Beautiful Target #31

474 40 0
                                        

Malam itu tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan Jeno.

Bau darah masih terasa jelas, menyatu dengan aroma antiseptik yang menusuk hidung. Lampu putih di ruangan darurat berpendar terlalu terang, membuat segalanya tampak tidak nyata—seperti mimpi buruk yang terlalu jernih untuk disebut mimpi.

Jaemin terbaring di atas ranjang besi, wajahnya pucat nyaris tanpa warna. Darah telah menembus kain di perutnya, merah gelap, hangat, terus mengalir seolah tak berniat berhenti.

"Jen..."

Suara itu nyaris tak terdengar. Retak. Rapuh.

Jeno menggenggam tangannya erat, terlalu erat. "Aku di sini," katanya cepat, panik. "Jangan bicara. Hemat tenagamu."

Jaemin tersenyum samar—senyum yang membuat dada Jeno terasa diremas kuat.

"Aku dingin..." bisiknya. "Kalau aku... tidak bangun lagi..."

"Tidak," potong Jeno kasar. "Kau tidak boleh bicara seperti itu."

Dokter bergerak cepat di sekeliling mereka. Suara alat medis berbunyi bersahut-sahutan, membuat kepala Jeno berdenging. Namun di tengah semua itu, satu kalimat dokter menembus segalanya.

"Kondisinya kritis. Kami akan melakukan yang terbaik... tapi bersiaplah untuk kemungkinan terburuk."

Kemungkinan terburuk.

Kalimat itu memutus sesuatu di dalam diri Jeno.

Saat Jaemin dibawa masuk ke ruang operasi, Jeno berdiri kaku di luar. Tangannya gemetar, bajunya berlumuran darah Jaemin. Di balik pintu tertutup itu, ia merasa kehilangan segalanya—bahkan sebelum benar-benar kehilangannya.

Operasi berlangsung lama. Terlalu lama. Ketika dokter akhirnya keluar, wajah mereka kelelahan.

"Dia hidup," kata dokter itu akhirnya. "Tapi kondisinya tidak stabil. Kehilangan darah parah. Trauma berat. Jika ada serangan lanjutan—"

Jeno tidak membiarkan dokter menyelesaikan kalimatnya.

"Pindahkan dia," ucap Jeno tiba-tiba.

Dokter terdiam. "Apa?"

"Catat saja," suara Jeno rendah, tegas, hampir dingin. "Bahwa pasien meninggal di meja operasi."

Ruangan mendadak sunyi.

"Itu tidak mungkin," sanggah dokter. "Itu melanggar—"

Jeno menatapnya. Tatapan yang membuat udara terasa berat.

"Aku akan bertanggung jawab penuh," katanya. "Secara hukum. Secara finansial. Apa pun."

Dokter ragu. Terlalu lama.

Jeno melanjutkan, lebih pelan—namun jauh lebih berbahaya. "Kalau identitasnya masih hidup, orang yang menusuknya akan datang lagi. Kau ingin melihatnya mati untuk kedua kalinya?"

Keheningan menggantung. Akhirnya, dokter menunduk.

Malam itu, dunia diberi kabar bahwa Na Jaemin telah meninggal.

Semua—kecuali Jeno.

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada angin yang menyapu halaman mansion.

Na Jaemin—istri Lee Jeno—meninggal dunia.

Tidak ada yang siap menerimanya.

Kemudian sebuah pemakaman akan segera digelar. Peti tertutup. Tangisan. Doa. Semua orang percaya.

Pintu ruang tamu terbuka.

Jeno masuk.

Bukan dengan tangisan. Bukan dengan amukan.
Wajahnya kosong—terlalu kosong untuk seseorang yang baru saja kehilangan istrinya.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang