Beautiful Target #33

401 33 0
                                        


Mansion Lee perlahan kembali tenang setelah kabar kematian Jaemin menyebar. Tidak ada lagi bayangan mencurigakan di gerbang, tidak ada mobil asing yang berputar-putar terlalu lama di jalan utama. Para pelayan kembali bekerja seperti biasa, dan marga besar Lee mulai percaya bahwa ancaman yang selama ini mengintai telah benar-benar hilang.

Bagi dunia luar, semuanya telah selesai.

Namun bagi Jeno, semuanya baru saja dimulai.

Suatu sore yang dingin, mobil hitam milik Jeno berhenti di depan gerbang besi besar milik marga Na. Mansion itu berdiri anggun di atas bukit rendah—lebih sunyi dibandingkan mansion Lee, namun memiliki aura tua yang tidak bisa diabaikan. Bangunan batu pucat itu tampak seperti menyimpan sejarah panjang, rahasia yang tak pernah benar-benar diceritakan pada orang luar.

Kakek Na sudah menunggu di ruang tamu utama.

Pria tua itu berdiri tegak dengan tongkat berukir di tangannya. Wajahnya tetap kaku, namun sorot matanya lebih dalam dari terakhir kali Jeno melihatnya.

"Keadaan luar cukup tenang," ucap Jeno tanpa basa-basi. "Tidak ada yang mencurigakan sejak pemakaman."

Kakek Na mengangguk pelan. "Dia aman."

Hanya dua kata itu—namun cukup membuat bahu Jeno sedikit mengendur.

"Dia belum mengingat apa pun?" tanya Jeno.

"Sebagian kecil," jawab pria tua itu. "Nama-nama sederhana. Kebiasaan lama. Tapi masa lalunya... masih kabur."

Jeno menatap lantai marmer sesaat, menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.

"Itu lebih baik," gumamnya.

Hening jatuh di antara mereka, bukan hening yang canggung, melainkan hening dua orang yang sama-sama mengerti bahwa perjanjian mereka berdiri di atas rahasia yang berbahaya.

Jeno akhirnya mengeluarkan map tipis dari tangannya dan meletakkannya di atas meja.

"Kontrak kerja sama baru," katanya. "Investasi di jalur perdagangan selatan. Nama marga Na akan masuk sebagai mitra utama."

Alis kakek Na terangkat sedikit. "Kau tidak perlu melakukan ini."

"Aku perlu," jawab Jeno datar. "Anda sudah menjaga seseorang yang paling berharga bagiku. Aku tidak akan membiarkan marga Anda tetap dipandang rendah."

Itu bukan sekadar balas budi.

Dalam beberapa bulan berikutnya, kerja sama bisnis antara marga Lee dan marga Na berkembang cepat. Jalur perdagangan baru dibuka, investasi mengalir deras, dan nama marga Na—yang dulu hanya disebut sebagai bangsawan lama yang meredup—kembali naik ke permukaan.

Perlahan, marga Na masuk ke jajaran bangsawan kelas atas.

Tiga besar di antara marga paling berpengaruh.

Orang-orang mulai membicarakan mereka lagi.

Undangan resmi berdatangan.

Dan pada suatu malam musim dingin, sebuah undangan dari istana kerajaan tiba.

Balai istana dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul di lantai marmer. Musik orkestra mengalun lembut, para bangsawan berdiri berkelompok, mengenakan pakaian formal dengan warna-warna elegan.

Nama marga Na disebut dengan hormat ketika mereka memasuki aula.

Bisik-bisik terdengar.

"Itu marga Na..."
"Mereka naik begitu cepat..."
"Katanya bekerja sama dengan marga Lee..."

Kakek Na berjalan tenang, tongkatnya menyentuh lantai dengan ritme pelan.

Tak lama kemudian, dua sosok mendekat.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang