Beautiful Target #43

233 24 0
                                        

Hutan menyambut Jaemin dengan udara lembap yang familiar—terlalu familiar hingga dadanya terasa sesak. Langkahnya pelan, berhati-hati, seolah setiap ranting yang patah bisa mengkhianati keberadaannya. Ia datang sendiri. Tanpa pengawal. Tanpa memberi tahu siapa pun.

Terutama Jeno.

"Maaf..." gumamnya lirih, meski tak ada yang mendengar.

Ingatan itu datang seperti kabut tipis—tidak utuh, hanya serpihan yang menusuk tiba-tiba.

Bayangan Hyunjin berjalan di depan. Tawa pendek. Sekuntum bunga liar. Dan... sebuah rumah tua.

Jaemin berhenti.

Di antara pepohonan tinggi, samar-samar berdiri bangunan kayu yang nyaris runtuh. Atapnya miring, dindingnya berlumut. Seolah waktu sendiri lupa bahwa tempat itu pernah dihuni manusia.

Napas Jaemin tercekat.

"Aku... pernah di sini."

Tangannya terangkat perlahan menyentuh batang pohon di sampingnya. Sentuhan itu memicu kilatan lain—

Hyunjin duduk di tangga kayu, memanggilnya dengan suara santai. Jaemin yang lebih muda berlari membawa air. Suara angin. Suara tawa. Kehangatan yang terasa jauh... namun nyata.

Bayangan itu hilang secepat datangnya.

Jaemin menutup mata, mencoba menahan pusing yang menyerang.

"Mansion kakek Na..." bisiknya pelan. "Itu bukan rumahku sejak awal."

Kesadaran itu jatuh perlahan, berat dan dingin.

Ia melangkah mendekati rumah tua itu. Pintu kayunya setengah terbuka, berderit saat disentuh. Aroma debu dan kayu lapuk menyambutnya. Cahaya matahari menembus celah dinding, menciptakan garis-garis tipis di lantai.

Jaemin berdiri di tengah ruangan, memandang sekeliling.

Di sudut, ada meja kecil yang nyaris roboh. Di dekat jendela, bekas kursi yang patah. Semua terasa asing... namun tubuhnya mengenal tempat itu sebelum pikirannya sempat menerima.

"Aku... besar di sini," ucapnya lirih, seperti mengakui rahasia yang terlalu lama terkubur.

Sekelebat bayangan kembali muncul.

Hyunjin berdiri di belakangnya, tertawa kecil.
"Terlalu dingin? Kau selalu lupa menutup jendela."

Jaemin menoleh cepat—

Kosong.

Hanya debu yang berterbangan.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih dalam: pengakuan.

Selama ini ia percaya dirinya dibesarkan di mansion megah milik kakek Na.

Tapi hutan ini... rumah tua ini... menyimpan bagian dirinya yang tidak pernah diceritakan siapa pun.

Termasuk Jeno.

Tatapan Jaemin melembut, lalu berubah ragu.

"Aku tidak ingin berbohong padamu," gumamnya pelan, seolah Jeno berdiri di hadapannya. "Tapi aku harus tahu... siapa aku sebelum semua ini."

Ia melangkah lebih dalam, menyusuri ruangan yang hampir runtuh itu. Setiap sudut memanggil sesuatu dalam dirinya—perasaan pulang yang tidak bisa dijelaskan.

Tangannya menyentuh dinding kayu.

Kilatan lain datang.

Ia dan Hyunjin duduk berdampingan di lantai, membagi sepotong roti. Tawa pelan. Janji yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata.

BEATIFUL TARGET | NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang