Beautiful Target #48

173 19 0
                                        

Malam sudah terlalu larut ketika Jeno akhirnya mengetuk pintu kamar Jaemin.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih pelan.

"Jaemin."

Suara langkah kecil terdengar dari dalam. Pintu terbuka sedikit.

Jaemin berdiri di sana dengan wajah yang belum sepenuhnya tenang. Matanya masih menyimpan sisa keterkejutan dari tadi.

"Kenapa belum tidur?" tanya Jeno.

Jaemin menggeleng pelan. "Aku tidak bisa."

Jeno menatapnya beberapa detik, lalu melangkah masuk tanpa menunggu undangan.

Ruangan itu hangat, tapi suasananya tidak.

Ada jarak tipis yang entah sejak kapan muncul.

"Kau benar-benar tidak ingat?" tanya Jeno akhirnya.

Jaemin berdiri di dekat meja kecilnya. Tangannya saling menggenggam.

"Aku sudah mencoba mengingat," jawabnya pelan. "Tapi kosong."

"Kosong bagaimana?"

"Seperti bagian itu... tidak pernah ada."

Jeno mengamatinya tajam.

"Namamu ada di daftar itu, Jaemin."

"Aku tahu."

"Dua tahun bukan waktu yang sebentar."

Jaemin menunduk.

"Aku tidak berbohong."

"Aku tidak mengatakan kau berbohong."

Nada Jeno tetap tenang, tapi lebih dalam.

"Namun kau juga tidak pernah bercerita."

Jaemin terdiam.

"Selama ini," lanjut Jeno pelan, "kau selalu berkata tidak punya siapa-siapa. Tidak punya tempat kembali. Tidak punya masa lalu yang berarti."

"Itu yang kuingat."

"Dan Winter?"

Jaemin mengangkat wajahnya perlahan.

"Aku tidak tahu," katanya jujur. "Saat pertama melihatnya... aku memang merasa aneh. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi aku pikir itu hanya perasaanku saja."

"Bukan hanya perasaan," gumam Jeno.

Jaemin menggeleng lagi, lebih tegas.

"Aku tidak tahu apa pun tentang kelas itu. Tentang ayahnya. Tentang desa itu."

"Apa mungkin kau sengaja melupakan?" tanya Jeno tiba-tiba.

Jaemin tersentak.

"Maksudmu?"

"Mungkin ada sesuatu yang terjadi di sana."

Sunyi.

Hanya suara napas mereka.

"Aku tidak tahu," ulang Jaemin. Suaranya hampir seperti bisikan. "Jika memang ada sesuatu... kenapa aku tidak bisa mengingatnya?"

Jeno berjalan mendekat.

"Karena mungkin itu bukan sesuatu yang ingin kau ingat."

Jaemin menatapnya, bingung dan sedikit tersakiti.

"Kau pikir aku menyembunyikan sesuatu darimu?"

Jeno langsung menjawab, "Aku tidak tahu." Kejujuran itu justru lebih menyakitkan.

"Aku selalu berpikir," lanjut Jeno lebih pelan, "aku tahu semua tentangmu."

Jaemin tersenyum tipis, tapi tidak bahagia.

"Aku juga berpikir begitu."

Hening lagi.

Jaemin menarik napas dalam.

"Besok," katanya pelan namun mantap, "aku akan bertanya pada Winter."

Jeno menatapnya tajam.

"Sendiri?"

"Iya."

"Aku bisa ikut."

Jaemin menggeleng.

"Tidak. Jika memang ini tentang masa laluku... aku harus mendengarnya langsung."

Nada suaranya lembut, tapi ada sesuatu yang berbeda.

Keputusan. Itu bukan Jaemin yang biasa hanya mengikuti. Itu Jaemin yang memilih.

Dan Jeno merasakannya.

"Baik," ucap Jeno akhirnya.

Namun sebelum ia berbalik pergi, ia berkata pelan,

"Jika kau memang pernah berada di tempat itu... jika kau pernah dilatih di sana... maka kau bukan orang yang selemah yang selama ini kau tunjukkan."

Jaemin terdiam.

"Bukan berarti aku menganggapmu lemah juga," tambah Jeno cepat, seolah memperbaiki.

Jaemin menatapnya lama.

"Aku tidak pernah berpura-pura." aku Jaemin.

"Aku tidak bilang kau berpura-pura." Balas Jeno.

"Tapi kau berpikir aku rapuh."

Kalimat itu membuat Jeno terdiam.

Karena mungkin... benar.

Jaemin tersenyum kecil.

"Aku tidak ingat masa lalu itu. Tapi jika memang aku pernah belajar di sana... mungkin ada bagian diriku yang bahkan aku sendiri belum mengenalnya."

Ia menunduk sebentar.

"Dan itu juga membingungkanku."

Jeno menatapnya, ada sesuatu yang tak bisa ia definisikan.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Lebih seperti ketakutan samar bahwa ia sedang berdiri di ambang perubahan.

"Besok," ulang Jaemin pelan. "Aku akan menanyakan semuanya pada Winter."

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—

Jeno merasa ia tidak sepenuhnya mengendalikan arah cerita ini lagi.

Ia hanya bisa mengangguk.

"Baik. Aku akan menunggu."

Namun ketika pintu kamar itu tertutup di belakangnya, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya—

Jika Jaemin mendapatkan kembali bagian dirinya yang hilang...

Apakah ia akan tetap tinggal di sisinya seperti sekarang?

To be continue

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang