkan matanya. “Aku sendiri tak sudi jika terus tinggal bersamamu!” sarkasnya, Bella nampak menatap tajam ke arah Alaric “Lalu setelahnya bagaimana?” sambung Alaric.

Bella terdiam sesaat sambil menghela napasnya. “Seharusnya kau berterimakasih padaku, karena aku telah membantumu sejauh ini. Kalau bukan dengan bantuanku, mungkin kau akan kesusahan menemukan pujaan hatimu itu atau bahkan kau tak akan bertemu dengan Jeanna lagi,” sindirnya.

“Ya baiklah, aku akan memberikan beberapa emas dan berlian untukmu, sebagai imbalan.” Ujarnya seraya menunjuk ke arah Bella.

Bella memutar bola matanya malas. “Terserah,” ia terlalu lelah untuk berbicara dengan pria satu ini, jadi lebih baik ia segera menyelesaikan persoalan satu ini.

“Kusarankan agar Edward yang menyelesaikan semua ini, di mana betamu itu?”

“Dia sedang tidak bisa diganggu, semua urusan pack ada ditangannya saat ini,” ujar Alaric santai.

Bella menganga tak percaya. “Lihat! Kau bahkan membebaninya dengan tugas-tugasmu itu?” Alaric mengedikka bahunya acuh. Bella tak kuat lagi, ia memijat pelipisnya untuk menghilangkan pening. Tentu saja jika sudah begini hanya dirinya yang bisa menyelesaikan persoalan ini, Bella hanya bisa memaki Alaric dalam hati.







Wah makin penasaran ga nih sama kelanjutannya?

»Jangan lupa Vote dulu guys, Follow aku juga ya biar aku makin semangat update cerita barunya 😣

{ 31-10-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang