Langit sore menggantung kelabu ketika mobil hitam itu berhenti di halaman belakang kantor kepolisian. Hujan baru saja reda, meninggalkan genangan tipis yang memantulkan cahaya lampu merah-biru. Jeno keluar tanpa payung. Langkahnya cepat, rahangnya mengeras seolah seluruh dunia sedang mengujinya sekali lagi.
Mark sudah menunggu di depan pintu ruang interogasi. Jasnya kusut, lingkar matanya gelap—tanda bahwa semalaman ia tidak tidur.
"Kami menemukannya dua jam lalu," ujar Mark tanpa basa-basi.
Jeno berhenti tepat di hadapannya. "Di mana?"
"Gudang tua di pinggir kota." Mark menghela napas panjang. "Dan... dia hampir mati saat kami sampai."
Tatapan Jeno berubah tajam. "Jelaskan."
Mark mengangguk pelan, lalu mulai bercerita.
Tim investigasi menyisir jejak terakhir Karina dari kamera jalanan. Sebuah mobil tanpa plat terlihat mengikuti arah pelariannya. Mereka mengejar sampai ke kawasan industri yang sudah lama terbengkalai.
"Awalnya kami kira sudah terlambat," kata Mark pelan. "Gudangnya gelap. Pintu belakang terbuka. Dan ada darah di lantai."
Salah satu anggota tim menemukan Karina terikat di kursi besi. Tubuhnya lemah, napasnya nyaris putus. Ada bekas cekikan di lehernya—jelas seseorang baru saja mencoba menghabisinya.
"Pelakunya kabur beberapa menit sebelum kami masuk," lanjut Mark. "Seolah dia tahu kami akan datang."
Jeno mengepalkan tangan.
"Dia tidak melawan saat kami lepaskan," kata Mark lagi. "Tidak menangis. Tidak berteriak. Dia cuma... diam."
Diam yang terlalu tenang untuk seseorang yang hampir dibunuh.
Pintu ruang interogasi terbuka.
Karina duduk di balik meja logam. Tangannya diborgol longgar. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat dengan beberapa luka memar yang belum sempat dibersihkan. Namun matanya—mata itu masih sama, tajam dan sulit dibaca.
Jeno masuk tanpa suara. Pintu tertutup di belakangnya.
Beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Karina mengangkat wajahnya perlahan. Senyum tipis muncul, samar.
"Lama tak bertemu, Jeno."
Nada santainya membuat sesuatu dalam dada Jeno meledak.
"Kau hampir mati," katanya dingin. "Dan kau masih bisa tersenyum?"
Karina mengangkat bahu lemah. "Sayang sekali aku belum mati, ya?"
Jeno mendekat. Tangannya menghantam meja, membuat suara keras menggema di ruangan sempit itu.
"Siapa dia?" desaknya. "Siapa yang menyuruhmu? Siapa yang mencoba membunuhmu?"
Karina hanya menatapnya, tenang.
Keheningan itu seperti penghinaan.
"Bicara!" suara Jeno meninggi, kemarahan yang selama ini ia tahan akhirnya retak. "Semua orang di sekitarku terluka karena permainanmu. Istriku hampir mati, Anakku juga.—" ia terhenti sejenak, napasnya berat, "—dan kau masih memilih diam?"
Karina menunduk, rambutnya jatuh menutupi wajah. "Kalau aku bicara," gumamnya pelan, "kau tidak akan siap mendengarnya."
"Itu bukan keputusanmu!" bentak Jeno.
Karina mengangkat kepala lagi. Ada sesuatu di matanya—bukan takut, bukan juga menantang. Lebih seperti... lelah.
"Aku bukan pembunuh istrimu," katanya lirih. "Kau sudah tahu itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
BEATIFUL TARGET | NOMIN
FanfictionBEAUTIFUL TARGET (The Real Villain) Romance, Thriller, Sad Action, Royal Family, boys love, yaoi Di balik rumah yang tampak tenang, tersembunyi pernikahan yang dibangun di atas rahasia, darah, dan kebohongan yang sengaja dipelihara. Jeno mencintai...
