Zayn pov--
Hari ini cukup melelahkan. Walau kerjaanku hanya melamun di kelas. Entah kenapa hari hari ku terasa semakin aneh. Sudah 3 hari ini aku merasa kepalaku sangat pusing dan berat. Aku sudah cek ke dokter, dan dokter bilang aku baik baik saja. Hanya kelelahan. Tapi apa yang ku lakukan hingga kelelahan? Memikirkan Rachel, huh? Tidak mungkin. Untuk apa aku memikirkannya.
"Hey Mate, feel bad?" Ucap seseorang di sebelahku tiba tiba.
"A little, Haz. Entah kenapa akhir akhir ini aku merasa sangat pusing dan kepalaku terasa berat." Balasku padanya. Ya, dia Harry Styles. Sahabatku.
"Mungkin kau perlu minum obat, Zayn. Biar ku ambilkan ya." Ucapnya dan mulai beranjak dari sofa kamarku.
"Thank's, Haz."
***
"Hey, Zayn!"
"Zayn!!"
"Hello? Are you there?" Ucapan seseorang menyadarkanku yang telah hanyut dalam pikiran yang rumit ini. Aku melamun cukup lama hingga aku tak menyadari ke hadiran Harry kembali ke kamarku.
"Hey, what's up?" Balasku sambil memukul mukul pelan kepalaku.
"Are you okay, Zayn?" Tanya Harry.
"Yeah!" Jawabku.
"Nah ini obatmu. Aku sudah buatkan teh juga untukmu. Ku harap itu bisa membantu." Ucapnya sambil menyodorkan 1 buah cangkir dan 1 bungkus obat tablet padaku.
"Thank's, Haz!"
Aku segera meminum obatku dan meneguk cepat teh yang dibuat Harry hingga habis.
"Emm, Haz. Sepertinya tehnya kurang gula." Ucapku sambil menjulurkan lidahku yang kepaitan.
"Oh ya? I'm sorry. Aku jarang membuat teh." Jawabnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang sudah pasti tidak gatal itu.
"No problem, berapa sendok gula yang kau masukkan?"
"Hmm, 2 setengah."
"Sepertinya itu takaran normal. Mengapa aku merasa kepahitan ya?" Ucapku.
"Oh em.. Mungkin karena kau sedang sakit, Zayn." Balasnya cepat.
"Oh yeah. Maybe"
"So, ada apa denganmu, Mate? Sepertinya akhir akhir ini kau sedang kacau." Ucapnya mulai beranjak dari sofa dan menghampiriku. Aku bersandar pada kepala ranjangku. Aku bahkan tak tahu mengapa pikiranku kacau akhir akhir ini.
"Entahlah. Semenjak kehadiran Rachel, aku menjadi seperti ini." Ucapku seolah olah menyalahkan Rachel.
"Hey, jangan berkata seperti itu, Zayn. Dia tidak salah apa apa." Balas Harry.
"Kau membelanya, huh?"
"Nope, Zayn. Aku hanya berkata yang sebenarnya."
"Oh ya? Hm"
"Ceritalah padaku, Zayn. Mungkin itu membuatmu lebih ringan."
"Aku tak tahu apa yang harus ku ceritakan padamu."
"Oh god. Just tell it, Zayn." Ucapnya dengan nada sedikit memaksa.
"Alright. I will tell you."
"Yeah!"
"Entah mengapa semenjak aku bertemu Rachel ada suatu hal aneh yang kurasakan. Saat pertama kali bertemu, aku menyukainya. Yeah, dia gadis yang cantik, manis, baik dan bisa dibilang ramah. Tapi entah kenapa jika aku bertemu dengannya, atau lebih tepatnya berkontak dengannya aku merasa otakku ingin sekali menyakitinya. Walaupun hatiku berkata lain. Dan 3 hari belakangan ini kepalaku terasa sangat pusing seperti yang tadi sudah ku bilang. Tetapi semenjak kita makan di kantin tadi pusingku mulai berkurang dan saat melihat Rachel mendekatiku, seperti yang sudah ku bilang tadi. Otakku seperti terprogram untuk menyakitinya. Yeah, sampai di rumah sekarang sakit itu datang lagi." Jelasku panjang lebar dan ku lihat Harry memasang ekspresi yang aneh. Penasaran mungkin?
"Hmm, i see."
"Aku tak tau apa yang terjadi padaku ini, Harry. Sepertinya aku harus ke rumah sakit jiwa." Ucapku.
"Hey hey. Kau masih waras, Zayn. See, kau bisa bercerita sejujurnya padaku dan itu cukup meyakinkan kalau kau masih waras." Ucapnya dan berhasil membuatku terkekeh.
"Haha, Thank's for make me feel more relieved." Balasku.
"Yeah!"
Niall pov--
Aku tak tau apa yang terjadi antara Zayn dan Rachel sekarang. Mendengar cerita Nichole aku semakin yakin kalau Zayn bukan lelaki yang baik. Baru saja berbaikan 3 hari, dia langsung berbuaf dingin kembali. Mungkin dia badmood? Atau sedang ada masalah? Aku tak peduli. Yang jelas aku harus terus mengawasi lelaki berjambul itu.
"Hey, Niall! Are you there?" Ucap seseorang sambil melambai lambaikan tangannya di depan mukaku.
"Yeah, Nic. Sampai di mana tadi?" Ucapku sambil menggeleng gelengkan kepala agar aku tidak melamun lagi.
"I ask you, Mr. Horan." Balasnya
"What? Maaf aku tidak mendengarnya tadi. Bisa kau ulangi lagi pertanyaanmu itu?"
"Kau cemburu?"
"Cemburu? Dengan siapa?"
"Cemburu dengan Harry, of course. Karena sepertinya dia berusaha mendekati Rachel."
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of the bad Experience -One Direction-
Fanfiction[COMPLETED] 'Dari hidupku ini, aku bisa mengambil banyak pelajaran. Ada orang egois yang ternyata bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh orang lain hanya karena mengikuti egonya. Ada orang yang aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengannya...
