Ruang belajar di sayap timur mansion Lee tampak terang oleh cahaya matahari sore yang jatuh melalui jendela-jendela tinggi. Rak buku kayu tua berdiri kokoh di sepanjang dinding, dipenuhi sejarah keluarga bangsawan, etiket istana, hingga buku bahasa asing yang tebal. Suasana tenang, elegan—lebih menyerupai ruang pelatihan pewaris marga daripada kelas anak-anak.
Chenle dan Jisung duduk berdampingan di meja panjang. Postur mereka tegap, kaki sejajar, kedua tangan berada di atas meja sesuai aturan dasar tata krama keluarga Lee.
Winter berdiri di depan mereka, kapur putih di tangannya. Hari itu bukan hanya tentang bahasa.
"Bahasa adalah alat," ucapnya ringan, menulis beberapa kata di papan. "Tapi kebangsawanan bukan sekadar cara bicara. Itu tentang bagaimana kalian dilihat... bahkan saat kalian diam."
Chenle mengangguk kecil, ekspresinya serius. Ia sudah terbiasa dengan materi seperti ini. Sementara Jisung memperhatikan dengan fokus penuh, matanya mengikuti setiap gerakan Winter.
Winter meletakkan kapur, lalu berjalan perlahan mengelilingi meja.
"Baik. Kita mulai dari posisi duduk saat menghadiri jamuan resmi," katanya.
Ia menarik kursi di depan mereka, memperagakan cara duduk yang benar—punggung lurus, dagu sedikit terangkat, tangan tidak bergerak berlebihan.
"Chenle, coba."
Chenle berdiri dan mengulang gerakan itu dengan presisi hampir sempurna. Winter hanya mengoreksi sedikit sudut bahunya.
"Bagus. Kau sudah terbiasa."
Jisung menatap, lalu mencoba meniru. Gerakannya rapi, tetapi masih ada sedikit kekakuan di bahunya.
"Kau terlalu tegang," ujar Winter santai. "Bangsa bangsawan tidak terlihat berusaha... mereka terlihat alami."
Jisung menghela napas kecil, lalu mengulanginya. Kali ini lebih lembut.
"Seperti ini?"
Winter mengangguk pelan.
"Lebih baik."
Pelajaran berlanjut. Mereka bukan hanya membaca—tetapi mempraktikkan cara menyapa tamu, bagaimana berdiri ketika orang dengan status lebih tinggi masuk, hingga cara menatap tanpa terlihat menantang.
Chenle mengangkat tangan. "Guru, jika seseorang berpura-pura sopan tapi berniat buruk... bagaimana pewaris harus bersikap?"
Pertanyaan itu membuat Winter berhenti sejenak. Tatapannya jatuh pada Chenle, lalu beralih pada Jisung.
"Senyum," jawabnya singkat. "Dan jangan pernah menunjukkan semua kartu yang kalian miliki."
Jisung mengerutkan kening kecil. "Itu seperti permainan strategi."
"Karena dunia bangsawan memang permainan," balas Winter ringan.
Ia kemudian membuka buku lain—buku tua berisi lambang-lambang keluarga besar.
"Sekarang, pelajaran berikutnya. Mengenali simbol marga," katanya.
Chenle langsung mencondongkan tubuh, terlihat antusias. Jisung mengikuti, matanya berbinar halus.
Mereka menyebutkan nama-nama marga, sejarah singkat, dan hubungan aliansi. Cara mereka berbicara terdengar terlalu dewasa untuk usia mereka, namun tidak terasa dipaksakan—seolah sejak lahir mereka memang dibentuk untuk dunia itu.
Di tengah pelajaran, Chenle berkata pelan, "Jisung harus belajar lebih cepat. Dia pewaris utama."
Jisung menoleh sedikit, tidak membantah. "Aku akan berusaha."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
