Beautiful Target #35

397 33 0
                                        

Langit sore terlihat pucat di balik jendela ruang kerja lama milik kakeknya. Bau kayu tua dan teh hangat masih jelas di ingatan Jaemin—seolah percakapan itu baru saja terjadi beberapa menit lalu, bukan beberapa jam yang lalu.

Ingatan itu datang perlahan.

Kakeknya duduk tegak di kursi tinggi, tangan bertumpu pada tongkat hitam yang selalu ia bawa. Tatapannya tenang seperti biasa, namun terlalu tenang hingga terasa sulit ditembus.

Jaemin berdiri di hadapannya tanpa duduk.

"Kakek," ucapnya pelan, "aku sudah mengingat semuanya."

Tidak ada keterkejutan di wajah pria tua itu. Hanya helaan napas panjang yang terdengar pelan.

"Aku tahu hari itu akan datang," jawabnya.

Jaemin menggenggam tangannya sendiri agar suaranya tetap stabil. "Kalau begitu... kenapa kakek berbohong padaku?" Matanya mengeras sedikit. "Pernikahan ulang... semua orang memperlakukanku seperti orang baru. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku? Jeno... dan kakek?"

Hening jatuh cukup lama.

Kakeknya menatapnya dalam, seperti menimbang seberapa banyak kebenaran yang boleh diucapkan.

"Itu dilakukan untuk melindungimu, Jaemin."

Jawaban yang terlalu sederhana.

Jaemin menggeleng pelan. "Melindungi dari apa? Dari masa laluku sendiri?"

Suara kursi berderit pelan ketika kakeknya bersandar. "Ada hal-hal yang tidak seharusnya kau ingat terlalu cepat. Ingatanmu... rapuh saat itu. Jika semuanya kembali sekaligus, kau bisa hancur."

Tatapan Jaemin bergetar tipis, namun ia tetap berdiri tegak.

"Lalu serangkaian peristiwa yang terjadi di mansion Jeno apakah kakek tahu juga?" tanyanya lagi. "... Kakek pasti tahu, kan?"

Ada jeda sepersekian detik—cukup singkat, tapi tidak luput dari perhatian Jaemin.

Kakeknya menggeleng perlahan.

"Aku tidak tahu banyak," katanya akhirnya. "Aku hanya melakukan apa yang diminta Jeno. Dia memintaku menjagamu... memastikan kau tetap aman sampai pernikahan itu kembali di ulang."

Jaemin menatapnya lekat, mencoba membaca sesuatu di balik suara tenang itu.

"Jadi kakek tidak tahu rahasia apa yang dia sembunyikan dariku?" desaknya.

Pria tua itu tersenyum tipis—senyum yang terlalu datar untuk disebut hangat.

"Aku tidak tahu apa pun selain tugasku menjagamu."

Kata-kata itu terdengar jelas, namun ada ruang kosong di antaranya. Sesuatu yang terasa... tidak lengkap.

Jaemin merasakan dadanya mengencang.

"Semua orang bilang itu demi melindungiku," bisiknya. "Tapi tidak ada yang benar-benar memberitahuku dari apa aku dilindungi."

Kakeknya bangkit perlahan, langkahnya pelan mendekat.

"Terkadang," katanya lembut, "mengetahui semuanya bukanlah keselamatan."

Ia mengangkat tangan, hampir menyentuh bahu Jaemin, namun berhenti sebelum benar-benar menyentuh.

"Percayalah... jika Jeno memilih diam, berarti dia punya alasan yang lebih besar daripada yang bisa kau bayangkan."

Jaemin tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di sana, merasakan bagaimana kata-kata itu tidak sepenuhnya menenangkan—justru membuat jarak antara dirinya dan kebenaran terasa semakin panjang.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang