Bag 39. Belati perak

20.6K 1.5K 11
                                        

Tandain kalau ada typo ya guys :)

Jeanna membawa Alaric menuju pekarangan rumahnya, ia berjalan ke arah kursi di dekat taman bunga.

“Ada apa?” tanya Alaric yang kini ikut duduk di samping Jeanna.

Jeanna berdehem sesaat. “Emmh, kita tunggu di sini saja sampai mereka selesai bicara.” ucapnya sedikit gugup.

Alaric mengerutkan dahinya tak suka. “Apa kau bercanda? Aku ingin tahu apa saja yang mereka bicarakan!” balas Alaric dengan nadanya yang terdengar sedikit marah.

“Apa kau lebih mementingkan itu dari pada keberadaanku saat ini?” ucap Jeanna cepat saat melihat Alaric bangkit dan hendak melangkah meninggalkannya.

Pria itu menoleh ke arah Jeanna lalu kembali duduk di tempatnya, ia memerhatikan Jeanna yang kini menghindari tatapannya. “Apa maksudmu?”

Jeanna tak menjawab, ia bingung bagaimana cara menjelaskan soal ucapannya barusan karena ia sendiri hanya asal bicara. Melihat Jeanna yang masih terdiam, Alaric meraih kedua tangan Jeanna agar gadis itu menoleh ke arahnya.

“Aku hanya ingin mengetahui semuanya, tolong mengertilah! Aku tak bermaksud untuk menghiraukanmu,” ujar Alaric dengan begitu lembut.

“Ya, aku tau. Tapi emosimu itu mengacaukan pembicaraan mereka Alaric!” timpa Jeanna. “Lagi pula kau bisa bertanya pada Bella nanti jika ingin tau,” lanjutnya.

Alaric menghela napas sesaat. “Baiklah, jadi apa yang ingin kau katakan padaku?”

Sebenarnya Jeanna hanya pura-pura soal dirinya yang ingin mengakatan sesuatu pada Alaric. “Hmm itu soal...” Alaric tampak menunggu ucapannya “Bisakah kau lepaskan tanganku dulu,” ujarnya beralasan.

Alaric melepas genggaman tangannya pada tangan Jeanna, ia beralih merangkul dan menarik pinggang Jeanna agar lebih dekat dengannya. Tentu saja Jeanna terkejut saat Alaric menariknya hingga membuat tubuhnya begitu dekat dengan pria ini.

_____________

“Lalu bagaimana keadaan setelahnya, apakah Lazarus berhasil dibunuh?”
Bella menggeleng ke arah Ben. “Dia berhasil kabur dengan sisa pasukannya, dan soal Lucius--”

“Tak ada ritual pembangkitan, berarti dia masih berada di peti itu dan harus menunggu bulan purnama merah selanjutnya,” sela Olivia.

Bella mengangguk. “Aku mengambil belati yang menancap di dadanya,” ia mengeluarkan sebuah belati yang dibalut kain hitam dari saku jaketnya, hal itu membuat yang lain terkejut. “Awalnya aku mengambil benda ini untuk melawan anak buah Lazarus, rupanya benar ini belati milik ayahku.” Bella menghela napasnya.

“Apa kalian tahu? Mereka mengira jika aku adalah Jeanna saat itu,” lanjut Bella mencoba menjelaskan yang terjadi saat itu, mereka semua pun mengangguk mengerti.

“Yah, kuharap kedepannya tak ada lagi kerusuhan yang dibuat oleh Lazarus.” Bella mengangguk setuju dengan ucapan Ben.

“Kalau begitu, aku harus pergi karena ada hal lain yang harus kuselesaikan.” Bella berjalan ke arah Stefen, “dan kau, kuharap kau merelakan Jeanna bersama Alaric. Kau pasti tau betul, bagaimana jika dua orang yang saling terikat dipisahkan, itu sangat menyiksa!”

Stefen menghela napasnya. “Aku akan mencobanya, meskipun aku tak suka dengan sifat saudaramu itu!”

Bella mengangguk paham. “Aku tau itu, tapi percayalah Jeanna akan baik-baik saja. Alaric akan menjaganya, bahkan dengan nyawanya sekalipun.”

______________

Alaric mengecup puncak kepala Jeanna berulang kali. “Apa kau tak ingin melanjutkan ucapanmu?” Jeanna yang sedari tadi menikmati perlakuan manis Alaric segera tersadar.

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang