Flashback
Matahari sore menyusup di antara dedaunan hutan, menciptakan bayangan panjang di tanah yang lembap. Suara langkah kaki dan ranting patah terdengar pelan di belakang Jaemin.
"Jadi kau memang sengaja menghindariku."
Jaemin tetap berjalan tanpa menoleh. Keranjang rotan di punggungnya bergoyang kecil mengikuti langkah.
"Aku sedang mencari tanaman obat."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban."
Jeno menghela napas kecil sambil mempercepat langkah hingga sejajar dengannya. Sudah beberapa minggu sejak pertemuan pertama mereka di hutan itu. Anehnya, setelah hari itu, Jeno terus menemukan alasan untuk kembali.
Kadang pura-pura tersesat.
Kadang mengaku ingin berburu.
Kadang hanya datang membawa alasan yang bahkan dirinya sendiri tidak percaya.
Dan Jaemin selalu tahu.
"Kau bangsawan yang aneh," gumam Jaemin pelan.
Jeno mengangkat alis. "Apa karena aku masih mau berjalan di hutan demi seseorang yang terus mencoba kabur?"
Jaemin akhirnya melirik sekilas. "Aku tidak kabur."
"Kau selalu berjalan lebih cepat setiap kali aku datang."
"Itu karena langkahmu berisik."
Jeno tertawa kecil.
Mereka tiba di area sungai kecil yang memantulkan cahaya keemasan senja. Jaemin berjongkok di dekat semak liar, memetik beberapa daun dengan hati-hati.
Jeno memperhatikannya diam-diam.
Setiap gerakan Jaemin selalu tenang. Tidak terburu-buru. Bahkan caranya menyentuh daun terlihat lembut seolah takut menyakiti sesuatu.
"Kau selalu memperhatikan orang seperti itu?" tanya Jaemin tiba-tiba tanpa menoleh.
Jeno sedikit terkejut. "Seperti apa?"
"Seolah sedang mencoba membaca isi kepala mereka."
"Aku hanya penasaran."
"Itu lebih buruk."
Jeno tersenyum samar. "Dan kalau aku memang ingin mengenalmu lebih dekat?"
Tangan Jaemin berhenti sesaat.
Hanya sesaat.
Lalu kembali memetik daun seperti biasa.
"Kau tidak perlu."
Jawaban itu sederhana. Datar. Namun entah kenapa terdengar seperti tembok.
Jeno menatapnya beberapa detik lebih lama.
"Kau selalu membuat jarak."
Jaemin berdiri perlahan, membersihkan tangannya dari sisa tanah.
"Karena jarak membuat semuanya lebih aman."
"Aman untuk siapa?"
Kini Jaemin terdiam.
Angin sore meniup rambutnya pelan. Untuk sepersekian detik, wajah lembut itu terlihat sangat lelah.
"...untuk semua orang."
Jeno ingin bertanya lebih jauh.
Ingin tahu kenapa seseorang seusia Jaemin berbicara seolah telah kehilangan terlalu banyak hal dalam hidupnya.
Namun seperti biasa, Jaemin tidak pernah benar-benar membuka pintu itu.
Mereka keluar dari hutan saat matahari mulai tenggelam. Jalanan pasar desa sudah ramai oleh lampu gantung dan suara para pedagang.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
