Beautiful Target #34

387 26 1
                                        


Pagi di mansion terasa tenang, terlalu tenang hingga suara langkah pelayan di lorong panjang terdengar lebih jelas dari biasanya. Cahaya matahari jatuh lembut melewati jendela-jendela tinggi, memantul pada lantai marmer yang dingin. 

Jaemin berdiri di dekat meja panjang ruang kerja kecilnya. Di tangannya ada selembar kertas tebal—brosur dengan tinta hitam elegan dan lambang akademi bangsawan di bagian atas. Ia sudah membacanya berkali-kali sejak kembali dari luar mansion kemarin.

Langkah berat terdengar mendekat.

Jeno masuk tanpa suara berlebihan, jasnya masih rapi meski pagi baru saja dimulai. Tatapannya langsung jatuh pada Jaemin yang terlihat serius.

"Kau menungguku?" tanyanya rendah.

Jaemin mengangguk kecil, lalu mengulurkan brosur itu. "Aku ingin membicarakan sesuatu... tentang Jisung."

Nama itu membuat ekspresi Jeno sedikit melunak.

"Apa yang terjadi?"

Jaemin menarik napas pelan sebelum bicara. "Dia sudah mulai besar. Cara dia bertanya, cara dia memperhatikan orang... dia bukan lagi bayi." Ia berhenti sebentar, seolah menimbang kata-kata berikutnya. "Sebagai pewaris marga Lee, dia harus belajar lebih dari sekadar membaca dan menulis."

Jeno mengambil brosur itu. Matanya menelusuri tulisan demi tulisan—nama seorang guru privat yang dikenal mengajar anak-anak bangsawan tingkat tinggi. Riwayatnya panjang, reputasinya hampir tanpa cela.

"Kau menemukannya di mana?" tanya Jeno.

"Di kota," jawab Jaemin pelan. "Aku tidak sengaja melihatnya. Banyak marga besar memakai jasanya."

Jeno mengangkat alis sedikit. "Dan kau ingin orang asing masuk ke mansion?"

Nada suaranya tidak keras, tapi jelas berhati-hati.

Jaemin tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, tangannya bertaut pelan di depan tubuhnya—kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang.

"Aku tahu kau akan khawatir," katanya lembut. "Aku juga." Tatapannya turun sebentar, lalu kembali menatap Jeno. "Tapi Jisung tidak bisa terus berada di dalam perlindungan kita saja. Dunia bangsawan kejam... dan dia harus siap."

Jeno diam beberapa detik. Ia membaca ulang nama di brosur itu, jarinya berhenti di bagian pengalaman mengajar di istana.

"Guru ini terlalu... sempurna," gumamnya.

Jaemin tersenyum tipis. "Kau selalu curiga pada sesuatu yang terlihat rapi."

"Itu karena yang berbahaya sering datang dengan wajah paling tenang," jawab Jeno singkat.

Hening jatuh di antara mereka, bukan hening yang canggung—melainkan jeda yang penuh pertimbangan.

Di luar ruangan, suara tawa kecil Jisung terdengar samar bersama seorang pelayan. Jaemin menoleh refleks, matanya melembut.

"Aku tidak ingin dia tumbuh tanpa arah," bisiknya. "Aku tidak ingin dia merasakan... apa yang pernah kurasakan dulu."

Kalimat itu membuat Jeno mengangkat kepala. Ada sesuatu yang rapuh di suara Jaemin—sesuatu yang mungkin bahkan Jaemin sendiri tidak sadari.

Akhirnya Jeno menutup brosur itu perlahan.

"Aku akan menyelidiki guru ini," katanya tegas. "Jika dia bersih... dia boleh datang. Tapi tidak ada yang masuk mansion tanpa pengawasanku."

Jaemin mengangguk cepat, tampak lega. "Terima kasih."

Jeno menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada perasaan aneh yang berdenyut pelan—antara waspada dan tidak ingin mengecewakan permintaan Jaemin.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang