Beautiful Target #42

234 18 0
                                        

Flashback

Malam itu, di ruang kerja yang hanya diterangi lampu minyak, Jeno berdiri lama tanpa bergerak. Bayangan jendela membelah wajahnya. Ia tidak marah. Tidak lagi.

Ia berpikir.

Jika ancaman memang berasal dari dalam, maka menyembunyikan Jaemin di luar lingkar kekuasaan justru membuatnya lemah. Terpisah. Terisolasi. Mudah diserang tanpa pengawasan langsung.

Dan satu-satunya cara membuktikan ucapan kakek Na bukan sekadar paranoia... adalah dengan memindahkan Jaemin kembali ke pusat permainan.

Ke mansionnya sendiri.

Keesokan harinya ia berdiri di halaman kediaman keluarga Na.

Angin musim gugur berdesir pelan di antara pohon-pohon tua. Bangunan itu tenang. Terlalu tenang.

Kakek Na menyambutnya tanpa basa-basi.

"Jadi kau akhirnya datang untuk menjemputnya."

"Aku ingin melihat siapa yang gelisah ketika dia kembali," jawab Jeno datar.

Mata tua itu menyipit tipis.

"Berarti kau sudah memilih."

Jeno tidak menjawab. Itu sudah cukup.

Lalu percakapan mereka berbelok ke sesuatu yang lebih berbahaya.

"Jika kau ingin membawanya kembali," ujar kakek Na pelan, "kita tidak bisa membiarkannya kembali sebagai bayangan."

Jeno memahami arah kalimat itu sebelum selesai.

"Perjodohan," ucapnya.

Kakek Na mengangguk.

"Secara resmi. Dengan alasan politik. Bukan karena kau ingin melindunginya."

Jeno menatap lurus ke depan.

"Dia tidak akan mengingatku."

"Itulah gunanya sandiwara."

Mereka sepakat.

Jaemin akan diberitahu bahwa demi mengangkat kembali derajat keluarga Na yang lama terpuruk, ia harus menerima lamaran dari tuan besar keluarga Lee. Tidak ada kisah cinta. Tidak ada masa lalu. Hanya kesepakatan bangsawan.

Sore itu, Jaemin dipanggil ke ruang utama.

Ia masuk dengan langkah ringan, wajahnya masih menyimpan kepolosan yang membuat dada Jeno terasa... sesak.

Ia berdiri beberapa langkah dari Jeno.

Tatapan mereka bertemu.

Kosong.

Tidak ada pengenalan.

Tidak ada getaran lama.

Hanya sopan santun seorang bangsawan muda kepada tamu terhormat.

"Salam hormat, Tuan Lee."

Jeno merasakan sesuatu di dalam dirinya retak.

Kakek Na berbicara lebih dulu.

"Kau akan dijodohkan."

Jaemin terdiam. Lalu keningnya mengernyit tipis.

"Dengan siapa?"

"Dengan putra keluarga Lee."

Hening.

Jaemin menoleh perlahan ke arah Jeno.

Baru kali ini ia menatapnya lebih lama. Bukan sebagai pria yang pernah memeluknya, bukan sebagai suami yang pernah ia panggil dengan suara pelan di malam hari.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang