Flashback
Hutan itu sunyi, hanya diisi desir dedaunan dan aroma tanah lembap yang melekat di udara. Jeno sedang menuntun kudanya perlahan, ketika hewan itu mendadak meringkik keras dan mengamuk tanpa sebab. Tali kekang terlepas dari genggamannya, tubuh Jeno terlempar jatuh, menghantam tanah dengan suara berat.
Napasnya tersentak.
Belum sempat ia bangkit, langkah-langkah kecil terdengar mendekat—ringan, tergesa, namun berhati-hati.
"A-ah..." Suara itu lembut, hampir ragu. "Kau... kau tidak apa-apa?"
Jeno mendongak.
Seseorang berdiri di sana, tubuhnya ramping, wajahnya halus dengan garis-garis lembut yang tidak keras oleh usia atau kerja kasar. Rambutnya sedikit panjang, diikat rendah agar tidak mengganggu pandangan. Keranjang rotan menggantung di punggungnya, sementara kedua tangannya saling menggenggam di depan dada, seolah menahan gugup.
Jeno mengerang pelan. "Kudaku lari."
Orang itu melangkah mendekat, lalu berjongkok di hadapan Jeno. Gerakannya pelan, nyaris tanpa suara. Ia tidak langsung menyentuh, hanya menatap pergelangan kaki Jeno dengan mata penuh perhatian.
"Boleh... boleh kulihat?" tanyanya hati-hati, nada suaranya turun, hampir berbisik.
Jeno mengangguk.
Jaemin menyentuh kaki itu dengan ujung jarinya terlebih dulu, seolah memastikan Jeno tidak keberatan, lalu memeriksanya dengan tekanan ringan. Saat Jeno mendesis menahan sakit, alis Jaemin berkerut.
"Maaf," katanya cepat, refleks. "Aku tidak bermaksud menyakitimu."
"Tidak apa."
Jaemin menghela napas kecil, tampak lega. "Sepertinya hanya terkilir. Tapi kau tidak boleh berjalan jauh dulu."
Ia meraih kain tipis dari keranjang, melipatnya rapi, lalu membalut pergelangan kaki Jeno dengan telaten—simpulnya kecil dan rapi, tangannya cekatan tapi lembut.
"Aku... aku tinggal tidak jauh dari sini," ucapnya kemudian, matanya tidak berani menatap terlalu lama. "Kalau kau mau, kau bisa beristirahat. Aku punya air dan ramuan sederhana."
Jeno menatapnya beberapa detik.
"Kau tidak takut?" tanya Jeno.
Jaemin tampak terkejut, lalu menggeleng pelan. "Kenapa harus takut?"
"Kau sendirian. Aku orang asing."
Jaemin tersenyum tipis—senyum kecil yang nyaris malu. "Kau terluka. Itu saja yang kulihat."
Hening sejenak.
"Namaku Jaemin," katanya akhirnya, suaranya tetap lembut. "Kalau kau keberatan, aku tidak akan memaksa."
"Jeno."
Jaemin mengangguk kecil, seolah menyimpan nama itu baik-baik. "Kalau begitu, Jeno... sandarkan tubuhmu sedikit padaku, ya. Pelan-pelan saja."
Ia menyodorkan lengannya. Saat Jeno bersandar, Jaemin menyesuaikan langkahnya, memastikan jarak tetap sopan, namun tubuhnya siap menahan beban. Bahunya sempit, tapi tekadnya jelas.
Jeno menyadari sesuatu—cara Jaemin menahan napas saat mereka terlalu dekat, cara jarinya gemetar sebentar sebelum kembali mantap.
Jaemin bukan lemah.
Ia hanya lembut.
Dan di tengah hutan yang dingin itu, kelembutan tersebut terasa lebih asing—dan lebih mengusik—daripada keberanian apa pun.
Rumah kecil itu berdiri di tepi hutan, sederhana, dinding kayunya bersih meski catnya mulai memudar. Jaemin membantu Jeno duduk di bangku rendah dekat pintu, lalu menuangkan air ke dalam cawan tanah liat.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
