Sirene ambulans memecah malam.
Cahaya merah kebiruan memantul cepat di jalanan basah saat kendaraan itu melaju membelah kota tanpa memberi kesempatan siapa pun menghalangi.
Di dalam ambulans—
Jeno memegang tangan Jaemin begitu erat sampai jemarinya sendiri memutih.
"Jaemin..."
Suaranya pecah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Lee Jeno benar-benar terlihat kehilangan kendali.
Tubuh Jaemin terbaring lemah di atas ranjang darurat. Wajahnya pucat tanpa warna. Napasnya pendek-pendek sementara darah masih terus merembes dari bawah selimut putih yang menutupi tubuhnya.
Dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar mereka.
"Tekanan darah turun!"
"Siapkan transfusi!"
"Cepat!"
Namun semua suara itu terasa jauh bagi Jeno.
Karena matanya hanya tertuju pada Jaemin.
Pada tangan dingin yang sejak tadi tidak berhenti ia genggam.
"Lihat aku..." bisik Jeno panik. "Jaemin... jangan tutup matamu."
Kelopak mata Jaemin bergerak pelan.
Sangat pelan.
"Jen..."
Suara itu nyaris hilang.
Dan entah kenapa justru membuat dada Jeno terasa semakin hancur. Trauma itu kembali datang.
Seperti Dejavu.
"Aku di sini," jawabnya cepat. "Aku di sini."
Jaemin mencoba bernapas lebih dalam namun langsung meringis kecil menahan sakit.
Tangannya gemetar pelan menyentuh perutnya sendiri.
Gerakan kecil itu membuat seluruh tubuh Jeno membeku.
Karena ia tahu.
Jaemin tahu.
Dan Jaemin ketakutan.
"Tidak..." suara Jaemin melemah. "Tidak... Jen..."
Jeno langsung menggenggam tangan itu lebih erat.
"Tidak akan terjadi apa-apa," katanya cepat meski suaranya sendiri gemetar. "Kau dengar aku? Tidak akan terjadi apa-apa."
Namun bahkan dirinya sendiri tidak mempercayai kalimat itu.
Karena darah di bawah tubuh Jaemin terlalu banyak.
Terlalu merah.
Dan malam itu—
untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Lee Jeno benar-benar merasa takut kehilangan seseorang.
—
Rumah sakit langsung gempar saat ambulans tiba.
Pintu darurat terbuka kasar.
"Pasien trauma kehamilan! Perdarahan berat!"
Tubuh Jaemin segera didorong cepat melewati lorong putih rumah sakit.
Jeno mengikuti di samping ranjang sambil terus memegang tangannya.
"Jen..."
Jaemin memanggil lagi pelan.
Jeno langsung menoleh cepat.
Tatapan Jaemin sudah mulai kabur.
"Maaf..."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
