"Sharma!" Kaisar membuka pintu dengan kasar.
Sharma, Wenari dan Nora menoleh secara bersamaan pada Kaisar yang berdiri di ambang pintu. Beruntung beberapa detik yang lalu Wenari selesai memakaikan baju Sharma.
Kaisar mengerutkan kening melihat Sharma yang duduk santai seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya. Tubuhnya pun tidak pucat seperti saat pertama kali ia masuk. Padahal kejadian itu hanya terjadi beberapa detik yang lalu.
Ader dan Pangeran Giler juga terkejut dengan kondisi Sharma yang tiba-tiba sehat jasmani dan rohani. Teriakan legendaris itulah bukti bahwa Sharma sudah sehat.
"Hormat kami Yang Mulia Kaisar Negeri Alrancus." Wenari dan Nora memberikan hormat.
Kaisar berjalan masuk. Matanya tak beralih dari Sharma. Sedangkan yang diperhatikan hanya diam sambil mengerjapkan mata beberapa kali.
Punggung tangan Kaisar menempel di dahi Sharma. Ia ingin memeriksa apakah suhu tubuh Sharma normal atau tidak.
"Ajaib." Kaisar menarik tangannya kembali. Ia sungguh tidak percaya dengan keajaiban Tuhan yang satu ini. Sharma tiba-tiba sehat dan bisa berteriak sekencang tadi. Oh ya, Kaisar hampir lupa dengan penyebab Sharma berteriak. "Kenapa kau berteriak?" tanya Kaisar setelah mundur satu langkah.
Sharma memijat kepalanya. Kepalanya masih terasa sedikit sakit. Mimpi buruk yang ia dapatkan sangat-sangat menakutkan.
Dalam mimpinya ia melihat Permaisuri Thanu mendatangi seorang wanita tua yang terlihat benar-benar tua. Sepertinya nenek tua itu sudah berusia ratusan tahun. Permaisuri datang dengan membawa sebuah mangkuk kosong. Entah apa yang mereka bicarakan, nenek tua itu mengambil kendi di atas meja lalu menuangkan isinya ke dalam mangkuk kosong yang dibawa oleh Permaisuri. Hal yang sangat mengejutkan, isi kendi tersebut adalah darah hitam. Setelah menerima darah tersebut, Permaisuri meminumnya.
Setelah permaisuri meminumnya, barulah terdengar apa yang mereka bicarakan.
"Jika kau ingin posisimu selamat, serahkan Selir ke-enam padaku," ucap nenek tua itu dengan suara yang sangat serak.
Permaisuri Thanu terlihat berpikir keras. "Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk menyeretnya. Aku lemah."
Nenek tua itu tertawa keras. Tawanya sangat menakutkan dan menyeramkan. Bahkan suara tawa kuntilanak saja kalah. "Kau akan sembuh setelah memakan jantungnya."
Seketika senyum Permaisuri Thanu terbit. "Benarkah? Aku akan sembuh?"
Nenek tua itu mengangguk. "Benar. Karena Sharma bukan gadis biasa."
Mimpi itu benar-benar terasa nyata seolah-olah ia baru saja menjadi seseorang yang tak kasat mata kemudian mengikuti Permaisuri Thanu. Namun ia yakin itu hanya sebuah mimpi.
"Mengapa melamun?" tanya Kaisar.
Sharma hanya menggeleng. "Tidak, Yang Mulia. Hamba hanya terkejut. Hamba pikir hamba telah mati usai penyerangan tadi malam," jawab Sharma bohong.
Kaisar tidak penasaran lagi. Jawaban Sharma sangat masuk akal sehingga ia percaya saja.
* * * *
"Sialan!"
Wanita bersurai hitam, bersuara serak, berkulit keriput, dan berbibir kering itu mengacak-acak isi ruangan. Di ujung ruangan ada bayangan hitam yang setia menonton pertunjukan 'rusak kamar' di hadapannya. Biarkan wanita tua ini mengamuk dulu, baru ia akan melanjutkan perkataannya.
"Hampir saja dia lenyap. Kalau dia lenyap karena racun, jantungnya tidak akan bisa aku gunakan. Dan semua usahaku akan sia-sia." Terakhir wanita itu melempar guci ke arah cermin. Ia benci melihat wajahnya yang mengerikan.
"Kaisar mengasingkan Selir itu kemana?" tanya wanita tua itu.
"Hamba tidak tahu. Sepertinya ke tempat pengasingan di pulau biasanya," jawab bayangan hitam itu.
Wanita tua itu berjalan ke arah jendela. Malam ini rembulan sudah tidak bulat sempurna, pertengahan bulan sudah terlewat satu malam. "Pergilah. Kau harus pastikan gadis itu tidak mati keracunan. Dan selalu cari waktu untuk segera membunuhnya."
Bayangan hitam itu membungkuk. "Baik."
* * * *
"Yang Mulia, tunggu!" Sharma berlari kecil menghampiri Kaisar dan seorang pria yang sedang berjalan ke arah istana utama. Mendengar seseorang memanggilnya, Kaisar pun menghentikan langkahnya.
