Tandain kalau ada typo ya guys :)
Alaric menghempaskan tubuh Jeanna pada sudut dinding, gadis itu terlihat sedikit ketakutan saat wajah Alaric begitu dekat dengannya. Ia pun merasa seperti ada yang berbeda dari sosok Alaric saat ini.
“Kenapa kau memakai pakaian ini?” bisik Alaric tepat ditelinganya. “Apa orang lain juga melihatnya, hm?” Alaric menangkup wajah Jeanna dengan tangannya yang penuh darah.
“Alaric kumohon jangan seperti ini...,” ujar Jeanna dengan suara bergetar.
“Kenapa? Apa yang salah denganku mate?” Alaric menyeringai dan hal itu membuat Jeanna semakin ketakutan. Jeanna baru menyadari sesuatu, mata Alaric yang biasanya berwarna biru kini berubah warna menjadi emerald.
“Alaric kau--” pria itu menutup rapat matanya seakan tengah menahan sesuatu.
Alaric membuka matanya lagi, kali ini netranya berubah menjadi warna biru. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Jeanna dengan suara lirih.
Alaric masih memejamkan matanya sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Tatapan Alaric kini tertuju tepat pada mata Jeanna, tanpa Jeanna duga, pria itu tiba-tiba menciumnya.
Pria itu membungkam bibirnya dengan ciumannya. Jeanna mencoba melepaskan diri dengan memukul dan mendorong dada Alaric, namun itu semua sama sekali tak membuat Alaric terganggu atau bahkan melepas pagutannya.
“Alaric stop! Kumohon hentikan…” ujar Jeanna saat terlepas dati ciuman Alaric.
Alaric pun menghentikan aksinya. Pria itu kini menunduk, namun masih mencengangkan lengan Jeanna. Jeanna yang semakin ketakutan pun memilih untuk keluar dari ruangan ini, ia mendorong tubuh Alaric dengan keras dan berlari ke arah pintu. Namun baru sempat ia memutar knop pintu, tiba-tiba pintu tersebut tertutup lagi dengan kencang.
Jeanna membalik tubuhnya, ia terkejut saat mendapati Alaric sudah berdiri di hadapannya. Pria itu mendekat dan mengendus setiap inci wajahnya. Tangan kekar penuh urat itu terulur mengunci pintu kamarnya yang berwarna coklat tua, lalu melempar kuncinya ke sembarang arah. Jeanna hanya bisa menutup matanya saat kedua tangan Alaric beralih oada lehernya, entahlah apa yang akan Alaric lakukan setelahnya.
“Kau tak bisa lari mate,” wajah Alaric mulai mendekat ke arah lehernya, tangannya menyibak rambut Jeanna yang menghalangi leher jenjangnya itu.
Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh matenya itu, mengecup dan menjilat leher Jeanna. Tubuh Jeanna bergetar ketakutan, apalagi saat sesuatu yang tajam mencoba menembus kulit lehernya.
Jeanna berontak dengan memukul tubuh Alaric, bahkan tangan Jeanna kini mencengkram lengan pria itu dengan kuat. Sepertinya lengan Alaric akan dipenuhi luka cakaran nantinya. Sementara itu, Alaric terus menancapkan taringnya semakin dalam. Jeanna pun berteriak saat merasakan perih dan panas di lehernya.
“Hentikan kumohon! Kau menyakitiku Alaric.” Jeanna mulai terisak, ia bahkan merasakan tangan Alaric yang terulur merobek bagian punggung dressnya.
Pegangan Jeanna seketika mengendur, tubuhnya terasa sangat lemas hingga perlahan terperosot kebawah. Jeanna juga merasakan pening di kepalanya. “Alaric please…” lirih Jeanna di sisa akhir kesadarannya.
Alaric yang menyadari akan hal itu mencoba mengambil alih tubuhnya lagi, ia pun memaki dirinya sendiri. Alaric meraih tubuh Jeanna yang kini sudah tak sadarkan diri, ia menatap ke arah Jeanna yang terlihat berantakan.
“Hey, bangunlah!” Alaric menepuk pipi Jeanna pelan. “Rolf sialan!” ia mengangkat tubuh Jeanna dan membawanya ke sebuah ranjang.
Alaric menaruh tubuh Jeanna dengan sangat hati-hati, ia menatap ke arah matenya itu.“Sial! Apa yang telah ku lakukan” ujarnya seraya menjambak dan mengacak rambutnya frustasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasiaJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
