Beautiful Taget #53

272 19 1
                                        

Jaemin tertidur pulas di sisi kiri tempat tidur. Wajahnya tenang. Jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir. Rambutnya sedikit menutupi dahi, napasnya teratur, satu tangannya terlipat di dekat dada.

Jeno belum tidur.

Ia berbaring miring, menghadap suaminya.

Menatapnya lama.

Seakan takut kalau memejamkan mata, semua ini akan berubah lagi.

"Setidaknya malam ini kamu terlihat damai," bisiknya pelan.

Tangannya terulur, ingin menyentuh, tapi berhenti di udara. Ia memilih hanya menatap.

Dan pikirannya kembali ke sore tadi.

Jaemin tidak tahu kalau ia diikuti.

Jeno menjaga jarak. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk memastikan Jaemin aman.

Ia tahu Jaemin pergi tanpa pengawal. Itu saja sudah cukup membuatnya curiga.

Hutan itu tidak asing bagi Jeno.

Hutan tempat semuanya pernah dimulai.

Ia melihat Jaemin berhenti di depan rumah kayu yang sederhana dan sepertinya Jeno cukup tahu rumah siapa itu.

Ayah Winter membuka pintu.

Dari kejauhan, Jeno tidak bisa mendengar jelas percakapan mereka. Tapi ia bisa melihat bahu Jaemin yang sempat menegang... lalu melemah.

Dan kemudian—

Jaemin menangis.

Tidak terisak keras.

Hanya air mata yang jatuh perlahan, seperti seseorang yang akhirnya mengingat sesuatu yang terlalu lama ia tekan.

Jeno berdiri di balik pohon besar. Jemarinya mengepal.

Ia ingin menghampiri.

Ingin menarik Jaemin ke pelukannya.

Tapi ia tahu... ada bagian dari perjalanan itu yang harus Jaemin tempuh sendiri.

Tak lama, langkah cepat terdengar dari arah lain.

Hyunjin.

Tahanan yang kabur dari mansionnya beberapa waktu lalu. Orang yang seharusnya masih berada dalam pengawasan ketatnya. Jeno menyipitkan mata.

"Apa yang dia lakukan di sini..." gumamnya pelan. Ia tidak keluar dari persembunyian. Ia mengamati.

Wajah Hyunjin awalnya tegang. Lalu membeku ketika melihat Jaemin berdiri di sana.

"Aku kira kamu tidak akan pernah kembali," suara Hyunjin terdengar samar bagi Jeno, tapi cukup jelas untuk dipahami.

Jaemin menatapnya lama.

Dan Jeno melihat sesuatu di wajah Jaemin—kebingungan yang perlahan berubah menjadi pengakuan.

"Aku... ingat sedikit," ucap Jaemin lirih.

Hyunjin mendekat tanpa ragu.

Dan memeluknya.

Pelukan itu bukan seperti seorang pengawal dan tuan. Bukan seperti sekutu.

Itu pelukan seseorang yang sudah lama menunggu anggota keluarganya pulang.

"Selamat datang kembali," kata Hyunjin pelan. "Kami sudah menunggu lama."

Di belakang mereka, Winter berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ayahnya hanya menghela napas panjang, seolah beban bertahun-tahun sedikit terangkat.

Jeno melihat semuanya.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang