Makanan Dari Selir Praniva

31K 2.5K 40
                                        

Kaisar masuk ke dalam kamar kemudian kembali menutup pintu. Ia meninggalkan Permaisuri untuk kembali menunggu. Saat masuk, Kaisar melihat Sharma masih duduk di tepi ranjang dengan selimut melilit di tubuh. Kaisar pun menghampiri.

"Ingin mandi?" tanya Kaisar.

Sharma mengangguk. "Ya Yang Mulia. Tapi hamba sulit untuk berjalan."

Tanpa banyak bicara, Kaisar langsung mengangkat tubuh Sharma dengan sangat mudah. Bagi Kaisar, Sharma benar-benar ringan. "Biar aku antar." Setelah itu Kaisar membawa Sharma ke dalam kamar mandi.

"Yang Mulia, bagaimana dengan Permaisuri Ghauni?" tanya Sharma. Jujur kali ini ia memang tidak sengaja mengganggu Kaisar dengan Permaisuri Ghauni. Ia benar-benar tak bisa berjalan karena ulah Kaisar.

Setelah sampai di kamar mandi, Kaisar mendudukkan Sharma di dalam kolam mandi berukuran 2×3 meter. "Tidak usah pikirkan dia," jawab Kaisar.

Sharma diam karena merasakan nyaman setelah berendam air hangat. Tapi ia ingat, selimutnya menjadi basah. "Yang Mulia, selimutnya basah."

Tanpa diduga, Kaisar menarik selimut agar terlepas dari tubuh Sharma. Beruntung permukaan air kolam mandi dipenuhi oleh bunga sehingga tubuh polos Sharma tidak terlihat. Hanya tulang selangka dan leher saja yang tidak terendam air.

"Mandilah, aku akan menunggu di kursi itu. Jika sudah selesai, katakan padaku." Kaisar berjalan menuju kursi yang terletak di sudut ruang kamar mandi.

* * * *

Keesokan harinya, pada pagi itu udaranya sangat segar. Langit cerah akan tetapi udara tetap sejuk tapi tak dingin pula. Aktifitas di Istana berjalan seperti biasa. Akan tetapi katanya hati ini ada rapat mengenai penarikan pasukan perang dari perbatasan. Katanya, kondisi diperbatasan sudah mulai membaik sehingga prajurit sudah bisa ditarik untuk pulang.

"Yang Mulia tunggu!" Sharma berlari kecil mengejar Kaisar yang berjalan dengan langkah lebar di depannya. Kaisar yang tahu Selir kecilnya mengikuti pun langsung berhenti dan berbalik. Kaisar tidak berkata apa-apa. Menunggu Sharma yang berbicara lebih dulu.

"Yang Mulia. Anda mau kemana?" tanya Sharma setelah mereka berhadapan.

"Ke Istana utama," jawab Kaisar singkat.

Sharma merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan karena berlari tadi. "Yang Mulia."

"Hm?" Kaisar benar-benar ingin Sharma langsung mengatakan apa yang ingin disampaikan. Ia sedang terburu-buru karena para menteri dan pejabat istana lainnya sedang menunggu.

"Jangan lupa janji Yang Mulia nanti malam." Sharma mengingatkan Kaisar tentang janji Kaisar yang akan mengajak Sharma berkeliling istana dengan menunggang kuda. Sebenarnya bukan Kaisar yang berinisiatif, akan tetapi Sharma yang menginginkannya dan memaksa. Karena terus dipaksa, akhirnya Kaisar pun berjanji untuk mengajak Sharma berkeliling.

Kaisar menghela nafas. Ternyata hanya itu yang ingin disampaikan oleh Sharma. "Aku ini Kaisar, tidak mungkin mudah lupa. Apalagi pada janji."

Sharma tersenyum lebar. "Baiklah, Yang Mulia boleh pergi." Tapi nyatanya Sharma yang lebih dulu pergi meninggalkan Kaisar.

Kaisar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian kembali meneruskan langkahnya.

Setelah menemui Kaisar untuk mengingatkan janjinya, Sharma langsung kembali ke istana Selir. Akan tetapi di tengah jalan ia dicegat oleh Permaisuri Ghauni dengan dua pelayan pribadinya. Sepertinya Permaisuri Ghauni memiliki suatu urusan yang penting sehingga mencegatnya di tengah jalan seperti pembegal.

"Ada apa, Permaisuri Ghauni?" tanya Sharma langsung tanpa memberikan hormat.

Permaisuri Ghauni geram dengan Sharma yang tak tahu sopan-santun. Ia telah mendapatkan penghormatan dari semua orang, kecuali Selir Sharma ini. Ingin sekali rasanya ia menciumkan kepala Selir itu di kakinya.

"Selir Kesayangan Kaisar, mengapa kau tidak memiliki sopan-santun? Aku adalah Permaisuri sedangkan kau hanya Selir yang diambil dari hutan. Apakah kau tidak tahu posisi derajatmu?"

Permaisuri Ghauni benar-benar memiliki mulut yang sangat tajam. Berbanding terbalik dengan Permaisuri Thanu yang lemah lembut. Akan tetapi Sharma lebih suka berhadapan dengan Permaisuri Ghauni yang apa adanya, kecuali di depan Kaisar. Tidak seperti Permaisuri Thanu yang berwajah dan bersuara malaikat, tapi hatinya iblis jahanam.

"Oh, justru karena aku berasal dari hutan, jadi aku tidak tahu sopan-santun. Sebagai Permaisuri, seharusnya Anda bisa mengajari aku sopan santun, bukan? Coba tolong contohkan bagaimana cara memberi hormat yang baik dan benar."

Permaisuri Ghauni mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Sharma benar-benar membuat ia jengkel. Sepertinya ia harus membuat pelajaran. "Sepertinya berbicara padamu hanyalah membuang waktuku." Kemudian Permaisuri Ghauni pergi dengan memikirkan bagaimana caranya memberikan Sharma pelajaran tanpa harus diketahui oleh Kaisar.

* * * *

Sharma sedang tidur siang. Sharma merasa bosan sehingga ia mengantuk. Sharma tidur di ranjangnya dengan gaya bebas. Kalian tentu tahu seperti apa Sharma ketika tidur. Setelah hampir satu jam, akhirnya Sharma terbangun. Ia menguap berkali-kali sambil mengucek matanya.

"Wenari, Nora." Jika berada di istana Selir, ketika bangun tidur, ia akan langsung memanggil nama kedua pelayanannya. Ia ingin memastikan pelayannya itu masih hidup setelah ia tinggal tidur.

Beberapa saat kemudian datang Wenari dan Nora. "Saya Nona," ucap keduanya sambil membungkuk hormat.

Sharma kembali menguap. Kali ini sampai merentangkan tangannya. "Aku lapar. Siapkan makan siang untukku."

Nora membungkuk lagi. "Kebetulan tadi pelayan Selir Praniva datang membawa makanan. Katanya hari ini Selir Praniva sedang berulang tahun sehingga Selir Praniva ingin membagikan makanan," ucap Nora.

"Makanan apa yang dia bagikan?" tanya Sharma ingin tahu.

"Manisan, Nona," jawab Nora.

Mata Sharma langsung berbinar. "Manisan? Wah, sepertinya aku belum memakan makanan itu. Cepat bawakan untukku."

Nora mengangguk dan langsung pergi ke dapur Sharma. Tak lama kemudian Nora kembali lagi. Nora langsung menyerahnya semangkuk manisan itu untuk Sharma.

Karena Sharma sudah sangat lapar, Sharma langsung melahap tanpa menawarkan pada kedua pelayanannya. Beberapa menit kemudian isi mangkuk ludes oleh Sharma. "Hmm, ini sangat enak. Jika kau bertemu dengan pelayan Selir Praniva, katakan aku berterima kasih dan sering-seringlah berbagi makanan seperti ini."

Nora dan Wenari tersenyum senang melihat nona mereka menyukai makanan yang diberikan oleh Selir Praniva. Mereka juga berharap nona mereka bisa sedikit lebih akrab dengan salah satu Selir Kaisar sehingga mereka tidak selalu menjadi sasaran empuk ketika nona mereka sedang bosan.

"Tentu Nona," ucap Nora sambil mengambil mangkuk kosong di tangan Sharma.

Saat Nora pergi meletakkan mangkuk kosong ke dapur, Wenari berjalan menuju meja disudut ruangan untuk mengambilkan Sharma air minum. Wenari memang selalu berinisiatif tanpa harus diminta. Bisa dikatakan, dari pada Nora, Wenari lebih baik dan lebih cekatan.

"Nona, ini minumannya," ucap Wenari sambil menyodorkan gelas berisi air putih.

Sharma menoleh dan hendak mengambil gelas dari tangan Wenari. Tapi tiba-tiba ....

Krebeuk.

Sharma memegangi perutnya sambil meringis.

"Kenapa Nona?" tanya Wenari mulai khawatir.

"Perutku mulas!" Sharma turun dari ranjangnya dengan cepat kemudian berlari terbirit-birit sambil memegang perut dan duburnya.

Waduh, Sharma di kasih apaan itu. Oh ya, seperti biasa, ada satu episode lagi.

Kaisar & Sang AmoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang