Surprise! Sely up satu lagi nih. Jadi malam ini Sely up 3 episode ya. Ini sebagai ucapan terima kasih Sely atas dukungan dan juga vote dari kakak-kakak semua. Makasih juga untuk yang udah komen, jangan lupa untuk terus komen supaya sely jadi tambah semangat. Dan bagi yang cuma baca aja, semoga nanti mau kasih vote dan komentar ya. Makasih. Lanjut!
Sharma terus berlari masuk ke dalam hutan. Ia berlari tak tentu arah asalkan orang-orang suruhan Raja Viath tidak menangkap dirinya. Namun sayang seribu sayang, kakinya yang sudah penuh luka karena menginjak batu runcing dan ranting-ranting sudah tak sanggup berlari lagi. Kakinya lemas dan akhirnya jatuh.
"Hah, dasar bocah. Membuat kami lelah saja." Ketua dari mereka langsung mengangkat tubuhnya setelah berhasil menyusul.
"Lepas!" Sharma kecil memberontak dan tiba-tiba saja cahaya biru keluar dari tubuh Sharma. Inilah yang Sharma kecil tidak ketahui. Tubuhnya akan mengeluarkan cahaya biru dengan sendirinya jika ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia masih kecil sehingga belum bisa mengendalikan kekuatannya.
Orang-orang suruhan Raja Viath langsung terjatuh. Setelah terjatuh mereka mengeluarkan pedang masing-masing. Mereka pikir untuk menangkap Sharma tak bisa menggunakan cara seperti menangkap anak kecil. Mereka harus menggunakan cara keras.
Pertarungan pun terjadi. Sharma banyak terluka karena ia belum terbiasa melawan serangan fisik. Terakhir, Sharma menyerang mereka dengan sisa kekuatan yang dimiliki. Beruntung ia berhasil dan kembali berlari.
Rasa takut mulai menyerang dirinya saat ia semakin jauh berlari. Ia takut berpisah dengan Ader. Ia takut dirinya tertangkap dan tak bisa bertemu dengan Ader lagi. Hanya Ader yang ia miliki di dunia ini, ia tidak ingin kehilangan kakaknya juga. Terakhir kakinya tersandung dan ia langsung bersembunyi di semak-semak. Mungkin sembunyi lebih aman dari pada terus berlari.
Sambil bersembunyi, ia menangis tersedu-sedu. Kembali teringat ibu dan ayahnya yang kini telah tiada. Bagaimana nasib jasad ayah dan ibunya? Ia mengelap air matanya menggunakan tangan yang penuh darah. Alhasil wajahnya penuh darah.
Srak. Tak tuk tak tuk tak tuk. Terdengar suara langkah kaki kuda.
"Pangeran, kami akan pergi ke arah timur. Jika sudah berhasil memanah buruan, segeralah susul kami." Terdengar suara seorang pria.
"Ya." Terdengar lagi suara anak laki-laki.
Sharma langsung duduk tegak. Apakah orang itu adalah orang baik? Mereka sedang berburu, bukan mencarinya. Dengan suara yang sudah lemah, ia pun meminta tolong.
"To ... Long. Tolong."
"Siapa di sana?" Terdengar suara anak laki-laki itu.
Sharma diam sejenak. Bagaimana ini? Apakah ia tidak akan salah bertindak? Bagaimana jika orang itu adalah orang jahat?
Sharma pun terkejut ketika tempat persembunyiannya dibuka. "Kau siapa?" tanya anak laki-laki yang ternyata sangat tampan. Akan tetapi ia malah semakin ketakutan begitu melihat pria itu memakai pakaian kerajaan. Ia seakan trauma melihat orang-orang berpakaian kerajaan.
"Tenanglah. Aku bukan orang jahat." Anak laki-laki itu jongkok di depan nya dan memeriksa kondisi tubuhnya. "Kau terluka parah. Aku akan membawamu ke istana." Anak laki-laki itu melepaskan sabuk kainnya kemudian melilitkannya ke lengan Sharma yang terluka parah.
Sharma malah menangis mengingat kembali keluarganya. "I-ibuku ... Kakakku ...."
Anak laki-laki itu meletakkan pedangnya di tanah kemudian berniat menggendong dirinya. "Jangan pikirkan yang lain. Kau harus diobati segera."
Baru saja anak laki-laki itu mengangkat tubuh Sharma, mereka mendengar suara langkah kaki kuda. Anak Laki-laki sepertinya sedang menajamkan indera pendengarannya. "Kau tunggu di sini. Aku akan mengusir mereka." Anak laki-laki itu melepaskan Sharma kemudian mengambil pedangnya.
"Hei! Kalian siapa?"
