Bag 20. Bertemu lagi

30.2K 2K 10
                                        


Sesuai janjinya kemarin, Alaric menemani Jeanna untuk pergi menemui kakaknya.

“Kita tak akan tersesat kan?”

“Tentu saja.”

Jeanna terus berjalan di sebelah Alaric, ia melihat ke sekeliling nya, hanya ada pepohonan dan semak belukar.

Saat ini mereka tengah berada di tengah-tengah hutan, tak ada jalan lain untuk menuju rumah Olivia selain melewati hutan ini. Tentu saja karena tempat tinggal Alaric berada jauh di dalam hutan.

“Aku lelah!” Jeanna menghentikan langkahnya. “Sedari tadi kita berjalan tak juga sampai, apa masih jauh lagi?”

“Masih sangat jauh.”

“Kalau begitu kapan kita akan sampai? Aku tidak sanggup lagi berjalan, apa di tempatmu itu sama sekali tidak ada kendaraan? Sangat menyusahkan!”

“Mulutmu ini sangat berisik!”
Lalu tanpa diduga Alaric membawa tubuh Jeanna pada gendongannya. Jeanna kaget akan gerakan cepat Alaric yang mengangkat tubuhnya, hampir saja ia berteriak.

“Alaric!” pria itu hanya memasang wajah datarnya seakan tak merasa bersalah.

“Tutup matamu! Kita akan melalui jalanan ini dengan cepat.”

“Bagaimana caranya?” ujar Jeanna seolah tak percaya akan ucapannya, apa Jeanna lupa siapa pria ini? Dia bukan manusia biasa!

“Menurutlah mate.” Jeanna tak lagi bertanya, ia hanya menuruti perkataan Alaric.

Alaric mulai kembali melangkahkan kakinya, kali ini ia berlari secepat yang ia mampu. Jeanna merasakan terpaan angin yang begitu kuat, ia penasaran, kenapa pula pria ini menyuruhnya menutup mata.

Karena penasaran, Jeanna sedikit mengintip untuk melihat sekelilingnya. Ia terkejut begitu melihat dirinya yang tengah melesat begitu cepat, lebih tepatnya Alaric tengah membawanya berlari dengan sangat cepat.

Refleks Jeanna mengalungkan tangannya di leher pria itu, ia mempererat pegangan tangannya pada pria itu. Hingga akhirnya Alaric berhenti berlari, ternyata mereka sudah dekat.

“Mau sampai kapan kau akan seperti ini?”

Seakan mengerti, Jeanna membuka matanya melihat ke arah sekitar. Ia melirik ke arah Alaric yang tengah menatapnya lekat, lagi-lagi tatapan pria itu membuat jantung Jeanna kembali berdetak tidak karuan. Ia pun tersadar akan tangannya yang masih setia mengalung pada leher Alaric, Jeanna mencoba untuk turun dari gendongan pria itu.

“Ekhm... setidaknya beri tahu jika sudah sampai!” Jeanna benar-benar dibuat grogi.

“Atau sepertinya kau sangat nyaman tadi?” ujar Alaric menggoda Jeanna.

“Cih, pd sekali anda.”

“Apa yang kau katakan mate?”

“Tidak ada!”

Seakan sudah tau arah rumah Olivia, Jeanna berjalan mendahului Alaric. Sepertinya ia tak asing dengan area sekitar sini.

“Kok kayak gak asing ya tempatnya?” Jeanna terus berjalan mengikuti jalan setapak.

“Apa kau lupa? Saat pertama kali aku menemukanmu, di sinilah kita saat itu,” ujar Alaric seakan tahu kebingungan Jeanna.

“Oh iyaa! ” ucap Jeanna antusias.

“Berhentilah berbicara dengan bahasamu! Aku sama sekali tak mengerti.”

“Siapa suruh tak mengerti.” Ujarnya meremehkan, Alaric seketika menatap tajam kearah Jeanna.

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang