Hutan lebih sunyi dari biasanya.
Winter berjalan pelan menyusuri jalur kecil yang hanya ia tahu. Di tangannya ada tali kecil untuk mengikat kayu bakar. Langkahnya ringan, teratur—seolah pikirannya sedang sibuk merapikan sesuatu yang tak terlihat.
Ayahnya benar.
Bendera sudah berkibar.
Dan angin hari ini terasa berbeda.
Ia membungkuk mengambil ranting kering, mematahkannya dengan satu gerakan pendek.
Lalu—
Suara gesekan langkah.
Tidak rapi. Tidak terkontrol.
Winter langsung menoleh.
Di antara bayangan pohon, ada sosok yang hampir tak berdiri tegak. Pakaian kusut. Nafas berat. Langkahnya goyah seperti seseorang yang sudah berjalan terlalu jauh tanpa tujuan.
Winter membeku.
Untuk sepersekian detik, ia berharap matanya salah.
Tapi tidak.
Sosok itu mendekat sedikit lagi, lalu berhenti karena kehilangan keseimbangan.
Winter bergerak cepat, menangkap tubuhnya sebelum jatuh sepenuhnya.
"Hyunjin."
Nama itu keluar lebih pelan dari yang ia kira.
Tubuh di lengannya terasa ringan—terlalu ringan. Dingin.
Hyunjin terkekeh pelan, suara seraknya nyaris seperti daun kering yang terseret angin. "Kau selalu... muncul sebelum aku benar-benar jatuh."
Winter tidak tersenyum.
Ia membawa Hyunjin duduk bersandar pada batang pohon besar. Tangannya memeriksa nadi dengan cepat.
Lemah. Tapi stabil.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya rendah, tertahan. "Kau seharusnya—"
"Disekap?" potong Hyunjin pelan.
Tatapannya masih jernih, meski wajahnya berantakan.
"Aku kabur."
"Penjaga dalam rumah dipindahkan untuk mengamankan area luar dan tamu. Ruang bawah tanah hanya dijaga dua orang. Mereka mengira aku masih setengah tidak sadar karena obat penenang."
"Kau pura-pura lemah."
"Aku memang lemah," sahut Hyunjin pelan. "Tapi tidak cukup lemah untuk tidak menghitung jadwal pergantian jaga."
Ia menarik napas panjang.
"Satu penjaga terlalu lama berbicara di radio. Satu lagi terlalu percaya diri. Pintu tidak terkunci sempurna karena mereka terburu-buru kembali ke atas."
Winter memejamkan mata sesaat.
Masuk akal.
"Dia sudah bergerak lagi, Winter."
Angin berhenti seakan ikut mendengar.
Winter menegang. "Siapa?"
Hyunjin menatapnya. Tatapannya serius. Tidak ada lagi sisa candaan seperti biasanya.
"Penjahat itu."
Jantung Winter seperti dipukul dari dalam.
"Mustahil..."
"Dia lebih cepat dari yang kita kira," potong Hyunjin pelan. "Dan kali ini... dia hampir berhasil."
Winter menelan ludah. "Berhasil apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
