48. Empat puluh delapan

40.5K 3.4K 171
                                        

~ Happy reading ~


Hari demi hari kian berlalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari demi hari kian berlalu. Waktu terasa begitu cepat berputar dengan banyaknya kejadian-kejadian yang hadir didalam kehidupan.

Dan malam ini, Aurel terlihat sudah siap dengan sebuah gaun pesta berwarna hitam yang melekat pas pada tubuhnya. Gadis itu berdiri tepat didepan cermin besar yang ada didalam kamarnya. Sesekali ia memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk mengecek apakah dirinya sudah cocok atau belum.

"Udah kali ya, ga perlu ribet-ribet banget dandanannya," gumam Aurel sesudah memastikan gaunnya pas dan cocok.

Malam ini, adalah malam puncak perayaan ulang tahun Fania yang ke tujuh belas, atau bisa dibilang, sweet seventeen. Dan malam ini, yang hadir di gedung perayaan hanya teman-teman dekat serta tamu VVIP yang sudah diundang secara khusus. Sedangkan yang lainnya, sudah diundang dan datang pada siang hari.

Aurel melirik sejenak pada jam di dinding kamarnya. Sudah jam 19.25, dan acara dimulai pada jam 20.00 PM. Masih ada waktu tiga puluh lima menit lagi sebelum acara dimulai.

Setelah memastikan semua barang yang akan dibawa sudah siap, Aurel mengangguk pelan lalu meraih tas hitam yang sudah ia persiapkan.

Sebelum benar-benar keluar dari kamar, langkah Aurel terhenti dengan tangan yang mengambang di atas gagang pintu sebelum benar-benar menyentuh benda tersebut.

"Perasaan gue tiba-tiba ngga enak, gue ga bakal kenapa-kenapa, 'kan?"

Tangannya yang hendak memutar gagang pintu ia urungkan dan kembali berbalik ke dalam kamar. Entah mengapa ia merasa akan ada hal yang tidak mengenakkan terjadi pada dirinya. Untuk berjaga-jaga dan mengantisipasi segala hal yang mungkin terjadi, Aurel memilih membawa satu benda yang mungkin bisa berguna.

Sebuah benda berwarna hitam dengan ukiran bunga pada pegangannya itu terlihat terpajang rapi pada lemari bagian dalam milik Aurel. Benda tersebut tidak akan terlihat jika saja Aurel tak menggeser baju-bajunya.

Setelah mengambil dan mengangkat benda itu ke depan wajahnya, Aurel tersenyum kecil lalu mengambil sebuah sabuk dan mengikat benda itu dibalik gaunnya. Memastikan jika benda itu tak terlihat dari balik gaun, dan tersembunyi dengan aman.

"Gue ga tau firasat ini bener atau ngga, tapi semoga aja salah."

Sesudah meraih tasnya kembali, Aurel pun melanjutkan langkahnya keluar kamar untuk menemui Ares. Ia berencana akan berangkat ke pesta bersama laki-laki itu, hitung-hitung untuk menghemat biasa ongkos.

Ketika dirinya sudah ada di ruang tamu, Aurel dikejutkan dengan keberadaan bi Asih yang sedang menarik sebuah koper berwarna merah maroon. Dengan cepat ia berjalan dan menghadang langkah bi Asih tepat dihadapan wanita paruh baya itu.

Aurel's Life Transmigration ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang