Beautiful Target #45

416 29 7
                                        

Suasana ruang makan pagi itu terlalu teratur. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi. Teh masih mengepul di cangkir Jaemin ketika Jeno berbicara tanpa basa-basi.

"Hyunjin kabur."

Sendok di tangan Jaemin berhenti sebelum menyentuh piring.

"Apa?"

"Dia berhasil keluar dari pengawasan saat kita berkunjung ke mansion utama keluarga Lee."

"Bagaimana bisa?" suara Jaemin turun, bukan panik — terkejut.

Jeno menatapnya datar.

"Ada celah. Dan seseorang memanfaatkannya."

Jaemin mengerutkan kening.

"Tidak mungkin.  dia sedang terluka parah."

"Luka tidak menghentikan orang yang tahu apa yang dia lakukan."

Hening sesaat.

"Hyunjin tahu sesuatu?"

"Dia selalu tahu lebih banyak daripada yang ia katakan." Nada Jeno berubah lebih rendah.

"Dan sekarang dia bebas."

Itu bukan sekadar informasi.

Itu peringatan.

Beberapa jam kemudian, suara langkah pelayan terdengar menggema di aula depan.

"Guru Winter telah tiba."

Jaemin yang sedang duduk menemani Jisung langsung menoleh.

Winter masuk dengan pakaian sederhana namun rapi. Tidak mencolok, namun tetap memancarkan wibawa yang tenang. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka dan memberi hormat ringan.

"Tuan Lee."

Tatapan Jeno tidak ramah.

Jisung justru berlari kecil menghampirinya.

"Guru Winter!"

Nada antusias itu sedikit mencairkan udara yang sejak pagi terasa tegang.

Winter berlutut hingga sejajar dengan Jisung.

"Kita lanjut pelajaran kemarin?"

Jisung mengangguk penuh semangat.

Namun sebelum mereka sempat beranjak, suara Jeno memotong suasana.

"Kau berada di hutan kemarin."

"Ya."

"Dan kau berada di tempat yang sama dengan istriku."

Winter tidak menunjukkan tanda tersinggung.

"Bukan kebetulan. Istrimu datang mencariku."

Kalimat itu terdengar tenang—terlalu tenang.

Padahal Winter tahu Jaemin datang bukan untuk mencarinya, melainkan ingin mengenal hutan itu lebih jauh. Ia hanya memilih menyederhanakan kenyataan.

Jeno menatapnya tajam.

"Lalu Jaemin tiba-tiba diserang. Dan secara ajaib, seorang guru perempuan mampu melawan sekelompok pasukan?"

Hening tipis menyelimuti ruangan.

Winter berdiri perlahan, menatap Jeno tanpa gentar.

"Jika aku ingin mencelakainya," ucapnya stabil, "aku tidak akan menyelamatkannya."

Itu bukan pembelaan emosional.

Itu pernyataan dingin.

Jeno menahannya dengan tatapan keras.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang