Udah mau chapter 20 nih, aku harap gak ada lagi yang jadi silent readers yaa! Thankyou for reading!
Sorry for typo(s)
**
Rachel pov--
Astaga yang benar saja. Tebak aku sedang di mana? Aku berada di pelukan seseorang yang ku rindukan beberapa hari terakhir ini. Orang yang membuatku kacau bahkan sampai mencoba untuk bunuh diri. Mengingat hal itu, aku berpikir bertapa bodohnya aku. Memilih untuk bunuh diri atas berita yang belum pasti dan meninggalkan orang orang yang ku sayangi. Huh, lupakan itu.
Ya, aku sedang berada di pelukan Nichole. Kakak sulungku. Pelukan hangat ini, pelukan yang sangat ku butuhkan untuk saat ini. Nichole mendekapku erat aku membalasnya. Tak terasa air mataku menetes. Bukan sedih. Aku hanya sangat bahagia.
Pelukan ini akhirnya mengendur. Nichole melepas perlahan pelukan ini. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Hey, kau menangis, sweety." Ucapnya. Masih sama seperti dulu.
"Aku bahagia, Nic." Balasku sambil menunjukkan senyumku.
"Kau tak berubah ya!" Balasnya lagi. Ia kembali menaiki ranjangnya. Duduk di sudutnya. Membiarkan kakinya menggantung. Ia menunduk entah apa yang ia perhatikan.
Aku mengikuti arah pandangannya. Dan sekarang aku tahu apa yang ia perhatikan. Kakinya. Aku teringat perkataan suster tadi. 'Ia datang seorang diri dengan penampilan yang urak urakan dan dengan sebelah kaki yang pincang'.
Aku menatapnya iba. Ia masih tertunduk. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya. Menyenderkan kepalaku ke bahunya dan menggenggam erat tangannya. Sungguh, kami seperti orang pacaran.
"Kakimu.." Ucapku selembut mungkin agar ia tidak tersinggung.
"Ya, kakiku, Rachel. Dokter bilang tulang kaki kiriku remuk. Mungkin akibat tertimpa puing puing pesawat. Berhuntung aku masih bisa selamaf dan berjalan menuju rumah sakit ini." Tuturnya.
"Aku frustasi saat mendengar penjelasan dokter bahwa kakiku harus di ampulasi. Aku putus asa. Rasanya aku ingin mati saja. Tak ada siapa siapa di sampingku. Mom, Dan dan kau. Aku sangat menderita saat itu." Lanjutnya lagi.
"Nic--"
"Hingga akhirnya dokter menyemangati ku dan menawariku C-Leg buatan Jerman yang katanya canggih. Mungkin dokter itu iba melihatku. Setelah 4 hari menunggu, akhirnya aku mendapatkan C-Leg ini." Tuturnya sambil menepuk kaki kirinya.
"Kau harus sabar ya, Nic. Setidaknya kau sudah mendapatkan C-Leg yang bisa membantumu untuk berjalan normal kembali." Ucapku.
"Tidak. Kau tidak merasakannya, Rachel. Kau tidak menderita. Kau masih sempurna sedangkan aku? Apa? Aku--"
"Shut up, Nic. Kau pikir aku tidak menderita? Sejak pertama kali aku mendengar berita tentang jatuhnya pesawat yang kau tumpangi, aku kehilangan arah. Sudah lebih dari seminggu aku tidak mendapat kabarmu. Kau pikir aku baik baik saja? Tidak! Aku menderita, Nic." Tuturku.
Ia diam membisu. Aku terdiam. Hingga aku memutuskan untuk lanjut berbicara.
"Bahkan aku sampai 4 hari tak sadarkan diri di rumah sakit. 2 hari di rawat setelah aku sadar. Akh menderita, Nic. Dan bahkan aku sempat mencoba untuk.." Ucapanku kali ini terputus. Nichole menatapku dalam seolah memintaku untuk melanjutkannya. Aku menarik napas dalam.
"Bunuh diri." Lanjutku.
Diam.
Tak ada reaksi apapun. Aku terdiam, begitu juga Nichole. Astaga aku memberitahukannya. Sepertinya ini bukan keputusan yang tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of the bad Experience -One Direction-
Fanfiction[COMPLETED] 'Dari hidupku ini, aku bisa mengambil banyak pelajaran. Ada orang egois yang ternyata bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh orang lain hanya karena mengikuti egonya. Ada orang yang aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengannya...
