BAB 5 // Sania Deana

799 82 14
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu :)
ya kali baca doang 😭😭

Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆

Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Si kembar
(Mesha dan Nesha)

Si kembar(Mesha dan Nesha)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Heppy Reading....

Vote, komen & share


Rain melangkah cepat menuruni tangga dengan menenteng  tas di bahu sebelah kirinya. Gadis berambut pendek itu turun dari lantai atas dan segera menuju dapur di lantai dasar rumahnya.

"Mbak Ana tolong cek Ara di kamarnya," perintahnya kepada salah satu asisten rumah tangganya.

"Siap mbak, saya permisi naik dulu kalau gitu." Mbak Ana menunduk sopan dan berlalu pergi meninggalkan Rain yang sibuk membuat sandwich

Sebelum dirinya bersiap dengan seragamnya Rain sudah memastikan isi tas Ara terlebih dahulu. Sekarang dirinya berganti untuk menyiapkan bekal untuk adik perempuannya itu. 

Tidak lama Ara datang dengan tangan menenteng sepatu diikuti Mbak Ana membawakan tasnya. "Hari ini adek mau bawa buah apa?" tanya Rain saat adiknya sudah duduk di meja makan untuk sarapan sereal dan susu. 

"Buah dragon aja kak," jawab Ara dengan wajah ceria. 

Rain terkekeh pelan mendengar jawaban menggemaskan adiknya itu, "Dragon fruit dek," koreksi Rain dengan tangan sibuk menaruh sandwich kedalam wadah bekal. 

"Mbak Ana tolong kupas buah naga di kulkas dong, di potong dadu aja." Setelah memakaikan dasi di leher Ara, Mbak Ana segera mendekat ke arah pantry untuk melaksanakan perintah bos mudanya itu. 

Setelah sandwich-nya siap Rain menuangkan susu dari kulkas, ia mendekat di tempat adiknya berada dan menarik satu kursi disamping adiknya. Rain mengoleskan selai coklat di satu roti dan selai kacang di roti yang lain untuk dirinya sarapan.

"Adek udah siap?" tanya Rain seraya mengunyah cepat rotinya. Setelah melihat jam di pergelangan tangan sebelah kirinya Rain segera beranjak dari duduknya, bertepatan juga Mbak Ana menaruh kotak bekal berwarna biru muda lengkap dengan botol minum. Di rasa semuanya siap Rain segera mengambilnya lalu menaruhnya di dalam tas adiknya dan menggandeng Ara keluar. Diluar mobilnya sudah di siapkan Reza— selaku supir pribadi di rumahnya. 

Rain membukakan pintu untuk adiknya dan disusul dirinya duduk di kursi pengemudi, tidak lupa sebelum menjalankan mobil Rain melilitkan safety belt di badan mungil Ara. "Makasih kak," ucap Ara dengan senyuman manis yang dibalas tepukan kecil di kepala. 

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang