Keesokan harinya Perayaan ulang tahun Chenle ke-9 digelar dengan kemegahan yang hanya dimiliki keluarga Lee.
Aula utama mansion dibuka sepenuhnya. Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal berlapis emas yang memantulkan cahaya seperti hujan cahaya di atas lantai marmer. Tirai-tirai beludru berwarna gelap disibakkan, memperlihatkan jendela-jendela tinggi dengan pemandangan taman yang telah ditata khusus—air mancur menyala lembut, patung-patung keluarga berdiri anggun di antara semak mawar putih.
Para bangsawan mulai berdatangan sejak sore.
Mobil-mobil hitam berhenti satu per satu di halaman depan. Nama-nama besar turun dengan sikap tenang dan wajah penuh senyum terukur—kepala marga, pasangan mereka, pewaris muda dengan jas rapi dan gaun formal yang terlalu dewasa untuk usia mereka.
Ucapan selamat terdengar di mana-mana.
"Putra Lee Jaehyun tumbuh dengan sangat baik."
"Usia sembilan tahun, tapi auranya sudah jelas."
"Keluarga Lee memang selalu konsisten."
Chenle berdiri di sisi Jaehyun dan Taeyong, mengenakan setelan kecil berwarna gelap dengan pin lambang keluarga Lee di dadanya. Senyumnya sopan, sikapnya tenang—hasil latihan panjang yang kini dipertontonkan di hadapan puluhan pasang mata penilai.
"Terima kasih sudah datang," ucap Chenle dengan suara jernih setiap kali menunduk kecil.
Para bangsawan terkesan.
Di sisi lain aula, Jaemin duduk di area khusus keluarga inti. Kursinya sedikit terpisah dari keramaian, dengan bantal tambahan dan jarak yang cukup lega karena usia kehamilannya yang sudah mulai membesar.
Ia berdiri di samping Jaemin hampir sepanjang waktu.
Setiap kali Jaemin bergeser, Jeno sudah lebih dulu menyadarinya. Tangannya kerap berada di punggung kursi Jaemin, atau turun singkat menyentuh perut Jaemin dengan gerakan yang terlihat wajar—seperti kebiasaan pasangan, padahal penuh makna.
"Kau baik?" bisiknya pelan di sela tepuk tangan.
Jaemin mengangguk kecil. "Ramai... tapi indah."
Jeno tidak tersenyum. Tatapannya menyapu ruangan—para tamu, para pelayan, kepala pelayan yang bergerak anggun mengatur semuanya dengan presisi nyaris sempurna.
Semuanya berjalan terlalu mulus.
Musik klasik mengalun lembut ketika Chenle diarahkan ke tengah aula. Tirai bagian dalam terbuka, menampakkan kue ulang tahun bertingkat tiga—putih dan emas, dihiasi lambang keluarga Lee dan angka sembilan yang berkilau.
"Silakan," ujar Jaehyun dengan senyum bangga.
Chenle berdiri tegak. Para bangsawan mendekat sedikit, menciptakan setengah lingkaran yang rapi. Anak-anak bangsawan lain berdiri di barisan belakang—termasuk Jisung, yang menatap sepupunya dengan mata berbinar.
Lampu sedikit diredupkan.
Lilin dinyalakan.
Chenle menutup mata sejenak, lalu meniup lilin dengan satu hembusan tenang. Tepuk tangan memenuhi aula, bergema hingga ke langit-langit tinggi.
"Keluarga Lee," ujar salah satu bangsawan senior sambil mengangkat gelasnya, "sekali lagi menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mewariskan nama... tetapi masa depan."
Gelas-gelas terangkat.
Senyum-senyum saling bertukar.
Dan tepat di tengah kemegahan itu—
di antara cahaya, musik, dan tawa terkontrol—
Taeyong yang berdiri tidak jauh dari Chenle tiba-tiba terdiam.
Awalnya nyaris tak terlihat.
Ia hanya menurunkan gelasnya lebih cepat dari yang lain. Lalu satu tangannya bertumpu pada meja terdekat. Senyumnya memudar perlahan, digantikan ekspresi bingung yang cepat berubah menjadi tegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
