Angin sore masuk lewat jendela kayu kelas itu.
Ruangan latihan ayah Winter selalu berbau kayu dan kertas tua. Tidak pernah berubah.
Waktu itu mereka masih muda.
Winter berdiri di depannya. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa ekspresi berlebihan, tapi matanya selalu fokus.
"Apa kamu melamun lagi, Jaemin?" Winter menyilangkan tangan. "Kalau kamu kalah nanti, jangan bilang aku curang."
Jaemin terkekeh pelan. "Aku cuma sedang menghargai suasana. Tempat ini sakral, Winter. Jangan dirusak dengan ancaman."
Winter mendengus kecil. "Sakral katanya. Tadi hampir jatuh karena salah pijak."
Jaemin mengangkat alisnya. "Itu namanya strategi merendah sebelum menyerang."
Dari depan kelas, ayah Winter berdiri dengan tangan di belakang punggung. Tatapannya tenang, tajam seperti biasa.
"Cukup bercandanya," suara beliau rendah tapi jelas. "Bertarunglah."
Semua murid langsung memberi jarak.
Jaemin menarik napas panjang. Winter sudah mengambil posisi lebih dulu. Dan seperti biasa — dia tidak pernah setengah-setengah.
"Jangan lembut padaku hanya karena aku perempuan," Winter berkata santai.
Jaemin tersenyum tipis. "Aku tidak pernah melihatmu sebagai perempuan di sini."
Winter menyipitkan mata. "Maksudnya?"
"Maksudku... kamu selalu terlihat seperti tameng yang lebih kuat dari siapa pun."
Winter terdiam sesaat. Lalu ia menyerang lebih dulu.
Gerakan Winter cepat. Tidak gegabah, tapi penuh perhitungan. Jaemin menangkis, mundur satu langkah, dua langkah.
"Fokus, Jaemin!" salah satu murid berseru pelan.
"Dia fokus," Winter menjawab cepat. "Hanya saja dia terlalu banyak berpikir."
Jaemin tertawa pendek bahkan di tengah pertarungan. "Berpikir itu kelebihan."
"Kadang itu kelemahan."
Winter memutar langkah, menjatuhkan keseimbangan Jaemin dengan teknik yang sudah ia kuasai jauh sebelum murid lain menyadarinya.
Tubuh Jaemin menyentuh lantai.
Sunyi sepersekian detik.
Lalu—
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Winter berdiri tegak, napasnya sedikit berat tapi wajahnya tetap tenang.
Jaemin menatapnya dari bawah, lalu tersenyum lebar.
"Ya... aku kalah."
Winter mengulurkan tangan. "Kamu tidak serius."
Jaemin menerima uluran itu dan berdiri. "Aku serius. Kamu memang kuat."
Ia menepuk debu dari pakaiannya, lalu memandang ayah Winter sebentar sebelum kembali ke arah Winter.
"Sepertinya kekuatan itu memang turun," katanya santai. "Guru kita terlalu hebat untuk tidak mewariskan sesuatu."
Beberapa murid terkekeh kecil.
Winter memutar mata, tapi ada senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. "Jangan menyalahkan garis keturunan. Kamu kalah karena kamu ragu."
Jaemin mengangguk pelan. "Mungkin. Tapi tetap saja... kamu melindungiku tadi."
Winter terdiam.
"Tiga kali," lanjut Jaemin ringan. "Kalau kamu mau, kamu bisa menjatuhkanku lebih cepat. Tapi kamu memberi ruang."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
