Author pov--
"Zayn sudah bercerita padaku." Ucap Niall pada lawan bicaranya kali ini. Nichole.
"Apa saja yang ia katakan padamu?" Tanya Nichole.
"Yeah, I think it is not unreasonable. Dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sesuatu yang memaksa dirinya untuk membenci orang lain." Ucal Niall.
"Dan orang itu Rachel, right?" Potong Nichole.
"Yeah, dan yang tidak masuk akal, mengapa otak orang bisa seperti terprogram untuk membenci bahkan menyakiti orang lain? Is that possible, Nic?"
"I think, No. He lied." Balas Nichole mantap.
"Tapi dari raut wajahnya terlihat ia tidak sedang berbohong, Nic."
"You're defending him, huh?"
"No, no. Bukan begitu maksudku. Aku pikir ia berkata yang sejujurnya, Nic. Tidak salah kan kalau kita mempercayainya?"
"What ever." Balas Nichole malas sambil meneguk hot chocolate nya.
"So?" Lanjut Nichole.
"Dia meminta bantuanku." Balas Niall.
"What for?"
"Untuk tidak membenci Rachel, membuat mereka lebih dekat, mungkin?" Balas Niall dengan menunjukkan raut wajah bingungnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah, untuk itu aku belum tahu. Apa kau ada ide, Nic?"
"Hmm.." Nichole kembali meneguk hot chocolatenya.
"Oh ya, satu lagi." Ucap Niall tiba tiba membuat Nichole tersentak.
"Ah, maafkan aku telah mengagetkanmu. Tentang Rachel." Lanjut Niall.
"What's happened? Apa dia ada masalah??" Tanya Nichole.
"Nope, aku tadi baru bertanya padanya, apa dia juga merasakan hal yang sama dengan Zayn."
"Jadi kau memberitahukannya tentang hal ini?" Sentak Nichole.
"Ow ow, tidak. Aku hanya bertanya apa yang ia rasakan jika bertemu atau sekedar melihat Zayn." Balas Niall lagi.
"Oh."
"Just oh?" Tanya Niall heran.
"Lalu mau apa?"
"Pffft--"
"So give me a solution, Nic." Lanjut Niall.
"Aku tak tahu, Ni. Lakukan saja apa yang menurutmu paling baik, aku serahkan semua padamu. Lusa aku kembali ke New York." Balas Nichole.
"What? Secepat itu kah? Bahkan kau belum melewatkan musim gugur di sini."
"Liburku sudah selesai, Ni. Kabarkan aku jika ada perkembangan."
"Pfft, baiklah." Balas Niall pasrah.
Di kejauhan, seseorang duduk sendirian dengan memakai hodie dan juga kacamata hitamnya. Tanpa mereka sadari, sedari tadi orang itu memperhatikan mereka. Bahkan mendengar semua pembicaraan mereka. Terlihat senyum licik di wajahnya.
"I got you, Zayn. My plan worked."
**
Rachel pov--
Aku duduk di tepi kolam renang belakang rumahku. Sepi. Hanya ada aku, Bi Ijeng, dan beberapa pelayan. Bosan. Kemana dua annoying guy itu. Mereka berpergian tanpa mengajakku? Awas saja mereka.
Tiba tiba bunyi bel di seluruh penjuru rumah mengejutkanku. Memang bel listrik rumahku di pasang hingga ke seluruh penjuru rumah. Mengingat betapa besarnya rumah ini. Jika tidak menjangkau seluruh rumah, bisa bisa tak ada tamu yang berhasil memasuki rumah ini apabila satpam tidak mengizinkannya.
Aku segera bangkit dan mengeringkan kakiku dengan handuk yang sudah di siapkan dan berjalan menuju pintu utama.
Clek.
Terlihat dua lelaki berdiri di depan rumahku dengan kacamata hitam masing masing, menyinggungkan senyum mereka masing masing. No, bukan senyum menyeramkan. Melainkan senyum senyum nyengir. Okay, apa perlu ku beritahu siapa yang datang? Yeah, Niall dan Nichole.
"DARI MANA SAJA KALIAN??! DENGAN TEGANYA MENINGGALKAN GADIS CANTIK, IMUT DAN LUCU INI MATI KEBOSANAN DI RUMAH SENDIRIAN?!" Teriakku tepat di depan wajah mereka.
"RACHEL! We have two ears are still functioning!" Balas Nichole dengan teriakkannya.
"Okay okay, where have you been?" Tanyaku menurunkan volume suara emasku.
"Starbucks." Balas Niall santai.
"WHATT? Where's my green tea latte??!" Ucapku lagi dengan sedikit berteriak.
"WE HEAR YOU, RACHEL. Can you not shout??!" Ucap Nichole geram.
"AHAHAA! I like your face, Nic. Okay, where is my lovely green tea, My annoying guy?" Tanyaku dengan suara yang terdengar 'sok' lembut.
"Tidak ada." Balas mereka kompak.
"Alright, bye!" Ucapku dan langsung mengunci pintu tanpa membiarkan mereka masuk.
"RACHEL!! OPEN THE DOOR!" Bisa ku dengar teriakkan mereka berdua.
"Never without green tea!" Balasku dari dalam. Terdengar mereka mendesah geram.
"LET US IN!"
"Green tea!!"
"Ayolah, Rachel. Atau aku akan membocorkan rahasiamu pada your lovely brother ini?" Ucap seseorang. Niall.
Dengan segera aku membuka pintu dan menatap geram ke arak Niall.
"Wow! Ada sesuatu yang tersembunyikan. Apa yang aku tak tahu, Ni?" Ucap Nichole dengan nada jahilnya.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Tidak ada, Ni. Semua kan sudah ku beritahu tadi di starbucks." Balas Niall enteng.
"Rahasia apa yang kau katakan padanya, Niyell?!" Ucapku geram.
"Yang......"
"Niall!!"
"Nothing!! AHAHHAA! Kabuuur!" Teriak Niall dan langsung berlari ke dalam rumah.
"NIALL!!" Teriakku geram.
"AHAA, oh barbie, you look so fool." Ucap seseorang di sampingku dengan tertawa khasnya. Siapa lagi kalau bukan Nichole.
"And you! I will kill you!" Ucapku dan langsung berjalan meninggalkannya dengan tertawa yang sudah menggelegar di ruang depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of the bad Experience -One Direction-
Fanfiction[COMPLETED] 'Dari hidupku ini, aku bisa mengambil banyak pelajaran. Ada orang egois yang ternyata bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh orang lain hanya karena mengikuti egonya. Ada orang yang aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengannya...
