Beautiful Target #28

611 42 0
                                        

Jaemin melihat dari kejauhan, sosok anak kecil yang kini tengah berlarian bermain bersama pengasuh barunya. Tawa kecil itu terdengar ringan, seolah dunia tak pernah melukai siapa pun. Kemudian satu bulir air mata lolos dari pelupuk matanya, jatuh tanpa sempat ia cegah. Rasa sesak yang kembali datang bukan karena ia disakiti, tapi sesak karena selama delapan tahun ini Jaemin tidak menyadarinya—bahwa ada bagian dari hidupnya yang terlewat, ada cinta yang tertunda, ada kebenaran yang ia tolak dengan keras kepala.

Sosok yang pernah ia tak pedulikan, yang sejak awal selalu ia hindari, penolakan mentah-mentah terhadap Jisung yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri. Jaemin ingin menangis berlutut di bawah kaki Jisung, ingin memohon dengan suara bergetar, bahwa Jaemin sangat menyesal. Terlalu menyesal—hingga dadanya terasa remuk—bahwa dia telah sejahat itu kepada putranya sendiri, kepada anak yang seharusnya ia lindungi sejak awal.

Dia membayangkannya lagi. Pertemuan mereka, wajah polos lugu Jisung yang menatap ke arahnya dengan mata penuh tanya dan harap, dan sosok dingin dirinya yang justru berpaling pada anak itu. Namun di sisi itu Jaemin tidak menyangkal ikatan batin di antara mereka—ikatan yang diam-diam tumbuh tanpa izin. Jaemin yang tidak pernah ingin peduli namun akhirnya luluh, terjerat untuk selalu memperhatikan sosok anak kecil itu. Rasa sayang yang tidak pernah ia minta muncul perlahan-lahan, menimbulkan perasaan besar, di mana Jaemin tanpa sadar ingin melindunginya dari apa pun, bahkan dari dirinya sendiri.

Jaemin kembali menangis, rasa yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata bukan karena sakit. Tapi karena perasaan penuh haru—bahwa memang ada ikatan tak kasat mata yang membuat mereka saling terhubung. Karena ternyata Jisung selama ini adalah putranya. Anak yang ia keluarkan dari rahimnya sendiri. Fakta itu menghantamnya pelan namun pasti, seperti ombak yang tak bisa dielakkan.

Jaemin ingin berlalu lalu memeluk anak itu, sesaat menumpahkan perasaannya, mengatakan bahwa Jaemin benar-benar menyayanginya, bahwa selama ini ia salah. Jaemin kemudian kembali menyusut air matanya, mengatur napasnya yang gemetar, lalu tersenyum. Dengan langkah yang masih bergetar, Jaemin menghampiri putranya, Lee Jisung.

"Jisung?" panggilnya pelan, seolah takut suara itu memecahkan momen.

Anak kecil itu menoleh padanya. Riang gembira yang terpancar di wajah polos itu kemudian membuatnya berlari kecil ke arah Jaemin, tangan mungilnya terangkat.

"Dadda...." panggilnya ceria.

Jaemin berlutut perlahan, menatap anak itu sejajar dengan matanya. "Iya... Dadda di sini," ucapnya lirih, nyaris bergetar.

"Aku sangat merindukanmu. Selama ini Dadda pergi ke mana? Kenapa tidak pernah menemui Jisung?" suara itu jujur, polos, tanpa tuduhan—justru itulah yang paling melukai hati Jaemin.

Dalam dirinya Jaemin menahan diri untuk tidak menangis di hadapan anak kecil itu. "Banyak yang harus Dadda urusi," ucapnya pelan, seolah mencoba memaafkan dirinya sendiri. "Maaf ya." Jaemin mengusap pucuk kepalanya pelan dan lembut, sentuhan yang seharusnya sudah lama Jisung dapatkan.

Jisung mengangguk paham. Wajahnya tampak berpikir sejenak, alis kecilnya berkerut, sebelum kembali berucap, "Apa Dadda tau Mia pergi ke mana? Kenapa pengasuh Jisung diganti." Nada suaranya turun, menyimpan kebingungan dan kehilangan.

Jaemin terhenyak; pada akhirnya anak kecil itu pasti akan bertanya. "Kamu tidak akan mengerti, nak," ucapnya lirih, menahan beban di dadanya. "Ada saat di mana semuanya harus berakhir."

"Mia sudah pamit dari rumah ini dan dia sudah pulang," lanjut Jaemin, meski kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri.

Jisung tertunduk sedih. "Tanpa ucapan selamat tinggal. Jahat sekali," gerutunya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang