Mobil hitam itu berhenti di depan pagar besi sederhana yang catnya mulai memudar.
Jeno tidak langsung turun.
Ia menatap rumah di hadapannya cukup lama.
Bukan mansion. Bukan bangunan luas dengan keamanan berlapis. Hanya rumah satu lantai dengan dinding putih yang sedikit kusam, halaman kecil dengan tanaman dalam pot, dan jemuran kain yang tertata rapi di samping.
Terlalu... biasa.
Mark berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. "Ayo Jen?"
Jeno akhirnya keluar.
Langkahnya tenang, tapi matanya bekerja cepat.
Rumah itu sederhana. Namun tidak berantakan. Tidak menunjukkan tanda kekurangan yang menyedihkan seperti yang diam-diam ia bayangkan. Lantai teras bersih. Sepatu-sepatu tertata. Bahkan ada lonceng angin kecil tergantung di dekat pintu.
Berbanding terbalik dengan gambaran di kepalanya tentang pria yang hidup tersembunyi di pinggir hutan.
Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk dua kali.
Seorang pria paruh baya berdiri di sana—posturnya tegap meski usia jelas terlihat di garis wajahnya. Tatapannya jernih.
Ayah Winter.
"Ah... Tuan Lee," sambutnya hangat, sedikit terkejut dengan kedatangannya. Siapa yang tidak tahu dengan sosok bangsawan terpandang di kota besar ini.
"Silakan masuk."
Tidak ada kegugupan. Tidak ada sikap defensif.
Jeno mencatat itu.
Ruang tamunya kecil, tapi tertata. Rak buku kayu tua tersusun rapi. Dinding dipenuhi foto—Winter saat kecil mengenakan seragam bela diri. Beberapa foto lain... kosong dari wajah yang ia kenal.
Tidak ada foto Jaemin.
Namun entah kenapa, Jeno merasa nama itu pernah hidup di ruangan ini.
"Maaf rumah kami tidak sebesar mansion Anda," kata ayah Winter ringan.
Jeno tersenyum tipis. "Rumah bukan tentang ukuran."
Ia jarang mengatakan hal seperti itu.
Mark berdiri diam beberapa langkah di belakangnya, mengamati dalam sunyi.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya ayah Winter.
Inilah bagian yang sudah Jeno siapkan.
"Saya datang sebagai seorang ayah," katanya tenang. "Putra saya, Jisung... saya ingin dia belajar bela diri. Saya dengar Anda masih menerima murid pribadi."
Tidak ada perubahan mencolok di wajah pria itu.
"Jisung?" ulangnya lembut. "Sebuah kehormatan untukku tuan."
Jeno menahan reaksi sekecil apa pun.
Ia mengenal Jisung.
Berarti setidaknya, informasi tentang keluarganya tidak asing di sini.
"Saya pikir disiplin akan baik untuknya," lanjut Jeno.
Ayah Winter tersenyum. "Saya tidak mengajar anak-anak untuk menjadi kuat saja, Tuan Lee. Tapi untuk tahu kapan tidak perlu menggunakan kekuatan."
Jawaban itu sederhana.
Namun bagi Jeno, kalimat itu terasa seperti sindiran halus.
Ia menyesap teh yang disajikan. Hangat. Tidak istimewa. Tapi dibuat dengan perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
