Kaisar Khawatir

31K 3.2K 35
                                        

Haikal yang sedang ada di atas pohon langsung mengalihkan perhatiannya pada Sharma. "Kenapa? Tidak suka?"

"Ini enak sekali!" Sharma melompat kegirangan kemudian memakan buahnya sampai habis. Setelah habis, Sharma melompat-lompat kecil sambil bertepuk tangan memandang Haikal yang ada di atas pohon. "Lagi-lagi!"

Melihat tingkah Sharma yang begitu imut dan lucu, Haikal tak kuasa lagi menahan tawanya. "Baiklah, baiklah."

Haikal mengambil buah Sraca sebanyak-banyak nya. Sebenarnya ia tidak ingin mengambil banyak karena buah itu masam dan takutnya membuat perut Sharma sakit. Namun lagi-lagi bukan Sharma namanya kalau tidak bisa memaksa. Alhasil Haikal harus mengantungi buah itu dengan jubahnya. Ia berjalan sambil menggendong buntalan buah, sedangkan Sharma sibuk makan sambil berjalan riang.

"Hati-hati tersedak." Haikal memperingati.

"Hmm," jawab Sharma acuh tak acuh.

Di lain tempat, Kaisar, Azoch, Pangeran Giler dan Erlanh masih mencari keberadaan Sharma. Kaisar menumpas habis pepohonan yang menghalangi jalan mereka tanpa henti. Mungkin itu dilakukan untuk menyalurkan emosi yang menggebu-gebu. Jika Kaisar berhasil menangkap pelakunya, maka orang tersebut harus mati mengenaskan. Dan jangan lupa, ia juga harus menghukum Selir kecilnya yang lincah itu.

Ketika mereka tiba di tempat yang sedikit lapang, mata Kaisar melihat ada bekas tumpukan ranting yang dibakar. Kemungkinan api tersebut sudah tidak menyala sejak beberapa hari. Tak jauh dari bekas api unggun itu, mata Kaisar menangkap sebuah kain hijau tua. Segera Kaisar berjalan ke arah kain tersebut kemudian mengambilnya.

"Sharma ...." Kaisar berkata lirih sambil meremas kuat kain hijau tua yang ada di genggamannya.

Walaupun pelan, Erlanh dan Pangeran Giler dapat mendengar dengan cukup baik. Mereka menoleh kebelakang dan melihat Kaisar sedang meremas kain hijau. Erlanh terkejut bukan main dan buru-buru menghampiri Kaisar.

Kaisar mencium jubah hijau tersebut sambil memejamkan mata.  "Ini Sharma." Beberapa hari bersama Sharma, Kaisar sudah mulai terbiasa dan mengenali wangi Sharma. Ia yakin jubah ini sebelumnya telah digunakan oleh Sharma.

"Kita sudah mendapatkan satu petunjuk. Kemungkinan empat hari yang lalu Sharma berada di sini. Tapi, ke mana lagi kita harus mencari?" Sejak tadi malam Kaisar tidak tidur sedetikpun, namun rasa lelahnya seperti tidak pernah datang. Semangat baru kembali tercipta setelah menemukan lokasi Sharma sebelumnya.

Saat semua sedang berpikir, tiba-tiba suara kepakan sayap burung terdengar. Azoch langsung menengadah sambil mengangkat tangannya ke langit. Ia mengenali suara kepakan elangnya. Biasanya Amerta tidak pernah mengeluarkan suara kepakan sayap, tapi setiap kali memanggil Azoch, Amerta akan sengaja mengeluarkan suara.

"Bukankah dia kau perintahkan untuk mencari sosok hitam itu?" tanya Kaisar setelah Amerta bertengger di lengan Azoch.

"Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan, Yang Mulia." Kemudian Azoch menatap mata Amerta untuk mendapatkan informasi. Tak lama kemudian Azoch membungkuk. "Saat dalam perjalanan menyusuri jejak sosok hitam itu, tak sengaja Amerta mencium keberadaan Selir Sharma. Dia langsung mencari sumbernya dan melihat Selir Sharma sekarang sudah berjalan ke arah sebuah desa. Dan Selir Sharma tidak sendirian, ada seseorang yang menjaganya."

"Benarkah?" Wajah Kaisar yang semula suram, kini sedikit cerah.

"Benar, Yang Mulia."

"Dari sini, arah desa terdekat selain desa Teh adalah ke sebelas timur. Di sana ada desa Xululun. Kita berjalan ke arah sana!" perintah Kaisar tegas sambil mulai berjalan.

Tanpa menunggu waktu lama, semuanya mengikuti Kaisar. Mereka berjalan sambil memanggil nama Sharma, kecuali Kaisar. Kaisar lebih menajamkan penglihatannya dari pada harus ikut berteriak-teriak seperti yang lainnya. (Biasa, suara emas.)

"Huh?" Sharma tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Haikal menoleh kepada Sharma. "Ada apa?" tanya Haikal heran.

Sharma menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga agar tidak menghalangi indera pendengarannya. "Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Apakah kau dengar?"

Haikal tidak perlu sedramatik Sharma yang menunjukkan ekspresi sangat serius. Haikal cukup diam sejenak. "Ya, aku dengar."

"Sharma!" Akhirnya suara itu semakin jelas.

Mata Sharma langsung berbinar. "Apakah itu Kaisar?" Tanpa mempedulikan Haikal, Sharma berbalik arah dan berlari ke arah sumber suara. "Yang Mulia!"

"Yang Mulia!"

Kaisar menghentikan langkahnya begitu mendengar suara teriakan yang sangat tidak asing. Kaisar menoleh ke arah datangnya suara. Yang ia lihat pertama kali adalah pohon-pohon yang bergoyang, kemudian muncullah sosok gadis yang sangat ia khawatirkan. "Sharma."

Sharma berlari dengan senyum lebar dan juga rentangan tangan yang lebar. Sharma sudah sangat siap memeluk Kaisar. Ia siap menciptakan drama romantis. Kaisar akan memeluk permaisurinya, mengangkatnya, lalu berputar-putar sambil mengutarakan kekhawatiran dan kerinduan.

"Berhenti di sana!" Kaisar menunjuk Sharma dengan tegas.

Ciiiiiiitttt

Sharma langsung mengerem. Lagu romantis dan bunga-bunga yang hanya ada di imajinasi Sharma langsung hilang seketika dan berganti dengan suara jangkrik hutan.

"Yang Mulia?" Sharma menunjukkan wajah memelas. Sekarang ia tahu Kaisar akan menghukum nya. Dari mana dia tahu? Tentu saja dari wajah suram Kaisar.

"Angkat sebelah kaki!" perintah Kaisar lebih tegas lagi.

Sharma mengerucutkan bibirnya lalu mengangkat satu kakinya. Sedangkan Pangeran Giler, Erlanh dan Azoch terkejut dengan sikap Kaisar pada Sharma. Bukannya memeluk Selirnya, Kaisar lebih memilih langsung menghukum Selir kecilnya itu.

"Yang Mulai tidak bisa diajak romantis," gerutu Sharma sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada dan satu tangan di belakang pinggang. "Sekarang hamba harus mengatakan janji apa?"

Kaisar tidak menjawab, Kaisar hanya berjalan ke arah Sharma dengan langkah lebar. Kaisar berhenti melangkah ketika jarak mereka tinggal dua jengkal.

Sharma ingat dengan janji yang waktu itu ia ikrar kan, ia pun memilih untuk mengucapkannya lagi. "Selir Sharma akanhhmmpp-"

Mata Sharma membulat ketika Kaisar meraih pinggangnya kemudian menciumnya begitu saja. Dan parahnya lagi di depan Pangeran Giler, Erlanh dan Azoch. Apakah Kaisar tidak malu?

Setelah beberapa detik, Kaisar menjauhkan wajahnya. "Bisakah kau menuruti ku sekali saja? Atau haruskah aku mengurungmu?" Suara Kaisar melembut sedikit. Akan tetapi wajahnya tetap sama, datar dan dingin.

Sharma mendongakkan kepalanya. "Hamba-"

"Sharma-" Haikal keluar dari semak-semak dan berhenti ketika melihat seorang pria yang tampan dan gagah tengah memeluk Sharma.

HEHEHEHE 😁. Akan seperti apa reaksi Kaisar? Tenang, malam ini Sely up dua episode lagi.

Kaisar & Sang AmoraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang