Flashback
Pintu utama mansion Lee terbuka perlahan siang itu.
Langkah Jeno terdengar mantap memasuki aula besar, membawa serta udara dingin dari luar. Para pelayan yang sedang bekerja segera menundukkan kepala, namun gerakan mereka terhenti ketika sosok yang berjalan di samping Jeno terlihat jelas di bawah cahaya.
Na Jaemin.
Wajah yang selama empat tahun terakhir hanya dikenal sebagai nama dalam kabar duka.
Hening langsung menyelimuti ruangan.
Lee Donghae dan Eunhyuk yang tengah berbincang berhenti. Jaehyun yang baru turun dari tangga membeku di anak tangga terakhir. Taeyong, yang menggendong Chenle kecil berusia satu tahun, tanpa sadar memeluk anak itu lebih erat.
Jaemin berdiri dengan sopan di sisi Jeno, sedikit canggung menerima tatapan banyak orang yang terasa asing baginya.
Jeno menoleh pelan pada Taeyong.
"kakak ipar," ucapnya tenang, "bisakah kau mengajak Jaemin melihat taman belakang sebentar? Dia belum pernah ke sini."
Taeyong mengedip, masih terkejut, namun ia mengangguk pelan. Dengan langkah hati-hati, ia mendekat.
"Ayo," katanya lembut pada Jaemin, mencoba tersenyum hangat. "Taman di belakang cukup tenang. Chenle juga suka di sana."
Jaemin menoleh sekilas pada Jeno, seolah meminta izin tanpa kata.
Jeno mengangguk kecil.
Tanpa curiga, Jaemin mengikuti Taeyong keluar dari aula, langkah mereka perlahan menghilang di balik koridor. Suara ocehan Chenle yang masih bayi ikut menjauh, meninggalkan ruangan dalam kesunyian yang tebal.
Begitu pintu tertutup—
aura Jeno berubah.
Tatapannya mengeras saat ia berbalik menghadap keluarganya.
"Ia hidup," ucapnya datar.
Donghae menatapnya tajam. "Jeno... jelaskan."
Jeno berdiri tegak di tengah aula, tidak duduk, tidak memberi ruang pada siapa pun untuk menyela.
"Aku memalsukan kematiannya."
Kata-kata itu jatuh berat.
Jaehyun mengerutkan alis. Eunhyuk menutup mulutnya pelan.
"Jaemin dibunuh," lanjut Jeno, suaranya rendah namun jelas. "Pembunuhan yang direncanakan. Dan orang yang melakukannya belum tertangkap."
Ruangan terasa semakin dingin.
Donghae menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. "Kau menyembunyikan ini dari kami... selama bertahun-tahun?"
"Empat tahun," jawab Jeno singkat. "Dan selama itu, tidak ada lagi percobaan pembunuhan."
Tatapan Jaehyun mengeras. "Kau pikir kami tidak berhak tahu?"
"Aku pikir kalian bisa menjadi target jika tahu," balas Jeno tanpa emosi.
Hening menggantung.
"Ia kehilangan ingatannya," lanjut Jeno akhirnya. "Jaemin tidak tahu apa pun tentang masa lalu. Dan aku ingin tetap seperti itu."
Eunhyuk menunduk pelan, sementara Donghae tetap menatap putranya tanpa berkedip.
"Aku akan menikahinya lagi," kata Jeno tegas. "Seolah ini pertama kalinya."
Jaehyun menghela napas panjang, jelas mencoba menahan banyak pertanyaan.
"Kalian semua," suara Jeno turun lebih rendah, namun terasa seperti perintah, "tidak akan mengungkapkan masa lalu pada Jaemin. Ikuti saja alur yang sudah aku siapkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