Sharma mengintip sedikit. Ia terkejut melihat orang-orang suruhan Raja Viath datang membawa kuda. Jika mereka memakai kuda, sudah pasti ia akan tertangkap. Bagaimana jika nanti anak laki-laki ini kalah? Sudah pasti akan langsung tertangkap.
Akhirnya secara diam-diam ia melarikan diri lagi. Mungkin anak lelaki itu bisa mengulur waktu.
Sharma berlari lagi. Tiba-tiba saja ia bertemu dengan prajurit penjaga perbatasan. Para prajurit itu tak sengaja melihat dirinya. "Hei, bukankah itu anak kecil yang beberapa bulan lalu dibawa oleh Raja Viath? Apakah dia melarikan diri?"
Sharma ketakutan. Ia langsung berlari menjauh lagi.
"Begitulah ceritanya sampai hamba bertemu dengan paman Ajoz. Setelah para prajurit itu pergi, paman membawa hamba pergi mencari kak Ader. Setelah menemukan kak Ader, paman Ajoz membawa hamba ke negeri Alrancus."
Kaisar menarik Sharma ke dalam pelukannya. Hatinya terasa perih saat melihat Sharma menangis. Ia bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Sharma saat kecil dulu. Pasti sangat ketakutan dan hampir putus asa. "Semuanya telah berlalu. Sekarang kau harus menatap ke depan. Ke masa depanmu."
Sharma mengangguk. Ia sendiri tak ingin larut dalam kesedihan masa lalu. Ibu dan ayahnya pasti sudah bahagia melihat dirinya tumbuh dengan hari-hari yang bahagia. Setelah merasa tenang, Sharma melepaskan diri dari Kaisar. "Mengapa ikat pinggang itu ada pada Anda, Yang Mulia? Apakah Anda menemukan itu di hutan? Saat hamba dibawa oleh paman Ajoz, hamba tidak ingat kalau ikat itu lepas dari lengan hamba."
Kaisar menggedikkan bahu. "Aku mengambil ini dari kamar Permaisuri Thanu." Kemudian Kaisar menceritakan pertemuannya dengan Permaisuri Thanu di desa kecil itu kemudian menghubungkannya dengan cerita Sharma. "Dia mengaku-ngaku menjadi gadis kecil yang aku selamatkan," ucap Kaisar dengan raut yang sedikit marah.
"Mungkin Permaisuri Thanu menemukan ikat pinggang itu setelah hamba tak sengaja menjatuhkannya," ucap Sharma.
Kaisar mengangguk. "Sepertinya memang seperti itu. Sejujurnya, perasaanku pada Permaisuri tak lebih dari rasa sayang. Aku menyayanginya karena berpikir dialah gadis pertama yang aku selamatkan. Saat menyelamatkan gadis kecil itu, aku merasa bangga, aku merasa berguna, aku merasa menemukan seseorang yang berharga. Oleh sebab itu ketika mengetahui Permaisuri Thanu lah gadis kecil itu, aku langsung membawanya ke istana. Kemudian setelah dewasa, aku merasa aku menyukainya. Namun aku sadar, perasaanku pada Permaisuri tak pernah berkembang menjadi rasa cinta."
Sharma langsung mencebikkan bibir. "Eleh, sekarang sudah tahu Permaisuri berkhianat, baru mengatakan tidak mencintainya."
Kaisar melirik Sharma kemudian mencubit bibir imut milik selirnya itu. "Kau berpikir berlebihan."
Sharma menepis sambil memberengut kesal. "Jujur saja Yang Mulia."
Kaisar menghela nafas. "Terserah apa katamu saja. Jika kau tidak percaya ya sudah." Kemudian Kaisar berdiri. "Nanti akan ada bibi Anela menyiapkan air mandi. Aku akan pergi mengurus sisa kekacauan tadi malam." Kemudian Kaisar melangkah pergi.
Sebelum menutup pintu, Kaisar menoleh. "Jangan lupa jaga kesehatan kandungan palsumu itu." Setelah itu Kaisar menutup pintu.
Sharma terkekeh sambil mengelus perutnya. Ia hampir lupa bahwa sekarang ia masih bersandiwara mengandung anak Kaisar. Huft, seandainya ia benar-benar mengandung, pasti Kaisar akan sangat memperhatikan dirinya.
Eh? Apakah harus benar-benar mengandung?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaisar & Sang Amora
Romance(Bukan reinkarnasi ataupun time travel, tapi dijamin seru. Jangan asal ditinggal, baca dulu minimal 10 bab, kalau menurut kalian tidak seru, saya ikhlaskan kepergian kalian wahai readers. Tapi pasti seru kok!) Sharma, seorang Amora atau penyihir put...
