Beautiful Target #29

589 41 1
                                        

di Kantor Kepolisian

Minji duduk dengan lutut ditarik ke dada. Matanya merah. Hajin di sebelahnya, mencoba terlihat kuat, tapi tangannya gemetar saat menggenggam ujung kursi.

Mark duduk berhadapan dengan mereka. Tangannya telah diperban kasar.

"Kalian tahu kenapa kalian di sini?" tanya Mark pelan.

Minji menggeleng cepat. "Kami mau pulang."

Hajin menelan ludah. "Kami cuma mau ketemu ibu."

Mark menghela napas. "Karina sudah pergi."

Minji langsung berdiri. "Ibu nggak ninggalin kami!"

Hajin ikut berdiri. "Dia janji!"

Mark mengangkat tangan, menenangkan. "Duduk. Tolong."

Mereka menurut, meski dengan napas terengah.

Mark membuka map perlahan. Tidak dibanting. Tidak ditekan.

"Kalau aku bilang," katanya hati-hati, "ada beberapa hal tentang Karina yang belum kalian tahu... kalian mau dengar?"

Minji memeluk lengannya sendiri. "Kalau tentang ibu... aku nggak mau."

Hajin mengangkat dagu. "Katakan."

Mark mengeluarkan satu lembar kertas. "Ini akta kelahiran kalian."

Hajin melirik. "Itu milik kami."

"Baca yang ini," Mark menunjuk satu baris.

Hajin membaca. Wajahnya berubah.

"Nama ibu... ini salah."

Mark menggeleng. "Tidak."

Minji berbisik, "Ibu kami Karina..."

"Kalian memanggilnya ibu," jawab Mark lembut. "Dan itu tidak salah."

"Tapi?" desak Hajin, suaranya mulai bergetar.

"Tapi Karina bukan ibu kandung kalian."

Hening.

Minji tertawa kecil, seperti anak yang menolak mimpi buruk. "bohong."

Mark mengeluarkan lembar lain. "Ini hasil tes."

Hajin menatap kertas itu lama. "Kalau dia bukan ibu... kenapa dia tinggal sama kami?"

Mark menunduk. "Karena ibu kandung kalian meninggal."

Minji tersedu. "Terus... kenapa ibu Karina bohong?"

Mark tidak langsung menjawab.

"Hajin," katanya akhirnya. "Apa Karina pernah menyuruhmu melakukan sesuatu yang... menyakiti orang lain?"

Hajin menegang. "Dia bilang... kalau ayah jahat. Kalau ayah mau bunuh kami." Hajin berbohong untuk menutupi kejahatannya sendiri.

"Itu sebabnya kau pegang gunting?" tanya Mark pelan.

Air mata Hajin jatuh. "Aku cuma mau berlindung di rumah itu."

Minji menangis keras.

Mark menutup map. "Kalian bukan penjahat."

"Terus kenapa kami di sini?" Minji terisak.

"Karena ada orang dewasa," jawab Mark lirih, "yang menjadikan anak-anak sebagai senjata."

Pintu ruangan tertutup pelan.

Dan untuk pertama kalinya, Hajin menyadari—
bahwa semua yang ia lakukan... bukan untuk melindungi, melainkan karena ia telah diarahkan.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang