Beautiful Target #52

279 27 0
                                        

Pintu mansion tertutup pelan.

Jaemin berdiri beberapa detik di sana, seolah membiarkan dirinya menyesuaikan napas. Dunia di luar terlalu bising. Terlalu penuh luka yang belum selesai. Tapi di dalam sini... semuanya terasa lebih rapuh.

"Dadda?"

Suara kecil itu membuatnya menoleh.

Jisung berdiri di ujung lorong dengan piyama biru muda dan rambut sedikit berantakan. Matanya setengah mengantuk, tapi tetap jernih.

Jaemin tersenyum tipis. "Belum tidur?"

Jisung menggeleng. "Aku dengar pintu. Aku kira Dadda belum pulang."

Jaemin berjalan mendekat dan berlutut supaya sejajar dengannya. Tangannya terulur merapikan kerah piyama anak itu.

"Kenapa bangun?"

Jisung menatap wajahnya lama. Terlalu lama untuk anak delapan tahun.

"Karena Dadda kelihatan capek akhir-akhir ini."

Jaemin terdiam.

Jisung tidak tahu apa-apa. Tidak tahu tentang ketegangan antara dirinya dan Jeno. Tidak tahu tentang masa lalu yang retak. Tidak tahu tentang ingatan yang hilang.

Anak itu hanya menerka. Dari nada suara. Dari jarak yang terkadang terasa. Dari malam-malam yang lebih sunyi dari biasanya.

"Dadda sedih?" tanya Jisung pelan.

Jaemin tersenyum kecil. "Siapa bilang?"

"Jisung cuma nebak."

"Nebak dari mana?"

"Dari cara Dadda lihat Ayah."

Napas Jaemin tertahan sesaat.

"Memangnya kenapa cara Dadda lihat Ayah?"

"Seperti mau bilang sesuatu... tapi tidak jadi."

Jawaban itu membuat dada Jaemin terasa sesak dengan cara yang aneh.

Ia duduk di lantai ruang tengah, menarik Jisung ikut duduk di depannya.

"Kamu ini terlalu pintar untuk umur delapan tahun."

Jisung mengangkat bahu kecilnya. "Jisung cuma lihat."

Hening sejenak.

Jaemin menatap wajah anak itu. Ada garis rahang kecil yang mirip Jeno. Tatapan mata yang tenang. Cara berbicara yang tidak tergesa.

Turun dari suaminya.

"Jisung," panggil Jaemin lembut.

"Iya, Dadda?"

"Kalau suatu hari kamu merasa Dadda dan Ayah terlihat aneh... kamu jangan langsung menyimpulkan, ya."

Jisung mengernyit. "Aneh gimana?"

Jaemin terdiam beberapa detik. Ia tidak bisa menjelaskan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya pahami.

"Kadang orang dewasa cuma... lagi bingung."

"Bingung tentang apa?"

"Banyak hal."

Jisung menatapnya, lalu berkata pelan, "Tapi Dadda sama Ayah masih sayang, kan?"

Pertanyaan itu polos. Tidak ada tuduhan. Tidak ada ketakutan. Hanya ingin memastikan.

Jaemin tersenyum lembut dan mengusap pipinya. "Iya."

Dan entah kenapa, jawaban itu terasa lebih seperti janji daripada sekadar penenang.

Jisung mengangguk puas, seolah itu sudah cukup.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang