Beautiful Target #32

429 32 0
                                        

Langkah waktu kembali maju—kembali pada malam setelah pemakaman yang dingin dan penuh kebohongan.

Dunia percaya Na Jaemin telah mati.

Tangisan telah reda. Karangan bunga mulai layu. Nama Jaemin perlahan berubah menjadi kenangan yang dibisikkan pelan.

Namun di sebuah sayap mansion tua milik keluarga bangsawan yang jarang dibuka untuk tamu, seseorang masih bernapas.

Jaemin hidup.

Dan hanya satu orang yang mengetahuinya.

Jeno.

Malam itu, Jeno berdiri di ruang kerja seorang pria tua —kakek Jaemin—dengan aura yang jauh berbeda dari pertemuan mereka di masa lalu. Tidak ada lagi pemuda yang diam di balik pohon. Yang berdiri sekarang adalah seorang suami yang baru saja "kehilangan" istrinya... sekaligus seseorang yang membawa rahasia berbahaya.

"Kau mengatakan cucuku sudah mati," ucap pria tua itu pelan, menatap Jeno tajam. "Lalu kenapa kau datang lagi ke sini?"

Jeno tidak duduk. Ia berdiri tegak di depan meja besar itu.

"Karena dia hidup," katanya datar.

Tongkat kayu di tangan pria tua itu berhenti bergerak.

"Apa maksudmu?"

"Dunia percaya dia meninggal," lanjut Jeno. "Dan dunia harus terus percaya itu."

Keheningan jatuh seperti benda berat.

Tatapan pria tua itu berubah—bukan lagi dingin, melainkan waspada.

"Kau mempermainkan kematian?" tanyanya rendah.

"Aku menyelamatkan cucumu," jawab Jeno tanpa ragu. "Orang yang menyerangnya belum berhenti. Selama Jaemin masih terlihat hidup, dia akan menjadi target."

Pria tua itu menatapnya lama. "Lalu kenapa kau membawanya ke sini?"

Jeno menarik napas pelan.

"Karena tidak ada tempat yang lebih aman daripada tempat yang paling tidak dicurigai," katanya. "Semua orang tahu Jaemin mati. Tidak ada yang akan mencari jasad di rumah keluarga yang dulu membuangnya."

Kalimat itu terdengar tajam, tapi jujur.

Mata pria tua itu meredup sedikit.

"Kau ingin aku menyembunyikannya?"

"Aku ingin kau merawatnya," jawab Jeno. "Sebagai cucumu. Sebagai penebusan yang tidak pernah kau lakukan pada ibunya."

Tongkat itu mengetuk lantai sekali.

"Dan jika aku menolak?"

Jeno akhirnya duduk, tapi sikapnya tetap tegak. Suaranya turun, lebih pelan—namun jauh lebih berbahaya.

"Kalau sesuatu terjadi pada Jaemin," ucapnya, "aku akan membuka catatan medis malam kematiannya."

Pria tua itu tidak bergerak.

Jeno melanjutkan, matanya tidak berkedip.

"Aku akan membuat dunia tahu bahwa cucumu tidak mati karena luka... tapi karena seseorang mencoba membunuhnya. Dan aku akan memastikan penyelidikan itu menyeret semua hubungan lama keluargamu."

Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada ancamannya untuk terasa nyata.

"Orang-orang akan mulai bertanya," lanjutnya tenang. "Kenapa keluarga besar bangsawan itu dulu membuang putrinya. Kenapa cucunya hidup tersembunyi. Nama keluargamu tidak akan lagi terlihat bersih."

Ancaman itu logis.

Bukan sekadar emosi—melainkan tekanan reputasi, politik, dan sejarah keluarga.

Pria tua itu menutup mata sejenak. Ketika ia membuka kembali, ada sesuatu yang berubah—bukan kemarahan, melainkan kelelahan.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang