Jeno menemukannya di ruang kerja keluarga.
Jaehyun berdiri di dekat meja, kedua tangannya bertumpu ringan di permukaan kayu gelap. Jasnya sudah dilepas, lengan kemeja tergulung rapi. Wajahnya tampak lelah—jenis lelah yang wajar bagi seseorang yang semalaman berjaga di sisi istrinya.
"Kondisi Taeyong stabil," ucap Jaehyun lebih dulu. "Dokter bilang racunnya tidak mematikan... tapi cukup kuat untuk membuatnya tak berdaya."
Nada suaranya datar. Terlalu terkontrol.
Jeno berdiri beberapa langkah darinya. "Kau yakin itu racun?"
Jaehyun menoleh, sedikit terkejut—lalu menghela napas pendek. "Aku berharap bukan. Tapi ini rumah keluarga Lee. Kita tahu bedanya antara kecelakaan dan niat."
Hening sejenak.
"Yang tidak kupahami," lanjut Jaehyun, bersandar ke meja, "kenapa Taeyong."
Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, gerakan kecil yang tampak jujur. "Dia tidak terlibat apa pun. Tidak ikut urusan marga. Tidak pernah mencampuri hal-hal yang... sensitif."
Jeno menatapnya tajam. "Justru itu yang membuatnya rentan."
Jaehyun terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil—tawa singkat yang terdengar lebih seperti kebingungan daripada hiburan.
Jaehyun berjalan beberapa langkah, berdiri lebih dekat. "Aku sempat memikirkan..." Jedanya tenang. "Sejak kau datang... kejadian aneh terasa mengikuti. Di mansionmu lalu sekarang di sini."
Ia menatap Jeno lurus. "Seolah ada sesuatu yang belum selesai, dan ia tidak peduli di rumah siapa ia terjadi."
Kalimat itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal.
"Dan menurutmu?" tanya Jeno.
Menurutku," jawab Jaehyun tanpa ragu, "siapa pun yang melakukan ini ingin memancing kekacauan. "
Ia menghela napas panjang. "Aku tidak tahu siapa yang berani menyentuh Taeyong di rumah ini. Tapi aku akan menemukannya."
Jeno mengamati setiap perubahan kecil di wajah kakaknya. "Kau benar-benar tidak melihat tanda apa pun sebelumnya?"
Jaehyun menggeleng. "Tidak. Dan itu yang membuatku marah."
Nada suaranya turun, lebih dingin. "Siapa pun pelakunya... telah salah memilih sasaran."
Kalimat itu berhenti sesaat—cukup lama untuk terdengar seperti kesedihan seorang suami.
"Aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja," lanjut Jaehyun. "Taeyong bukan pion. Dia tidak pantas berada di tengah permainan siapa pun."
Jeno menatapnya lama. "Aku juga tidak akan membiarkan orang yang kucintai berada dalam bahaya."
Jaehyun mengangguk cepat. "Itu sebabnya kita harus bekerja sama."
Ia mendekat satu langkah lagi. "Jika ada sesuatu dari masa lalumu yang bisa memicu hal seperti ini... katakan. Kita hadapi bersama."
Jeno tidak menjawab langsung.
"Aku akan menyelidiki staf," tambah Jaehyun. "Setiap orang. Termasuk mereka yang sudah lama mengabdi. Tidak ada pengecualian."
"Baik," kata Jeno akhirnya. "Lakukan."
Jaehyun mengangguk, ekspresinya tenang kembali—terlalu cepat kembali normal.
Saat Jeno berbalik menuju pintu, Jaehyun tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung adiknya dengan pandangan yang tidak bisa dibaca.
Kemudian Mark menemui Jeno di lorong sempit dekat sayap timur.
Tidak di ruang koordinasi, tidak di ruang kerja—tempat yang terlalu resmi untuk percakapan seperti ini. Di sini hanya ada dinding batu pucat, jendela tinggi, dan keheningan yang terasa lebih jujur.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
Fiksi PenggemarBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
