Ruangan itu tidak benar-benar sunyi, hanya terasa terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak diucapkan. Lampu gantung di ruang tengah mansion menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Renjun berdiri dekat jendela, sementara Mark duduk di tepi sofa dengan gelisah. Jeno tidak duduk—dia berdiri mematung, bahunya tegang seolah setiap kata yang akan keluar dari mulut Renjun adalah ancaman.
"Jadi... ini keputusanmu?" suara Jeno rendah, tapi tajam. "Kau mengembalikan ingatannya tanpa bicara denganku lebih dulu."
Renjun tidak langsung menjawab. Dia menatap keluar jendela, ke taman yang terlalu gelap untuk ukuran sore hari. Angin menggoyangkan tirai tipis, membuat bayangan seperti seseorang yang berjalan perlahan. Baru setelah itu dia menoleh.
"Aku tidak punya pilihan lain, jen," ucapnya pelan. "Semua jawaban... ada di Jaemin. Bukan di kita."
Mark mengangkat kepala, menatap keduanya bergantian. "Kalian berdua tahu ini bukan hal kecil," katanya hati-hati. "Jaemin belum stabil. Kalau ingatannya kembali terlalu cepat—"
"Itu justru masalahnya," potong Renjun. "Selama ini kita hanya menunda. Kita menyebutnya melindungi, padahal mungkin kita cuma takut menghadapi kebenaran."
Kata "takut" membuat rahang Jeno mengeras.
"Aku bukan takut," balasnya cepat. Namun sorot matanya mengatakan hal lain—sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penolakan.
Renjun mendekat beberapa langkah. "Kau ingat bagaimana dia dulu?" tanyanya lirih. "Jaemin yang selalu terbangun tengah malam, napasnya gemetar... matanya kosong seperti melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat."
Bayangan itu jelas kembali di kepala Jeno. Jaemin yang duduk di sudut kamar, memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Jaemin yang menolak cahaya, yang terkejut setiap kali pintu terbuka terlalu keras. Jaemin yang seolah selalu berbisik, 'dia ada di sini...'
Jeno mengepalkan tangan.
"Justru karena aku ingat," katanya. "Aku tahu seberapa hancurnya dia. Kau tidak lihat bagaimana dia dulu? Kau tidak lihat bayangannya yang selalu gemetar di dinding? Aku yang menemaninya tiap malam, Jun. Mesikupun Jaemin tidak pernah berbicara aku yang selalu mendengar dia memohon setiap waktu agar semuanya berakhir."
Ruangan terasa lebih dingin. Lampu berkedip sekali, seolah ikut mendengarkan.
Mark menelan ludah. "Tapi sekarang dia mulai mengingat sendiri," ucapnya hati-hati. "Mimpi-mimpi itu... potongan gambar... itu bukan karena Renjun saja."
Renjun mengangguk. "Aku hanya membuka pintu yang sebenarnya sudah retak sejak lama."
Jeno tertawa pendek, tanpa humor. "Kau menyebut itu membuka pintu? Bagiku itu seperti mendorongnya kembali ke jurang."
"Dan bagiku," balas Renjun, suaranya tetap tenang tapi tegas, "menutup semua ini berarti membiarkan dia hidup dalam kebohongan yang kita buat."
Keheningan jatuh di antara mereka.
Mark memijat pelipisnya, mencoba meredakan ketegangan. "Kenapa sekarang, Renjun? Kenapa kau yakin ini waktu yang tepat?"
Renjun terdiam beberapa detik, seolah memilih kata yang paling tidak melukai.
"Sebelum semuanya menjadi semakin rumit," katanya akhirnya. "Dan Jaemin... dia satu-satunya yang benar-benar tahu apa yang terjadi malam itu. Kita tidak bisa melindunginya dengan membuatnya buta."
Nama itu membuat udara terasa berat. Jeno menunduk, napasnya tertahan. Ingatan tentang malam gelap, suara kaca pecah, dan Jaemin yang terbaring tak sadarkan diri penuh darah.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
