57-Epilog

54 0 0
                                        

Assalamu'alaikum...

Hai, apa kabar para pembaca 'pernah patah' yang budiman? Semoga sehat selalu ya:))

Setelah lama hiatus, yap akhirnyaaaa aku balik lagi menyapa kaliannn. Ngomong-ngomong ada yang rindu author nya ngga sih? Kayaknya ngga ada ya wkwk

Ada yang masih ingat sama cerita ini atau sekedar masih menyimpan di perpustakaan? Atau justru lupa, karena ketumpuk cerita lain? Yap, kali ini aku datang bawa part epilog untuk kalian. Seneng ngga??

Sebenarnya untuk aku sendiri ngga ada niatan buat kelanjutan cerita ini. Tapi entah kenapa, kalau aku biarin gantung rasanya kayak ada yang ganjel. Iya, seperti perasaan cinta aku ke dia, tapi aku milih pendem terus, pasti taulah rasanya gimana. wkwk

Udah ya segini aja dari author:))
Selamat membacaa^^


***

Lima tahun kemudian...

Dengan menutup pelan buku usang itu. Ku gerakkan tanganku kembali meletakkannya diantara deret buku lainnya.

Setelah lima tahun menyelam bersama kisah. Aku tak menyangka, jika pada akhirnya mengantarkanku pada titik puncak sesungguhnya.

Bukan hanya perihal cinta yang kemudian berakhir patah, melainkan bagaimana keikhlasan itu tertanam, saat kehendak takdir memilih tak sejalan.

Menyeka air mata pelan. Tatapanku masih tak lepas memandangi aksara yang terukir pada diary itu.

'Pernah Patah'

Bahkan, aku yang sempat berpikir, jika patah dalam mencintainya adalah penutup kisah. Nyatanya, dengan patah justru mengantarkanku pada singgah sesungguhnya.

"Nda, Nda."

Menyadari terdapat sesuatu yang menarik gamisku. Kini, bukan hanya membuat lamunanku membuyar, melainkan tatapanku yang beralih pada sang empu.

Dengan netra yang sipit, kemudian dipadu ujung hidung yang runcing serta bibir mungil. Terlihat, patrian itu benar-benar tak jauh berbeda dengan sang Ayah. Menjadikan sudut bibirku yang tak mampu menahan senyum. Memilih beranjak dari kursi, membawa tubuhnya dalam gendonganku.

"Zayan sudah selesai bermain bersama Ayah, hmm?"

"Dah, Nda. Dah," balasnya, membuatku yang terkekeh geli, kian mendaratkan kecupan hangat di area wajahnya.

Meski dalam gaya bicara Zayan masih sedikit terbata, karena mengingat usianya baru menginjak tiga tahun. Namun, dengan keaktifan Zayan yang memang tidak dapat diragukan lagi. Kini, terhitung sudah satu minggu sudah, aku memasukkan Zayan pada salah satu play group school terdekat.

Selain mengembangkan dan mengasah keterampilan yang ada. Aku juga berharap jiwa sosialiasi dalam dirinya dapat terbentuk sejak dini.

"Bunda sudah buatkan sayur bayam untuk Zayan. Zayan lapar tidak?" ucapku, membuat tatapannya berbinar indah.

"Au, Nda."

Karena tak mampu menahan gemas yang ada. Dengan pelan, aku mendaratkan cubitan kecil di pipi gembulnya.

Setelah sup ayam yang menjadi kesukaan Zayan. Kini, sayur bayam memang tak kalah juga menempati menu favoritnya.

"Kesayangan Bunda sudah bisa menjawab pertanyaan Bunda, ya?"

"Yah, Nda."

Kembali terkekeh. Perlahan, aku pun melangkahkan kaki ku. Kebiasaan Zayan yang selalu menyangkal, jika dirinya hanya menjadi kesayanganku. Tak memungkiri, jika wajah masam itu selalu diperlihatkannya.

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang