Beautiful Target #47

220 24 1
                                        

Malam itu ruang kerja terasa lebih sunyi dari biasanya.

Api di perapian menyala kecil. Bayangannya bergerak di dinding, membuat ruangan terlihat seperti menyimpan lebih banyak rahasia dari yang sanggup ditampungnya.

Jeno berdiri di dekat meja, satu tangan bertumpu di permukaan kayu. Mark duduk di sofa panjang, sebuah map tebal berada di pangkuannya.

Jaemin awalnya hanya berdiri di dekat pintu.

Ia tidak dipanggil.

Tapi tidak juga diminta pergi.

"Sudah sejauh mana?" tanya Jeno akhirnya.

Mark membuka map itu perlahan. "Cukup dalam."

Ia mengangkat pandangannya.

"Winter memang berasal dari desa di perbatasan utara. Desa kecil. Tidak punya pengaruh politik. Tidak punya hubungan darah dengan keluarga mana pun."

"Lalu bagaimana dia bisa masuk ke lingkungan para bangsawan? tanya Jeno.

"Beasiswa."

Jaemin sedikit mengernyit.

Mark melanjutkan, "Dia mendapat beasiswa penuh dari istana sejak usia tiga belas tahun. Catatannya luar biasa. Nilainya selalu di atas rata-rata. Strategi, bahasa, bahkan ilmu taktik dasar."

Jeno terdiam sejenak.

"Seorang anak desa," gumamnya, "mendapat beasiswa langsung dari istana... bukan hal yang mudah."

"Benar," jawab Mark. "Itu artinya sejak kecil dia sudah diawasi."

Jaemin menatap api di perapian.

"Dan ayahnya?" tanyanya pelan.

Mark menggeser beberapa lembar kertas.

"Ayahnya memiliki kelas bela diri sederhana. Tapi disiplin di sana... tidak sederhana."

"Seperti apa?" tanya Jeno.

"Latihan fisik sejak subuh. Teknik pertahanan jarak dekat. Fokus pada efisiensi gerakan. Tidak banyak gaya, tapi mematikan."

Ruangan menjadi lebih hening.

"Dalam sepuluh tahun terakhir," lanjut Mark, "dua puluh lebih muridnya diterima menjadi tentara kerajaan. Beberapa bahkan masuk unit elit."

Jeno mengangkat alis tipis.

"Itu bukan angka kebetulan."

"Bukan."

Jaemin menoleh pada Mark. "Jadi Winter tumbuh di lingkungan seperti itu."

"Iya," jawab Mark. "Dan dengan kecerdasan yang dia miliki... tidak heran dia mampu melawan orang-orang di hutan waktu itu."

Jaemin terdiam.

Ia mengingat kejadian itu dengan jelas.

Cara Winter berdiri.

Cara ia bergerak.

Tidak panik. Tidak berlebihan.

Presisi.

"Dia bukan guru biasa," kata Jeno pelan.

Mark mengangguk. "Ayahnya juga bukan guru biasa."

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu seperti kekaguman tipis di wajah Jeno.

"Seorang pria desa," katanya pelan, "mampu mencetak tentara kerajaan tanpa pernah menginjakkan kaki di istana."

"Justru itu yang menarik," sahut Mark. "Ia tidak perlu berada di pusat kekuasaan untuk memengaruhi kekuasaan."

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang