Jeno masih berdiri dekat, terlalu dekat hingga Jaemin bisa merasakan hangat tubuhnya yang perlahan menenangkan kegelisahan di dadanya. Tidak ada lagi kata-kata yang diperdebatkan—hanya napas yang saling bertemu di ruang yang mulai terasa lebih sunyi.
Jaemin menunduk sebentar. Jemarinya tanpa sadar meraih ujung lengan jas Jeno, gerakan kecil yang terasa begitu akrab, seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang bahkan pikirannya belum sepenuhnya pahami.
"Jangan menjauh lagi," bisiknya pelan.
Jeno tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangkat tangan, menyentuh pipi Jaemin dengan hati-hati, seakan memastikan lelaki di hadapannya benar-benar nyata. Sentuhan itu lembut, tanpa paksaan—lebih seperti permohonan diam-diam daripada keinginan yang tergesa.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada keraguan seperti sebelumnya. Tidak ada jarak formal yang selama ini mereka jaga.
Hanya dua orang yang perlahan menemukan kembali satu sama lain.
Jeno menarik Jaemin ke dalam pelukan. Tidak erat, tidak menekan—hanya cukup dekat untuk membuat Jaemin merasakan detak jantung yang familiar. Jaemin menghela napas panjang, membiarkan kepalanya bersandar di bahu Jeno, seolah semua pertanyaan yang tadi memenuhi pikirannya perlahan melebur dalam kehangatan itu.
Sudah lama sekali sejak mereka berdiri sedekat ini tanpa rasa canggung.
Tangan Jaemin naik perlahan, meremas bagian belakang jas Jeno, menahan dirinya agar tidak goyah. Ada kerinduan yang sunyi di antara mereka—bukan sesuatu yang meledak, melainkan perasaan yang tumbuh pelan seperti api kecil yang kembali menyala setelah lama padam.
Jeno menunduk, menyentuhkan keningnya pada kening Jaemin. Napas mereka saling bertaut, tenang dan lambat.
"Aku tidak ingin kita menjadi orang asing lagi," bisik Jeno.
Jaemin menggeleng kecil. "Kita tidak pernah benar-benar asing," jawabnya lirih.
Jarak itu akhirnya hilang ketika Jeno mengecupnya pelan—singkat, lembut, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh. Tidak ada desakan, hanya rasa rindu yang terucap lewat sentuhan sederhana.
Jaemin memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak ingatannya kembali, ia tidak merasa sendirian di dalam pikirannya sendiri.
Mereka tetap berdiri begitu, saling merangkul dalam diam. Dunia di luar ruangan seolah berhenti bergerak, memberi ruang bagi dua hati yang perlahan kembali menyatu—bukan sebagai dua orang yang asing, melainkan sebagai pasangan yang pernah saling mencintai... dan kini belajar mencintai lagi dengan cara yang lebih tenang.
"Aku merindukanmu," bisik Jaemin hampir tak terdengar.
Jeno tidak menjawab dengan kata. Ia hanya tersenyum tipis, lalu kembali mencium Jaemin—kali ini lebih dalam, namun tetap lembut. Tangannya meraih pinggang Jaemin dengan hati-hati, seolah takut membuatnya goyah.
Napas Jeno terasa semakin berat. Semua emosi yang sejak lama ia tahan akhirnya runtuh ketika bibirnya kembali menemukan Jaemin—kali ini lebih dalam, lebih mendesak. Ada kerinduan yang terlalu lama dipendam, dan Jaemin bisa merasakannya jelas.
Ciuman itu tidak lagi ragu.
Tangan Jeno meraih Jaemin lebih erat, seolah takut lelaki itu kembali menjauh. Jaemin terkejut sesaat oleh perubahan itu, namun tidak menolak. Justru ia membalas dengan perasaan yang sama—membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang dulu begitu familiar.
Langkah mereka terhenti di sisi ranjang.
Jeno menatap Jaemin sejenak, matanya gelap oleh emosi yang sulit disembunyikan. Namun di sana masih ada kelembutan yang sama seperti dulu—seolah ia selalu menunggu izin, bahkan di tengah keinginannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
