"Aku ingin meminta satu hal lagi,"
Jeanna mendengus kesal. "Aku sedikit menyesal membuat kesepakatan seperti itu."
Alaric tersenyum geli, jika seperti ini wajah pria itu terlihat lebih tampan dua kali lipat, bisa-bisa Jeanna jatuh hati dengan pria di hadapannya ini. Atau mungkin tanpa Jeanna sadari ia sudah jatuh hati dengan sosok Alaric.
Jeanna memutar bola matanya. "Cepat katakan!"
"Kiss me!"
"Hah? Gila ya ni orang, ini sih namanya mencuri kesempatan dalam kesempitan!" ujarnya sinis.
"Your language swetie..."
"Apa tidak ada permintaan lain selain itu?"
"Tidak!"
Jeanna menghela napas kasar. Bagaimana ini, apa ia turuti saja? Dari pada nanti Alaric kembali marah kan?
"Yasudah, tutup matamu dulu!" ujarnya dengan ragu.
"Untuk apa aku menutup mataku, aku tak ingin menyianyiakan hal ini."
Jeanna mendengus kesal, ya baiklah hanya sebuah ciuman Jeanna, kau bisa!
Karena tingginya yang hanya sebatas dagu Alaric, Jeanna menarik kerah baju pria itu agar ia sampai.
Cup
Satu ciuman mendarat di pipi Alaric, lalu setelahnya Jeanna segera menjauhkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa yang kau lakukan?"
Kenapa pula Alaric bertanya seperti itu, Jeanna semakin salah tingkah dibuatnya.
"Tentu saja menciummu! Bukankah tadi kau yang memintanya?!" Jawab Jeanna yang kini masih mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa kau tak mengerti sebuah ciuman berharga?" Jeanna hanya diam tak menanggapi ucapan Alaric.
"Sudah makin gelap, kita pulang saja!" ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, sebelum kau menciumku, tepat di sini!" ujar Alaric seraya menunjuk ke arah bibirnya.
Jeanna berdecak kesal. "Aku tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Ituu-karena aku tidak pernah..." Lirihnya.
"Benarkah? Jangan bilang yang di danau itu-"
"My first kiss!" ujarnya cepat, pipi Jeanna terasa panas saat Alaric kembali membahas ciuman itu.
"Ah iya, aku melupakan sesuatu. Kau tak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun, aku sangat beruntung ternyata." Ujar Alaric bangga.
Jeanna yang mendengar itu mendengus kesal. "Ayo pulang!"
"Kiss me one more time and i promise we'll go home." Oke Jeanna benar-benar kesal saat ini, terpaksa ia harus kembali mengalah agar ia bisa pulang.
Tangannya kembali menarik kerah baju Alaric, sebenarnya ia ragu untuk melakukan ini karena Jeanna tak perlah melakukannya!
Sambil sesekali menggigit bibir bawahnya, Jeanna terus mendekatkan wajahnya pada wajah Alaric.
Mata pria itu terus memperhatikan wajah Jeanna, hingga saat hidung mereka bersentuhan, Jeanna berhenti. Tiba-tiba ia menjauhkan wajahnya. "Aku tidak bisa Alaric..."
"Sial! Kau menguji kesabaranku mate."
Dengan gerakan cepat satu tangan Alaric meraih tengkuk Jeanna, sedangkan satu tangannya yang lain merengkuh pinggangnya dengan possessive. Alaric melumat bibir gadis itu yang sejak tadi menggodanya, Jeanna seketika mengalungkan tangannya pada leher Alaric. Ciuman Alaric sedikit tergesa-gesa, Jeanna bahkan dibuat kewalahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
