Sorry for typo(s)
**
Rachel pov--
Aku mengerjapkan mataku. Hufft, aku tertidur sesaat setelah aku membaca surat tadi.
Aku mengacak acak rambutku frustasi. Kenapa harus aku yang kena terror? Sebenarnya apa yang orang itu inginkan dan siapa dia?
Aku melihat sekeliligku. Surat itu masih terbuka tepat di sampingku. Astaga, teledor sekali. Bagaimana jika tadi Violi masuk dan membaca surat itu? Huh.
Segera aku melipat kembali surat tadi dan meletakkannya di laci nakas paling dalam. Mengurangi kemungkinan orang lain menemukannya atau bahkan mengurangiku untuk mengingatnya.
Segera aku menuju kamar mandi dan mencuci wajahku. Aku menyisir rambutku dan ku ikat ekor kuda. Kemudian aku keluar kamar dan menuju taman untuk segedar menghirup udara segar.
"Tidur lagi, huh?" Tanya seseorang tiba tiba yang berhasil mengejutkanku.
"Bisakah kau berhenti untuj mengejutkanku?" Ucapku sarkastik.
"Ups, sorry. Kau mau kemana?" Tanya Violi sembari mengikutiku.
"Taman. Menghirup udara segar." Balasku santai.
Aku duduk di kursi santai yang terletak di taman rumahku. Memandangi langit yang sekarang tak panas dan juga tak mendung.
"Berminat untuk ikut mengajar lagi?" Tanya Violi tiba tiba.
"Hmm, kau akan pergi sekarang?" Tanyaku.
"Ya, kalau kau tak mau ikut." Balasnya santai.
"Baiklah, aku ikut." Ujarku.
Mungkin dengan mengajar anak anak yang begitu ceria dapat menghilangkan sejenak masalah masalahku.
Dan di sinilah aku. Di tengah anak anak yang kurang mampu sedang belajat dengan ceria. Aku jadi teringat Niall. Dia sering sekali mengatakan 'kapan aku punya anak' apabila melihat anak anak kecil, padahal umurnya baru 17 tahun. Pasti akan sangat menyenangkan jika Niall ada di sini, bermain dan belajar bersama anak anak kecil ini.
"Okay, adik adik. Sampai di sini dulu ya belajarnya. Kita ketemu lagi lain waktu." Ucap Violi pada anak anak tersebut mengakhiri pembelajaran hari ini.
Setelahnya anak anak mulai bubar dan beberapa ada yang bermain, tetapi ada juga yang langsung pergi. Mungkin pulang.
"Hey, melamun saja!" Seru Violi.
"Tidak." Balasku berbohong.
"Jam berapa sekarang?" Tanyaku.
"Jam 5 tepat." Ujarnya.
"Seriously? Aku harus pergi jam 7 nanti. Lebih baik kita pulang sekarang. Aku harus bersiap siap." Ujarku.
"Baiklah."
**
Aku menatap pantulan diriku di cermin.
Apa ini sudah bagus? Aku memakai dress yang ku beli bersama Violi dan di tambah make up tipis di wajahku.
Aku memutar tubuhku. Hmm, tidak buruk.
Aku berjalan keluar kamar dan sesaat kemudian, aku mendengar suara bel berbunyi.
Aku mempercepat langkahku menuju pintu depan.
Oh, aku sudah keduluan Violi.
Violi berbalik dan menatapku yang memang sudah di belakangnya.
"Oh, my. Gosh! Kau cantik sekali, Rachel!" Serunya.
Aku meletakkan telunjukku di bibirku. Mengisyaratkan untuknya diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of the bad Experience -One Direction-
Hayran Kurgu[COMPLETED] 'Dari hidupku ini, aku bisa mengambil banyak pelajaran. Ada orang egois yang ternyata bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh orang lain hanya karena mengikuti egonya. Ada orang yang aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengannya...
