Bag 53. Another problem

15.8K 1.1K 19
                                        

Tandain kalau ada typo ya guys :)

"Semuanya sudah dipersiapkan, dan satu lagi, kami akan mengadakan pernikahannya minggu depan." Semua yang ada di rumah Jeanna menganga tak percaya saat mendengar pernyataan Alaric barusan. Begitu pun dengan Jeanna sendiri.

"Jadi, kau datang pagi-pagi ke rumahku untuk menyampaikan ini? Dan sejak kapan kau mempersiapkan semuanya?" tanya Stefen penuh tanda tanya.

"Sudah sangat lama," jawabnya singkat.

"Baiklah nak, aku mengerti jika kau sangat menginginkan putriku. Tapi sebelumnya aku perlu bertemu dan berbicara dengan orang tuamu dulu, apa dia bisa datang?"

Alaric terdiam saat David menanyakan perihal orang tuanya, ia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada orang tua Jeanna jika kedua orang tuanya tidak akan mungkin bisa hadir di pernikahannya.

"Orang tuaku--sepertinya mereka tak bisa hadir nantinya. Mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya di sana," ujar Alaric seraya tersenyum ke arah David. "Kehadiran adikku sudah cukup mewakilinya bukan?" ia melirik ke arah Bella.

"Tapi ini adalah acara penting, setidaknya mereka bisa meluangkan waktu sebentar saja untuk anaknya, apa tidak bisa?" kali ini Fara yang bertanya.

"Aku mengerti, tapi masalahnya--"

"Akan kami usahakan, orang tua kami pasti akan datang." Bella menyela ucapannya, seketika Alaric menatap tajam ke arahnya, namun Bella tak memedulikannya.

"Kalau begitu aku harus membawa Jeanna untuk fitting baju, apa boleh?" Bella menatap ke arah orang tua Jeanna.

David dan Fara mengangguk mengiyakan, Bella segera menarik Jeanna untuk ikut bersamanya. Alaric pun berpamitan dengan orang tua Jeanna lalu ikut menyusul Bella yang sudah berada di mobil bersama Jeanna.

_____________

"Apa tidak ada pilihan lain?"

"Coba saja dulu."

"Aku tidak mau Alaric, itu terlalu terbuka!" Jeanna melihat ke sana-kemari mencari gaun pernikahan yang sesuai seleranya.

"Ini, kau coba dulu! Baru setelahnya kau bisa memilih yang lain jika tidak cocok." Bella meyerahkan sebuah gaun ke arahnya. Jeanna menurut, ia pun berjalan ke arah ruang ganti.

Jeanna menatap pentulan dirinya dari atas sampai bawah melalui kaca yang cukup besar, ia termenung sesaat. Sebentar lagi ia akan menikah dengan Alaric, menjadi sosok pendamping pria itu seutuhnya. Senang? Tentu saja Jeanna merasa sangat senang, namun di sisi lain ia juga sangat gugup.

"Jeanna, kau lama sekali!" suara Bella membuyarkan lamunannya. Jeanna pun segera keluar dari ruang ganti.

"Waw, you look so different, Je." Jeanna mendengus seraya berdecih salah tingkah.

"Alaric di mana?"

"Dia sedang mengganti bajunya juga." Jeanna menganggukkan kepala, ia memutar tubuhnya ke arah sebuah cermin untuk merapihkan rambutnya.

"Oh, itu Alaric." Jeanna membalikkan tubuhnya mencari di mana sosok Alaric berada. Pria itu terlihat sangat cocok menggunakan celana bahan dan juga setelan jas hitam yang sangat pas dengan tubuhnya.

Sedangkan Alaric terdiam cukup lama, menatap lurus ke arah Jeanna cukup lama, tanpa berkedip. Ia mengamati penampilan gadis itu dari atas hingga bawah, Jeanna yang di tatap seperti itu pun langsung mengalihkan pandangannya.

"Berapa lama lagi kau akan menatap Jeanna seperti itu?" Alaric segera tersadar saat Bella mengatakan hal itu. Ia pun mendekat ke arah Jeanna.

Kedua tangan Alaric terangkat menyelipkan rambut Jeanna ke belakang telinganya. "Bagaimana jika kita menikah sekarang saja?" ujar Alaric yang kini beralih menangkup pipi Jeanna, hal itu semakin membuatnya gelagapan.

"Kau bilang minggu depan, bukan?!" cicitnya.

Bella yang melihat itu pun berdecak malas, bisa-bisanya mereka berdua mengumbar kemesraan di hadapannya langsung. "Oh ayolah waktuku tidak banyak, sebaiknya kalian putuskan untuk pilih yang mana!"

