Malam itu mimpi buruk kembali datang, menyeret Jaemin ke dalam lorong panjang mansion besar keluarga Lee. Langkahnya bergema pelan di lantai marmer dingin hingga ia berhenti di depan ruang kerja milik Jaehyun.
Pintu terbuka tanpa suara.
Di dalam, lampu meja menyala redup. Jaemin berdiri tegak di hadapan pria yang duduk santai di kursi kulitnya. Jaehyun menurunkan sedikit kacamatanya, menatap dengan sorot yang sulit diterjemahkan—bukan marah, bukan pula ramah.
"Pada akhirnya kau datang," ucap Jaehyun pelan.
Jaemin tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. "Aku tidak punya pilihan."
Lalu Keheningan menggantung. Jam dinding berdetak lambat, seolah menghitung napas mereka.
"Berhati-hatilah, Jaemin. Jangan gegabah."
Tatapan Jaemin menajam. "Kau mengatakan itu seakan-akan aku tidak tahu apa yang kulakukan."
"Apa kau benar-benar tahu?" potong Jaehyun, suaranya tetap tenang. "Kau berjalan terlalu jauh. Sekali melangkah lebih dalam, kau tak akan bisa kembali."
"Aku tidak berniat kembali."
Jaehyun tersenyum tipis. "Kepercayaan diri yang berlebihan sering kali menjadi awal dari kejatuhan."
"Dan ketakutan," balas Jaemin lirih, "adalah alasan seseorang memilih diam."
Hening kembali merayap. Ada sesuatu yang tak terucap di antara mereka—rahasia yang menggantung, seolah hanya dipahami oleh dua pasang mata itu.
"Kau tidak bisa apa-apa," ujar Jaehyun akhirnya. "Kau hanya akan jatuh ke lubang yang kau buat sendiri."
Jaemin mendekat satu langkah. "Kalau memang itu lubangku, biarkan aku yang menentukan seberapa dalam aku ingin jatuh."
Sorot mata Jaehyun berubah sekilas, namun ia tetap duduk tenang.
"Aku tidak akan berhenti sampai di sini," lanjut Jaemin tegas. "Apa pun yang tersembunyi di balik semua ini... akan kutemukan."
Tanpa menunggu jawaban, Jaemin berbalik dan melangkah pergi.
Di belakangnya, terdengar helaan napas panjang.
"Kau memang tampak sama dengannya" gumam Jaehyun pelan, sambil menggelengkan kepala.
Malam beralih menjadi kelam ketika hujan turun deras membasahi halaman mansion Jeno Lee. Petir menggelegar begitu keras hingga jendela kamar berderak, lalu terbuka kasar diterpa angin. Tirai putih berkibar liar, memperlihatkan kilat yang menyambar langit.
Di kamar itu, Jaemin bersimpuh di lantai. Tangannya menekan sisi bawah perutnya yang terus mengucurkan darah segar. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar menahan nyeri yang terasa membakar.
"Kenapa..." suaranya parau, hampir tenggelam oleh suara hujan.
Malam itu, Jeno tidak berada di mansion. Ia masih dalam perjalanan pulang dari luar kota—dan kesunyian kamar itu terasa lebih menyesakkan dari biasanya.
Langkah berat terdengar mendekat. Perlahan. Tenang. Seolah pemiliknya menikmati setiap detik ketakutan yang tercipta.
Sosok tanpa wajah yang jelas berdiri di hadapan Jaemin. Bayangannya memanjang tersambar cahaya petir.
"Kau..." bisik Jaemin lemah.
Tanpa jawaban, kilatan pisau kembali terangkat.
Srek.
Tusukan kedua menembus tubuhnya. Jaemin terbatuk keras, darah segar menyembur dari bibirnya dan menodai lantai marmer.
"Ini akibatnya jika kau terlalu memberanikan diri," suara serak lelaki misterius itu terdengar dingin, nyaris tanpa emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
