Sorry for typo(s)
**
Rachel pov--
Aku menatap kosong dari balkon kamarku sembari memegang selembar kertas yang sudah lecek. Hari sudah menuju pukul 22.00 dan aku tak bisa tidur. Aku masih memikirkan perkataan Zayn dan kertas ini.
Terror itu datang lagi, tapi berbeda dengan sebelumnya. Aku menatap kertas lecek ini dengan perasaan campur aduk. Kesal, heran, penasaran, dan takut.
Aku menatapnya. Kertas ini. Membaca kalimatnya lagi. Entah sudah berapa kali ku ulang ulang.
'Welcome to my game! Hope you enjoy it. -Y HB.'
Huh, aku muak dengan semua ini. Aku pun mengeluarkan ponselku dan dengan cepat mengetik nomor Nichole yang sudah ku hapal sejak lama.
"Hallo?" ucap seseorang di sebrang telepon.
"Hi, Nic. Bagaimana kabarmu?" Tanyaku basa basi.
"I'm fine. Kalau aku kenapa napa aku sudah memberitahukannya padamu." Balasnya sedikit terkekeh.
"Hmm" Gumamku pelan.
"Bagaimana denganmu? Apa kau baik baik saja? Dan apa sudah ada perkembangan soal Niall? Bagaimana dengan Zayn? Ia masih menjagamu bukan? Dan oh ya! Bagaimana dengan pelayan pribadimu? Apa kau senang dengan kehadirannya?" Tuturnya dengan memberikanku pertanyaan yang entah berapa jumlahnya itu.
"Bisakah kau tidak menanyakan semua pertanyaan itu sekaligus? Bahkan kau tidak memberiku kesempatan untuk bernafas." Ucapku sarkastik.
"Huh, baiklah. Sekarang bernafaslah." Serunya.
"For God's sake, bukan begitu maksudku. Kau tidak paham sarcasm?" Ucapku geram.
"Haha. Hanya bercanda, sweety. Sekarang jawablah semua pertanyaanku tadi."
"Mulai dari mana aku harus menjawabnya?" Ucapku bertanya.
"Hufft. Terserahmu lah, Rachel. Aku hanya butuh ceritamu saja."
"Uhh, baiklah. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu tadi. Pertama, aku baik baik saja. Bahkan obat yang di berikan Dr. Henry sudah habis. Kedua, soal Niall. Mungkin akan sedikit panjang. Tadi siang saat istirahat aku terbangun dari tidurku. Kau tahu, pelajaran Kimia. Aku menatap sekitar. Kosong. Hingga tatapanku berhenti pada Niall yang tengah tertidur juga di sudut kelas, tumben sekali. Aku membangunkannya perlahan, awalnya. Hingga kesabaranku habis, aku berteriak sambil mengguncang badannya, alhasil ia terlonjak. Tapi anehnya ia berteriak namaku di saat matanya masih terpejam. Sempat berpikir bahwa ia memimpikan ku. Setelahnya aku bertanya seperti biasa, apa yang terjadi dengannya, mengapa menjahuiku dan aku juga sempat meminta maaf dengannya. Belum selesai aku berkata, Niall langsung membawaku ke dalam pelukanku--" Ucapanku terputus.
"Whoaa! Seriously??" Teriak Nichole.
"Nic, kalau tau begini aku tak akan menelponmu lagi." Ucapku sambil mengelus elus telingaku.
"Haha, maafkan aku. Hanya reaksi saja. Lanjut."
"Setelah beberapa saat ia memelukku, ia berkata tolong jauhi dia. Ia sampai memohon. Aku tak mengerti maksudnya."
"Hey, labil sekali dia." Komentar Nichole.
"Hmm, kemudian aku keluar kelas sambil membanting pintu. Dan the end!" Seruku.
"Ya lah, terserahmu. Lanjut ke pertanyaan ketiga."
"Dan Zayn. Ya, dia masih bersamaku. Tapi barusan tadi sore ia memberitahukanku sesuatu yang dari tadi ku pikirkan--"
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of the bad Experience -One Direction-
Fanfic[COMPLETED] 'Dari hidupku ini, aku bisa mengambil banyak pelajaran. Ada orang egois yang ternyata bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh orang lain hanya karena mengikuti egonya. Ada orang yang aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengannya...
