Langkah Winter cepat namun stabil saat menuntun Jaemin menjauh dari tepian hutan.
Langit mulai menggelap. Udara dingin turun perlahan, membawa sisa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru terinjak.
"Kita tidak bisa kembali ke jalan utama," ujar Winter tenang. "Terlalu terbuka."
Jaemin mengangguk. Nafasnya masih belum sepenuhnya teratur, tapi ia tidak ingin terlihat lemah.
Beberapa menit berjalan, mereka tiba di pemukiman kecil tak jauh dari batas hutan. Rumah-rumah kayu berjajar sederhana, jauh dari kesan mewah yang biasanya melekat pada lingkar bangsawan.
Winter berhenti di depan sebuah rumah kayu dengan beranda kecil.
"Masuklah."
Jaemin sempat terdiam sepersekian detik.
Ia tahu Winter adalah guru etiket bangsawan. Sikapnya elegan. Gerakannya presisi. Cara bicaranya terukur.
Namun rumah ini—
Sederhana. Bersih. Tanpa ornamen mahal. Tanpa penjaga.
Jaemin masuk perlahan.
Di dalamnya hangat. Aroma teh dan kayu kering menyambut.
"Kau tinggal di sini?" tanya Jaemin pelan.
Winter tersenyum tipis. "Tempat yang cukup."
Jaemin menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang kontras antara citra Winter di lingkungan bangsawan dan kehidupan nyatanya.
"Kau tidak terlihat seperti seseorang yang tumbuh di tempat seperti ini," ujar Jaemin jujur.
Winter terkekeh kecil. "Penampilan memang sering menipu."
Ia lalu mengambil kain bersih dan membersihkan goresan di lengan Jaemin.
Gerakannya cekatan.
Terlalu cekatan.
"Kau tadi bergerak sangat cepat," kata Jaemin, mengingat bagaimana Winter melumpuhkan pria yang mencoba mencelakainya di hutan. "Itu bukan gerakan biasa."
Winter berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ayahku yang mengajarkannya."
"Kau ahli bela diri."
"Cukup untuk tidak mati," jawab Winter ringan.
Jaemin menatapnya dengan kagum yang tak disembunyikan. Sosok guru yang halus, ternyata menyimpan disiplin fisik yang kuat.
Pintu dalam rumah terbuka pelan.
Seorang pria paruh baya melangkah keluar.
Tinggi. Tegap. Wajahnya tenang, dengan garis usia yang justru menambah wibawa.
Tatapannya tajam, tapi tidak mengintimidasi.
"Ayah," ujar Winter singkat.
Pria itu mengangguk pelan, lalu menatap Jaemin.
"Terima kasih sudah menjaga putraku tetap sibuk," katanya dengan nada hangat yang sulit ditebak apakah itu candaan atau bukan.
Jaemin berdiri sopan dan memberi salam hormat.
"Saya yang seharusnya berterima kasih. Putra Anda menyelamatkan saya."
Pria itu mengamati Jaemin beberapa detik lebih lama dari kebiasaan orang asing.
Bukan menilai.
Lebih seperti... memastikan.
Namun ekspresinya tetap datar dan sopan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