Sharma berlari dan akhirnya sampai tepat di depan Kaisar. "Yang Mulia, hamba dengar Anda akan pergi ke pulau. Apakah itu benar?" tanya Sharma antusias.
"Hm," jawab Kaisar singkat.
"Bolehkah hamba ikut? Hamba ingin jalan-jalan," ucap Sharma dengan mata yang berbinar.
Pria yang merupakan pengawal pribadi Kaisar pun mengerutkan kening. Entah apa yang ada di pikiran Selir ke-enam itu. "Mengapa Selir Sharma ingin ikut? Ini bukan tentang perjalanan yang baik," ucap pria itu sopan.
Sharma menatap kesal pada pria yang dulu menurunkan dirinya dari atas pohon. "Diam kau Jono. Aku tidak berbicara padamu."
Kaisar menatap tajam pada Sharma. Seharusnya Sharma menjaga sopan santun ketika berbicara pada seseorang saat Kaisar ada di sana.
"Maaf Selir Sharma. Nama saya Erlanh."
"Sesuka hatiku, Elang." Kemudian Sharma kembali fokus pada Kaisar. "Boleh ya? Hamba bosan di istana berdiam diri. Tidak ada apapun yang menghibur. Paman Ajoz sudah pulang ke desa, kak Ader kembali ke perbatasan Barat. Hamba bosan."
Kaisar sebenarnya tidak suka membuang waktu hanya untuk berdiskusi seperti ini. "Ada Wenari dan Nora," jawab Kaisar dengan nada datar.
"Aa ... Mereka tidak asik," jawab Sharma dengan nada dibuat manja.
Kaisar menatap tajam pada Erlanh. "Tutup telingamu atau aku akan menusuk telinga itu dengan pedang panas."
Erlanh langsung menunduk. "Hamba tidak mendengar, Yang Mulia."
Sharma mengerutkan kening, ia tidak mengerti arah pembicaraan Kaisar dan Erlanh.
Kaisar kembali fokus pada Sharma. "Lakukan apapun sesuka hatimu, asalkan jangan mengikuti ku."
Kaisar berbalik badan dan kembali meneruskan perjalanan menuju istana utama. Ia tidak ingin Sharma ikut karena Kaisar akan mengantarkan Selir Rachi ke pengasingan.
'Pulau Pengasingan Utama' adalah nama yang mengerikan bagi seluruh penduduk Negeri Alrancus. Hanya penjahat kelas ataslah yang dikirim ke sana. Tempat itu bagaikan neraka dunia. Mereka yang dikirim ke sana harus rela bertarung dengan hewan demi mendapatkan makan. Tidak ada rumah ataupun tenda, hanya hutan belantara yang diisi oleh hewan-hewan buas.
Manusia di sana harus tidur di bawah pohon, atau di atas pohon. Jika ada hewan buas, maka salah satu dari keduanya harus mati. Jika hewan buas itu mati, maka hewan itu menjadi santapan manusia, namun jika manusia itu yang mati, maka mereka yang akan menjadi santapan hewan buas. Banyak organ tubuh manusia dan hewan yang bertebaran di seluruh pulau. Tempat itu begitu mengerikan.
Sudah cukup banyak bangsawan dan pejabat kekaisaran yang dikirim ke sana. Setelah dikirim ke tempat terkutuk itu, tidak ada kabar lagi dari mereka. Entah mereka masih hidup, ataupun mati.
Hari ini Kaisar sendiri yang mengantarkan Selir Rachi ke sana. Bukan karena ia sayang, melainkan karena Selir Rachi adalah Selirnya. Mengantarkan Selir ke tempat hukuman adalah tradisi di Negeri Alrancus. Hal ini hanya sebagai formalitas bahwa Kaisar memberikan perhatian terakhir pada Selirnya.
"Yang Mulia, apakah membiarkan Selir Sharma berbuat semaunya tidak akan apa-apa?" tanya Elranh ragu. Sebab, Selir yang satu ini gemar sekali membuat keributan. Ia khawatir istana yang indah dan damai ini akan porak poranda jika Sharma dibiarkan berbuat semaunya.
"Biarkan saja. Lagi pula ada Pangeran Giler," jawab Kaisar tidak peduli.
Ada yang bisa menebak apa yang akan dilakukan Sharma? Hahahahahah, Kaisar cari perkara. Selir lincah yang selalu membuat keributan diperbolehkan melakukan apa saja? Hehehehe, Sharma pasti gak akan buang-buang kesempatan. Kapan lagi coba?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaisar & Sang Amora
Romance(Bukan reinkarnasi ataupun time travel, tapi dijamin seru. Jangan asal ditinggal, baca dulu minimal 10 bab, kalau menurut kalian tidak seru, saya ikhlaskan kepergian kalian wahai readers. Tapi pasti seru kok!) Sharma, seorang Amora atau penyihir put...
