Keep reading+votee!!
Sorry for typo(s)
**
Rachel pov--
Aku dan Zayn sudah sampai di bandara New York sekarang. Setelah semua barang barang kami ambil, Zayn langsung memesan taksi yang langsung mengantar kami ke rumah sakit di mana Mom dan Dad di rawat. Sekarang sudah malam. Tapi aku memaksakan untuk langsung kerumah sakit.
Dan tibalah kami di Mount Sinai Medical Center, New York. Ya, itu nama rumah sakit tempat di mana orang tuaku di rawat.
Segera aku mengecek ponselku untuk melihat pesan yang di kirim Nichole. ICU lantai 5, No. 3. Got it!
Aku dan Zayn menggeret koper masing masing memasuki Lift. Yeah, kami tidak sempat ke rumahku dulu ataupun apertement Nichole yang sebenarnya jaraknya tak jauh dari sini. Sebenarnya Zayn sudah mengajakku untuk pulang dan beristirahat dan baru mengunjungi Mom dan Dad esok hari, namun aku memaksanya. Aku harus melihat kondisi orang tuaku. Hari ini juga.
Kami memasuki lift. Zayn menekan tombol untuk menutup pintu lift dan menekan tombol yang tertulis angka lima. Lift ini kosong. Tidak, hanya ada aku dan Zayn. Mataku bengkak akibat menangis sepanjang perjalanan. Tetapi dengan sigap Zayn menenangkanku.
Hening.
Itulah yang terjadi di antara kami berdua. Di dalam lift yang sepi ini. Siapapun tolong masuk lift ini. Agar tak ada kecanggungan di antara kami.
Aku memikirkan kenangan menyenangkan yang pernah ku lalui selama ini untuk melupakan sejenak masalah masalahku. Tetapi sepertinya keputusanku salah. Aku jadi teringat kenanganku bersama Niall. Ah, dia lagi.
Tanpa ku sadari air mataku menetes. Lagi. Untuk ke sekian kalinya. Kali ini bukan karena Mom dan Dad, terror ataupun Nichole. It's Niall. Lelaki itu lagi. Bisakah kau melupakannya sejenak, Rachel?
"Rachel nanti-- whoaa! Kau menangis lagi!" Pekik Zayn.
"Hah? I'm not, Zay." Ucapku dengan cepat menyeka air mataku.
"Liar. Kau harus bersabar, Rachel. Semua pasti akan indah pada waktunya. Tuhan hanya menguji kesabaranmu." Tutur Zayn.
"Come here." Lanjutnya sembari merentangkan tangannya. Ia merangkulku sejenak, kemudian membawaku ke dalam pelukannya.
Zayn. Walau kita baru bertemu, tetapi kau tahu persis apa yang kubutuhkan.
"Thanks, Zay." Ucapku lirih.
"Anything for you, Richel." Balasnya sembari mengusap pelan rambutku.
"Maafkan aku merepotkanmu. Aku hanya shock tentang berita itu. Dan, aku hanya. Aku hanya sedih mengenangnya. Kau tahu? Di saat rapuh seperti ini, Niall yang biasanya membantuku untuk kembali tegar. Ia yang menenangkanku. Dan sekarang ia menjahuiku begitu saja. Aku tidak marah. Aku hanya sedih melihat sikapnya yang berubah begitu saja. Mungkin ia sudah lelah menghibur gadis payah, lemah sepertiku--"
"Sssh.." Zayn mengeratkan pelukannya.
"But, thank, Zayn. Kau ada untukku di saat Niall tak ada. Terimakasih telah menggantikan posisinya dan menenangkanku." Lanjutku.
Zayn melonggarkan pelukannya. Ia menatap mataku dalam. Aku mencoba mengalihkan pandanganku. Aku tak mampu menatap mata Hazel itu. Tetapi dengan sigap Zayn meraih daguku, aku menatapnya.
Zayn memajukan wajahnya. Oh tidak. Apa yang ia lakukan? Hidung kami bersentuhan. Aku memejamkan mataku. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Jarak antara kami tipis sekali. Mungkin 3 cm. Dan tiba tiba..
Ting!
"Holly shit!" Umpat seseorang. Spontan aku dan Zayn menjauhi satu sama lain. Aku menatap orang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of the bad Experience -One Direction-
Fanfiction[COMPLETED] 'Dari hidupku ini, aku bisa mengambil banyak pelajaran. Ada orang egois yang ternyata bisa melakukan apa saja, bahkan membunuh orang lain hanya karena mengikuti egonya. Ada orang yang aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengannya...