"Hmmm, sepertinya aku akan pilih yang ini saja." Alaric pun mengangguk setuju dengan pilihan Jeanna.

"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang setelah menyelesaikan semua ini." Bella pun berlalu meninggalkan Jeanna dan Alaric.

______________

Hari berganti hari, tak terasa pernikahannya akan dilangsungkan dua hari lagi. Malam ini Jeanna tak bisa tidur, ia terus memikirkan saat-saat itu. Hingga suara ketukan dari balik pintu balkon membuat Jeanna berjalan ke arah tersebut.

Ia membuka sedikit tirainya untuk melihat ke arah luar, namun tak ada siapa-siapa. "Perasaan tadi ada suara ketukan," ia terdiam sesaat, detik berikutnya Jeanna mengedikkan bahunya acuh, ia berjalan kembali ke arah ranjangnya.

Namun saat Jeanna ingin duduk, lagi-lagi suara ketukan terdengar dari arah pintu balkon. Dengan geram ia berjalan ke arah tersebut lalu dengan gerakan cepat ia membuka pintu balkon.

"HUAA-mmh!" Alaric langsung membekap mulut Jeanna.

"Diamlah! Ini aku," ujarnya, Jeanna mendesah lega saat tau jika itu adalah Alaric.

"Kau mau apa Alaric? Ini sudah malam. Lagi pula, kenapa pakaianmu seperti itu? Kukira kau maling meresahkan yang sedang diincar warga sini!" Jeanna mengamati tampilan Alaric, pria itu memakai hoodi hitam dengan topi yang juga berwarna hitam. "Apa kau loncat dari bawah sana?" tanyanya sambil menunjuk ke bawah.

Alaric mengangguk. "Sepertinya kau sedang gelisah, jadi aku memutuskan untuk kemari."

"Untuk apa?"

"Menemanimu tidur malam ini."

"Apa?"

"Apa masih kurang jelas?"

Jeanna menghela napas, "bukan itu, maksudku--tentu saja kita tidak bisa tidur bersama!"

Satu alis Alaric terangkat, "aku tak mengatakan kita akan tidur bersama."

"Lalu tadi--" Alaric membawa Jeanna menuju sebuah sofa lalu ia menarik gadis itu untuk duduk di pangkuannya.

"Aku hanya ingin menemanimu, setelah kau benar-benar tertidur aku akan pergi." Alaric mendekap tubuh Jeanna dari samping, tangannya bergerak mengusap punggung gadis itu.

"Tapi sepertinya kau berharap agar aku tidur di sini, bukankah begitu?"

"Tidak!" jawab Jeanna cepat.

Alaric terkekeh, ia mencium pipi Jeanna dengan gemas. "Kalau begitu tidurlah," perintahnya, Jeanna kembali menyenderkan kepalanya pada dada bidang Alaric.

Usapan tangan Alaric pada punggungnya membuat Jeanna menguap beberapa kali. Hingga perlahan mata Jeanna pun tertutup sempurna. Setelah beberapa saat, Alaric mendengar suara napas gadis itu yang terdengar teratur.

Jeanna benar-benar sudah terlelap, ia pun segera memindahkan tubuh Jeanna pada ranjang di hadapannya. Tak ingin membuat gadis itu terbangun kembali, Alaric meletakkan tubuh Jeanna dengan sangat hati-hati. Setelahnya Alaric mengecup dahi Jeanna cukup lama, lalu ia berjalan ke arah balkon dan pergi meninggalkan kamar Jeanna.

_____________

"Sebaiknya kita menyewa seseorang saja untuk menjadi orang tua kita."

"Apa kau gila? Bagaimana jika orang tua Jeanna tau, mereka pasti akan sangat kecewa!"

"Ini semua juga salahmu! Kau yang menjanjikan pada mereka jika orang tua kita pasti akan datang."

"Tentu saja kulakukan itu agar orang tua Jeanna tak merasa keberatan, dasar bodoh!" kedua kakak-beradik itu tak henti-hentinya beradu mulut sejak tadi.

"Mereka tak akan mungkin kemari, siapa yang akan menjaga kastil nantinya?" Alaric menghela napas panjang."Kenapa masalah selalu saja datang," ia pun berlalu meninggalkan apartemennya, mencari-cara untuk menyelesaikan persoalan yang satu ini.

Sedangkan Bella, ia terus berharap di dalam hati agar orang tuanya itu bisa datang kemari.

















Udah mau mendekati ending nih :(

»Lagi-lagi mau ngingetin, jangan lupa kasih Votenya, komen juga sebanyak²nya, thx u 😚

{ 19-12-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang